Sorotan di FTP Jaksel 2025: Pelajar Perempuan Dominasi Tim Produksi
03 August 2025 |
08:00 WIB
1
Like
Like
Like
Gelaran Festival Teater Pelajar Jakarta Selatan (FTP Jaksel) 2025 baru saja usai. Ajang teater paling bergengsi di kalangan pelajar SMA se-Jaksel ini telah menemukan tiga kelompok terbaik yang akan melaju ke tingkat DKI Jakarta, yakni Teater TerasonTime, Teater 70, dan Teater Bias.
FTP Jaksel adalah ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Selatan yang bekerja sama dengan komunitas Sintesa (Simpul Interaksi Teater Jakarta Selatan). Mengangkat tema Ber.Tum.Buh, penyelenggaraan tahun ini mencoba merefleksikan proses kreatif dan perjalanan emosi para pelajar melalui medium teater.
Baca juga: Daftar Pemenang Festival Teater Pelajar Jakarta Selatan 2025
Pelaksana Tugas Kepala Seksi Pembinaan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Selatan, Hubazurine Indol, mengaku bersyukur bahwa gelaran FTP Jaksel tahun ini sukses digelar. Tak hanya itu, dirinya juga menilai perlombaan teater pelajar di Jaksel edisi ini berjalan lebih meriah.
Menurutnya, antusiasme pelajar dalam mengikuti festival ini memang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2025, tercatat terdapat 14 kelompok teater dari berbagai wilayah turut ambil bagian.
Namun, peningkatan ini tidak hanya dari sisi partisipasi. Menurut Hubazurine, kualitas pertunjukan yang ditampilkan tahun ini juga menunjukkan perkembangan yang positif. Dia berharap ajang ini bisa terus menjadi wadah lahirnya talenta-talenta baru di dunia teater, baik di tingkat Jakarta maupun nasional.
“Semoga tim yang terpilih bisa membawa hasil yang baik di tingkat DKI Jakarta. Tahun ini jelas ada peningkatan dari tahun sebelumnya,” ujarnya kepada Hypeabis.id
Sementara itu, Mariyo Suniroh selaku juri festival turut memberikan pembacaan menarik sepanjang gelaran FTP Jaksel tahun ini. Dia mencatat bahwa secara bentuk pertunjukan, apa yang ditampilkan oleh kelompok teater pelajar sudah menunjukkan keberagaman yang menarik.
Mariyo menyebut selama pentas, kelompok teater ada yang membawakan devising theatre, musikal, realisme, hingga realisme simbolik. "Namun, kalau bicara kecenderungan, memang masih banyak yang bermain-main di area musikal," ungkap Mariyo.
Terkait peningkatan kualitas produksi, Mariyo mencatat bahwa gagasan-gagasan yang diangkat dalam pertunjukan tahun ini juga makin bervariasi. Dia juga melihat perkembangan yang jelas pada unsur-unsur dasar seperti akting, penataan pemain, dan pengarahan dari sutradara dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Meski pertunjukan di Festival Teater Pelajar Jakarta Selatan tahun ini terbilang menarik, terdapat sejumlah catatan kritis juga yang muncul. Salah satu juri lainnya, Haifa Marwan atau yang akrab disapa Ipeh memberikan sorotan soal pemilihan naskah.
Menurutnya, tak sedikit kelompok yang mementaskan naskah yang belum sepenuhnya matang dan masih membutuhkan penyempurnaan. Kurangnya kekuatan naskah membuat pertunjukan di atas panggung tidak bisa tampil maksimal. Padahal, naskah merupakan elemen penting dalam pertunjukan teater.
Dalam artian, jika dasarnya lemah, aspek-aspek lain juga ikut terdampak. Namun, Ipeh memahami kondisi ini. Sebab, tahun ini tak sedikit kelompok teater pelajar yang harus menulis naskahnya sendiri karena minimnya pilihan naskah drama yang sesuai dengan usia mereka.
Kondisi ini sangat berbeda dibanding beberapa dekade lalu, ketika lebih banyak naskah remaja yang tersedia. Situasi semakin menantang saat para pelajar mencoba membawakan naskah yang sejatinya ditulis untuk karakter dewasa.
Dalam konteks tersebut, Ipeh melihat masih banyak keterbatasan, terutama dalam menyampaikan peran yang secara emosional dan pengalaman ketubuhan mereka memang masih belum bisa terjangkau. "Kadang mereka memerankan karakter orang tua, tapi tubuh dan pengalaman mereka belum bisa menjangkau kedalaman peran itu sepenuhnya," ungkapnya.
Dirinya menilai hal ini bukan karena semata kurangnya kemampuan para pelajar, tetapi lebih pada ketimpangan antara pilihan naskah yang tersedia dengan usia dan pengalaman mereka. Menurutnya, ini menjadi tantangan besar bagi dunia teater pelajar saat ini.
Di balik kritik yang disampaikan, Ipeh juga menyoroti hal positif dari penyelenggaraan tahun ini. Dia melihat semakin banyak pelajar perempuan yang terlibat aktif, bahkan mendominasi peran penting di balik panggung.
Baik Ipeh maupun Mariyo sama-sama mencatat bahwa keterlibatan pelajar perempuan kali ini sangat menonjol. Banyak kelompok teater yang dipimpin oleh perempuan, mulai dari sutradara, pimpinan produksi, hingga tim artistik.
Mariyo menilai fenomena ini menarik untuk ditelaah lebih jauh. Dia pun mempertanyakan apakah ini mencerminkan pola baru di lingkungan sekolah atau ada faktor lain yang mendorong perempuan lebih aktif di ranah teater pelajar. Sementara itu, Ipeh membacanya dari sudut yang berbeda.
"Semoga ini pertanda dunia teater kini telah menjadi ruang yang makin aman dan nyaman bagi perempuan untuk berekspresi dan berkarya," pungkas Ipeh.
Mariyo dan Ipeh juga berharap FTP Jaksel terus berkembang sebagai ruang yang mendukung lahirnya generasi baru di dunia teater. Selain itu, festival juga dapat menjadi wadah regenerasi yang sehat, terbuka, dan inklusif bagi para pegiat teater muda.
Sebagai informasi, gelaran FTP Jaksel telah selesai digelar pada 21-27 Juli 2025. Selama sepekan, 14 teater yang terdiri dari Teater Alpus, Teater Detik, Teater 70, Teater Sembilu, Teater TerasonTime, Teater Thelapan, Teater Bamboe Percik, Teater Hangtuah, Teater V.A.E, Teater Bias, Teater Gong, Teater D’Bogem, Teater Rumi, dan Teater Theavity tampil secara bergiliran.
Masing-masing penampilan mereka kemudian dinilai oleh para profesional di bidang teater, yakni Andi Bersama, Mariyo Suniroh, dan Haifa Marwan alias Ipeh Cupachabra. Adapun, pembacaan pemenang dan acara penganugerahannya dilakukan pada Sabtu, 2 Agustus 2025, di Gedung Pertunjukan, Gelanggang Remaja Jakarta Selatan, Bulungan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
FTP Jaksel adalah ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Selatan yang bekerja sama dengan komunitas Sintesa (Simpul Interaksi Teater Jakarta Selatan). Mengangkat tema Ber.Tum.Buh, penyelenggaraan tahun ini mencoba merefleksikan proses kreatif dan perjalanan emosi para pelajar melalui medium teater.
Baca juga: Daftar Pemenang Festival Teater Pelajar Jakarta Selatan 2025
Pelaksana Tugas Kepala Seksi Pembinaan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Selatan, Hubazurine Indol, mengaku bersyukur bahwa gelaran FTP Jaksel tahun ini sukses digelar. Tak hanya itu, dirinya juga menilai perlombaan teater pelajar di Jaksel edisi ini berjalan lebih meriah.
Menurutnya, antusiasme pelajar dalam mengikuti festival ini memang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2025, tercatat terdapat 14 kelompok teater dari berbagai wilayah turut ambil bagian.
Namun, peningkatan ini tidak hanya dari sisi partisipasi. Menurut Hubazurine, kualitas pertunjukan yang ditampilkan tahun ini juga menunjukkan perkembangan yang positif. Dia berharap ajang ini bisa terus menjadi wadah lahirnya talenta-talenta baru di dunia teater, baik di tingkat Jakarta maupun nasional.
“Semoga tim yang terpilih bisa membawa hasil yang baik di tingkat DKI Jakarta. Tahun ini jelas ada peningkatan dari tahun sebelumnya,” ujarnya kepada Hypeabis.id
Sementara itu, Mariyo Suniroh selaku juri festival turut memberikan pembacaan menarik sepanjang gelaran FTP Jaksel tahun ini. Dia mencatat bahwa secara bentuk pertunjukan, apa yang ditampilkan oleh kelompok teater pelajar sudah menunjukkan keberagaman yang menarik.
Mariyo menyebut selama pentas, kelompok teater ada yang membawakan devising theatre, musikal, realisme, hingga realisme simbolik. "Namun, kalau bicara kecenderungan, memang masih banyak yang bermain-main di area musikal," ungkap Mariyo.
Terkait peningkatan kualitas produksi, Mariyo mencatat bahwa gagasan-gagasan yang diangkat dalam pertunjukan tahun ini juga makin bervariasi. Dia juga melihat perkembangan yang jelas pada unsur-unsur dasar seperti akting, penataan pemain, dan pengarahan dari sutradara dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Meski pertunjukan di Festival Teater Pelajar Jakarta Selatan tahun ini terbilang menarik, terdapat sejumlah catatan kritis juga yang muncul. Salah satu juri lainnya, Haifa Marwan atau yang akrab disapa Ipeh memberikan sorotan soal pemilihan naskah.
Menurutnya, tak sedikit kelompok yang mementaskan naskah yang belum sepenuhnya matang dan masih membutuhkan penyempurnaan. Kurangnya kekuatan naskah membuat pertunjukan di atas panggung tidak bisa tampil maksimal. Padahal, naskah merupakan elemen penting dalam pertunjukan teater.
Dalam artian, jika dasarnya lemah, aspek-aspek lain juga ikut terdampak. Namun, Ipeh memahami kondisi ini. Sebab, tahun ini tak sedikit kelompok teater pelajar yang harus menulis naskahnya sendiri karena minimnya pilihan naskah drama yang sesuai dengan usia mereka.
Kondisi ini sangat berbeda dibanding beberapa dekade lalu, ketika lebih banyak naskah remaja yang tersedia. Situasi semakin menantang saat para pelajar mencoba membawakan naskah yang sejatinya ditulis untuk karakter dewasa.
Dalam konteks tersebut, Ipeh melihat masih banyak keterbatasan, terutama dalam menyampaikan peran yang secara emosional dan pengalaman ketubuhan mereka memang masih belum bisa terjangkau. "Kadang mereka memerankan karakter orang tua, tapi tubuh dan pengalaman mereka belum bisa menjangkau kedalaman peran itu sepenuhnya," ungkapnya.
Dirinya menilai hal ini bukan karena semata kurangnya kemampuan para pelajar, tetapi lebih pada ketimpangan antara pilihan naskah yang tersedia dengan usia dan pengalaman mereka. Menurutnya, ini menjadi tantangan besar bagi dunia teater pelajar saat ini.
Di balik kritik yang disampaikan, Ipeh juga menyoroti hal positif dari penyelenggaraan tahun ini. Dia melihat semakin banyak pelajar perempuan yang terlibat aktif, bahkan mendominasi peran penting di balik panggung.
Baik Ipeh maupun Mariyo sama-sama mencatat bahwa keterlibatan pelajar perempuan kali ini sangat menonjol. Banyak kelompok teater yang dipimpin oleh perempuan, mulai dari sutradara, pimpinan produksi, hingga tim artistik.
Mariyo menilai fenomena ini menarik untuk ditelaah lebih jauh. Dia pun mempertanyakan apakah ini mencerminkan pola baru di lingkungan sekolah atau ada faktor lain yang mendorong perempuan lebih aktif di ranah teater pelajar. Sementara itu, Ipeh membacanya dari sudut yang berbeda.
"Semoga ini pertanda dunia teater kini telah menjadi ruang yang makin aman dan nyaman bagi perempuan untuk berekspresi dan berkarya," pungkas Ipeh.
Mariyo dan Ipeh juga berharap FTP Jaksel terus berkembang sebagai ruang yang mendukung lahirnya generasi baru di dunia teater. Selain itu, festival juga dapat menjadi wadah regenerasi yang sehat, terbuka, dan inklusif bagi para pegiat teater muda.
Sebagai informasi, gelaran FTP Jaksel telah selesai digelar pada 21-27 Juli 2025. Selama sepekan, 14 teater yang terdiri dari Teater Alpus, Teater Detik, Teater 70, Teater Sembilu, Teater TerasonTime, Teater Thelapan, Teater Bamboe Percik, Teater Hangtuah, Teater V.A.E, Teater Bias, Teater Gong, Teater D’Bogem, Teater Rumi, dan Teater Theavity tampil secara bergiliran.
Masing-masing penampilan mereka kemudian dinilai oleh para profesional di bidang teater, yakni Andi Bersama, Mariyo Suniroh, dan Haifa Marwan alias Ipeh Cupachabra. Adapun, pembacaan pemenang dan acara penganugerahannya dilakukan pada Sabtu, 2 Agustus 2025, di Gedung Pertunjukan, Gelanggang Remaja Jakarta Selatan, Bulungan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.