Ilustrasi pencernaan (Sumber gambar: Freepik)

Kasus Meningkat, Radang Usus Butuh Penanganan Serius

03 August 2025   |   13:30 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Seiring dengan meningkatnya gaya hidup tak sehat, gangguan pencernaan mulai banyak menyerang usia muda. Salah satunya radang usus atau inflammatory bowel disease (IBD), yang termasuk dalam kelompok penyakit autoimun yang ditandai dengan peradangan kronis pada saluran pencernaan.

Meski gejalanya sering tampak sepele seperti diare atau nyeri perut, kondisi ini bisa berkembang menjadi komplikasi serius bila tidak ditangani dengan tepat mulai dari gangguan kulit dan sendi hingga risiko kematian.

Baca juga: Mengenal Penyakit Radang Usus & Bahaya Komplikasinya

IBD terbagi menjadi beberapa jenis utama, yakni Ulcerative Colitis (UC), Crohn’s Disease (CD), serta bentuk yang belum terklasifikasi, Colitis Indeterminate. Masing-masing memiliki risiko komplikasi yang berbeda, misalnya UC dapat menyebabkan pembengkakan usus besar beracun atau bahkan lubang di usus, sementara CD berisiko menimbulkan sumbatan saluran cerna dan malnutrisi berat.

Di Indonesia, kesadaran masyarakat terhadap IBD masih rendah. Banyak yang belum mampu membedakan diare biasa dengan diare akibat radang usus. Padahal, menurut data studi global dari  1990 hingga 2017, jumlah kasus IBD meningkat hampir dua kali lipat secara global dari 3,7 juta menjadi 6,8 juta kasus.

Melihat beban penyakit yang besar ini, sejumlah rumah sakit mulai mengembangkan layanan yang lebih terintegrasi. Salah satunya adalah RS Abdi Waluyo yang membangun pusat perawatan khusus untuk penyakit ini, atau dikenal sebagai IBD Center. Fasilitas ini menyediakan layanan multidisiplin dari gastroenterologi, bedah digestif, hingga dukungan psikososial dan nutrisi klinik.

Menurut Dokter Spesialis Dalam dan Subspesialis Gastroenterologi Marcellus Simadibrata, pendekatan komprehensif sangat penting dalam penanganan IBD. Pasien biasanya memerlukan pengobatan jangka panjang, bahkan kadang perlu operasi jika terjadi kerusakan parah di saluran pencernaan. Dia menambahkan, selain pengobatan, pasien juga memerlukan dukungan psikologis, pemantauan berkala, serta evaluasi risiko komplikasi jangka panjang.

Diagnosis IBD tidak hanya dilakukan berdasarkan keluhan klinis seperti nyeri perut atau buang air berdarah, tetapi juga melibatkan berbagai pemeriksaan penunjan dari pemeriksaan darah, feses, hingga endoskopi dan imaging seperti CT scan dan MRI.

Sebagai bagian dari penguatan layanan dan edukasi, RS Abdi Waluyo juga aktif menjalin kerja sama internasional termasuk dengan University of Chicago yang dikenal sebagai pusat riset IBD global. Melalui kolaborasi ini, dilakukan pertukaran pengetahuan, diskusi kasus, hingga pelatihan tenaga medis.

Meningkatnya penyakit ini membuktikan radang udus bukan sekadar gangguan pencernaan biasa. Di balik gejala yang tampak umum, tersimpan potensi gangguan kesehatan serius yang memerlukan pendekatan multidisiplin dan berkelanjutan.

Menurutnya, dukungan fasilitas, edukasi, serta akses terhadap layanan yang tepat menjadi bagian penting dalam upaya menekan dampaknya terhadap kualitas hidup penderitanya.

Tak hanya untuk kalangan dokter, edukasi juga ditujukan untuk masyarakat luas. Webinar bertema Mengenal Lebih Dekat Penyakit Radang Usus (IBD) akan diselenggarakan pada akhir Agustus 2025. Harapannya, kegiatan ini dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya deteksi dini dan pengelolaan IBD secara tepat.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Dimulai 4 Agustus, Program Cek Kesehatan Gratis Sasar 53 Juta Siswa Hingga Akhir 2025

BERIKUTNYA

My Daughter Is a Zombie Raih 1 Juta Penonton Tercepat di Box Office Korea 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga