Ini Sejarah, Makna Filosofi & Jenis Kebaya, Pakaian Simbol Identitas Wanita Indonesia
24 July 2025 |
20:20 WIB
Kebaya merupakan salah satu warisan budaya sekaligus menjadi simbol identitas perempuan Indonesia. Dari masa ke masa, kebaya tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai budaya, estetika, dan keberagaman dari berbagai daerah di Tanah Air.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebaya adalah baju perempuan bagian atas yang berlengan panjang serta dikenakan dengan kain panjang. Sementara itu, menukil dari situs Indonesia Baik, kebaya merupakan pakaian bagian atas yang memiliki karakteristik terbuka di bagian depan dan dibuat secara tradisional.
Baca juga: Sejarah Hari Kebaya Nasional yang Diperingati Tiap 24 Juli
Menjadi pakaian identik yang dikenakan perempuan Indonesia, kebaya melambangkan kesederhanaan, keanggunan, kelembutan, dan keteguhan perempuan Indonesia. Setiap unsur dalam sehelai kain kebaya melambangkan makna dan pesona perempuan Indonesia.
Modelnya yang sederhana dan dipakai dengan paduan bawahan jarik/kain panjang melambangkan sifat dan tampilan perempuan yang anggun. Sementara lilitan kain yang ketat sebagai bawahan kebaya mewakili karakter perempuan yang lembut dalam tutur kata dan halus dalam bertindak.
Lalu potongan kebaya yang mengikuti bentuk tubuh/melekat bermakna perempuan perlu bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dan mandiri. Adapun, stagen atau ikat pinggang kebaya menyimbolkan usus yang panjang, yang dalam filosofi Jawa bermakna punya kesabaran yang tinggi.
Sejarah Kebaya
Kebaya diyakini telah ada sejak 700 tahun silam, yang dianggap sebagai bagian dari 'kulit kebudayaan'. Hal tersebut tak lepas dari penggunaan kebaya yang dapat mencerminkan identitas, status, hierarki, gender, nilai simbolik serta ekspresi cara hidup seseorang.
Dilansir dari laman Ullen Sentalu, kemunculan kebaya di kepulauan Nusantara berawal dari ramainya perdagangan di Selat Malaka semasa Kesultanan Samudra Pasai, yang menjadi kekuatan hegemonik di kawasan perairan tersebut. Ramainya perdagangan itu disertai kehadiran bangsa-bangsa asing, yang lantas turut mempengaruhi perkembangan budaya berpakaian tak terkecuali kebaya.
Menurut buku Budaya Peranakan: Sejarah dan Budayanya (2018) karya Brillian Hidayah, ada beberapa teori yang berkaitan dengan sejarah kebaya. Teori pertama mengatakan bahwa kebaya berasal dari China, kemudian menyebar ke Malaka, Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulawesi.
Namun, teori ini memiliki kelemahan karena China tidak mengenal pakaian yang sepenuhnya mirip dengan kebaya yang kini dikenal di Indonesia. Di sisi lain, pada 700 tahun silam, China mengalami banyak peperangan di bawah kekuasaan Dinasti Mongol.
Sementara teori kedua datang dari masyarakat Nusantara khususnya Jawa. Disebutkan bahwa istilah kebaya berasal dari kata 'kebyak' atau 'mbayak'. Namun, teori ini juga terpatahkan karena istilah tersebut baru digunakan pada 400 tahun lalu, tepatnya pada periode Mataram Islam. Sebelum periode tersebut, perempuan Jawa masih menggunakan lilitan kain bernama kemben.
Masih dalam buku yang sama, sang penulis menyebutkan bahwa istilah kebaya berasal dari bahasa Arab 'abaya' yang berarti pakaian. Hal ini selaras dengan catatan China masa Dinasti Song (960-1279) yang mengatakan bahwa ada pengkhususan pakaian para utusan kerajaan Jawa, yaknni mengenakan pakaian yang mirip dengan pakaian orang Persia.
Sumber catatan itu mengindikasikan dua kemungkinan. Pertama, masyarakat Jawa telah memeluk Islam dan berpakaian layaknya orang Muslim dari Arab dan Persia. Kedua, masyarakat Jawa hanya mengadopsi budaya berpakaian orang-orang Arab atau Persia tanpa mempermasalahkan kepercayaan mereka (Hindu/Budha). Dengan demikian, kebaya kemungkinan merupakan hasil adaptasi budaya berpakaian dari Asia Barat.
Dikutip dari laman Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, dijelaskan bahwa mode pakaian orang Asia Barat pada 700 tahun lalu berupa baju kurung (kaftan), pakaian model tunik berlengan panjang.
Gaya pakaian tersebut digunakan dan dikembangkan oleh perempuan keturunan Arab dan Persia di Nusantara menjadi mode pakaian yang kemudian disebut kebaya. Namun, berbeda dengan baju kurung, kebaya memiliki pemisah belahan kain di bagian depan dada dan disatukan dengan kancing maupun peniti.
Kebaya umumnya dibuat dari bahan yang lembut dan tampak elegan seperti brokat, sutra, atau katun halus. Potongan kebaya cenderung mengikuti lekuk tubuh namun tetap sopan, dengan bagian depan yang terbuka dan kancing atau pengait di bagian tengah atau samping.
Kebaya biasanya dipadukan dengan wastra, seperti kain batik, songket, atau tenun tradisional, yang melambangkan harmoni antara estetika dan budaya. Di Indonesia, kebaya hadir dalam berbagai model dan desain. Berikut beberapa jenis kebaya yang populer di antaranya:
1. Kebaya Kutubaru
Kutubaru merupakan salah satu jenis kebaya yang sangat populer. Kebaya ini memiliki ciri khas sisi kiri dan kanannya dihubungkan oleh sepotong kain sebagai penutup yang disebut bef. Tak hanya itu, umumnya kebaya kutu baru juga memiliki lipatan pada bagian sisi kiri dan kanan dada yang semakin menambah elegan bentuknya. Penambahan bros pada area dada juga semakin mempermanis tampilan kebaya kutubaru.
2. Kebaya Jawa
Kebaya Jawa berasal dari era Kerajaan Majapahit pada abad ke-15. Kebaya ini banyak dikenakan oleh kalangan bangsawan di wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Ciri khasnya terletak pada kerah berbentuk V, panjang hingga pinggul atau lutut, dan bahan transparan seperti sutra atau brokat yang sering kali dilengkapi dengan bordiran emas di bagian lengan, leher, dan dada. Warna kebaya Jawa umumnya gelap, seperti hitam atau merah tua, dan sering digunakan dalam upacara adat atau pernikahan.
3. Kebaya Kartini
Seperti namanya, kebaya ini merupakan model baju yang dipakai oleh pahlawan nasional RA Kartini semasa hidupnya. Kebaya Kartini memiliki ciri khas pada bagian kerahnya yang punya lipatan vertikal mencapai bagian dada. Kebaya klasik ini juga memiliki bentuk potongan yang panjang, sehingga bisa membuat pemakainya terlihat lebih ramping. Umumnya panjang kebaya Kartini bisa sampai bagian bokong atau panggul.
4. Kebaya Encim
Menjadi pakaian tradisional masyarakat Betawi, kebaya klasik satu ini memiliki ciri khas perpaduan antara baju Melayu dan Shanghai, yang merupakan hasil akulturasi budaya Betawi dan Tionghoa. Terbuat dari kain katun atau organza, kebaya encim memiliki hiasan bordir bermotif flora dan fauna di bagian kerah, ujung lengan dan bagian depan.
5. Kebaya Sunda
Kebaya Sunda memiliki kerah segilima atau model sabrina, dengan lengan sedikit melebar di ujung dan detail bordiran halus. Kebaya ini biasanya dipadukan dengan kain jarik atau sinjang bundel khas Sunda. Warna-warna cerah seperti merah muda, kuning, dan biru mendominasi, mencerminkan keceriaan dan keanggunan perempuan Sunda.
6. Kebaya Bali
Kebaya Bali dikenal dengan warna-warna cerah seperti kuning, merah muda, ungu, dan biru. Dilengkapi dengan obi atau kain ikat di pinggang sebagai penghias sekaligus pengingat simbolis untuk menjaga etika dan perilaku. Kebaya ini biasa dipadukan dengan kamen, yakni kain lilit khas Bali. Bahan yang digunakan umumnya brokat atau katun ringan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebaya adalah baju perempuan bagian atas yang berlengan panjang serta dikenakan dengan kain panjang. Sementara itu, menukil dari situs Indonesia Baik, kebaya merupakan pakaian bagian atas yang memiliki karakteristik terbuka di bagian depan dan dibuat secara tradisional.
Baca juga: Sejarah Hari Kebaya Nasional yang Diperingati Tiap 24 Juli
Menjadi pakaian identik yang dikenakan perempuan Indonesia, kebaya melambangkan kesederhanaan, keanggunan, kelembutan, dan keteguhan perempuan Indonesia. Setiap unsur dalam sehelai kain kebaya melambangkan makna dan pesona perempuan Indonesia.
Modelnya yang sederhana dan dipakai dengan paduan bawahan jarik/kain panjang melambangkan sifat dan tampilan perempuan yang anggun. Sementara lilitan kain yang ketat sebagai bawahan kebaya mewakili karakter perempuan yang lembut dalam tutur kata dan halus dalam bertindak.
Lalu potongan kebaya yang mengikuti bentuk tubuh/melekat bermakna perempuan perlu bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dan mandiri. Adapun, stagen atau ikat pinggang kebaya menyimbolkan usus yang panjang, yang dalam filosofi Jawa bermakna punya kesabaran yang tinggi.
Sejarah Kebaya
Kebaya diyakini telah ada sejak 700 tahun silam, yang dianggap sebagai bagian dari 'kulit kebudayaan'. Hal tersebut tak lepas dari penggunaan kebaya yang dapat mencerminkan identitas, status, hierarki, gender, nilai simbolik serta ekspresi cara hidup seseorang.
Dilansir dari laman Ullen Sentalu, kemunculan kebaya di kepulauan Nusantara berawal dari ramainya perdagangan di Selat Malaka semasa Kesultanan Samudra Pasai, yang menjadi kekuatan hegemonik di kawasan perairan tersebut. Ramainya perdagangan itu disertai kehadiran bangsa-bangsa asing, yang lantas turut mempengaruhi perkembangan budaya berpakaian tak terkecuali kebaya.
Menurut buku Budaya Peranakan: Sejarah dan Budayanya (2018) karya Brillian Hidayah, ada beberapa teori yang berkaitan dengan sejarah kebaya. Teori pertama mengatakan bahwa kebaya berasal dari China, kemudian menyebar ke Malaka, Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulawesi.
Namun, teori ini memiliki kelemahan karena China tidak mengenal pakaian yang sepenuhnya mirip dengan kebaya yang kini dikenal di Indonesia. Di sisi lain, pada 700 tahun silam, China mengalami banyak peperangan di bawah kekuasaan Dinasti Mongol.
Sementara teori kedua datang dari masyarakat Nusantara khususnya Jawa. Disebutkan bahwa istilah kebaya berasal dari kata 'kebyak' atau 'mbayak'. Namun, teori ini juga terpatahkan karena istilah tersebut baru digunakan pada 400 tahun lalu, tepatnya pada periode Mataram Islam. Sebelum periode tersebut, perempuan Jawa masih menggunakan lilitan kain bernama kemben.
Masih dalam buku yang sama, sang penulis menyebutkan bahwa istilah kebaya berasal dari bahasa Arab 'abaya' yang berarti pakaian. Hal ini selaras dengan catatan China masa Dinasti Song (960-1279) yang mengatakan bahwa ada pengkhususan pakaian para utusan kerajaan Jawa, yaknni mengenakan pakaian yang mirip dengan pakaian orang Persia.
Sumber catatan itu mengindikasikan dua kemungkinan. Pertama, masyarakat Jawa telah memeluk Islam dan berpakaian layaknya orang Muslim dari Arab dan Persia. Kedua, masyarakat Jawa hanya mengadopsi budaya berpakaian orang-orang Arab atau Persia tanpa mempermasalahkan kepercayaan mereka (Hindu/Budha). Dengan demikian, kebaya kemungkinan merupakan hasil adaptasi budaya berpakaian dari Asia Barat.
Dikutip dari laman Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, dijelaskan bahwa mode pakaian orang Asia Barat pada 700 tahun lalu berupa baju kurung (kaftan), pakaian model tunik berlengan panjang.
Gaya pakaian tersebut digunakan dan dikembangkan oleh perempuan keturunan Arab dan Persia di Nusantara menjadi mode pakaian yang kemudian disebut kebaya. Namun, berbeda dengan baju kurung, kebaya memiliki pemisah belahan kain di bagian depan dada dan disatukan dengan kancing maupun peniti.
Jenis-jenis Kebaya
Kebaya umumnya dibuat dari bahan yang lembut dan tampak elegan seperti brokat, sutra, atau katun halus. Potongan kebaya cenderung mengikuti lekuk tubuh namun tetap sopan, dengan bagian depan yang terbuka dan kancing atau pengait di bagian tengah atau samping.Kebaya biasanya dipadukan dengan wastra, seperti kain batik, songket, atau tenun tradisional, yang melambangkan harmoni antara estetika dan budaya. Di Indonesia, kebaya hadir dalam berbagai model dan desain. Berikut beberapa jenis kebaya yang populer di antaranya:
1. Kebaya Kutubaru
Kutubaru merupakan salah satu jenis kebaya yang sangat populer. Kebaya ini memiliki ciri khas sisi kiri dan kanannya dihubungkan oleh sepotong kain sebagai penutup yang disebut bef. Tak hanya itu, umumnya kebaya kutu baru juga memiliki lipatan pada bagian sisi kiri dan kanan dada yang semakin menambah elegan bentuknya. Penambahan bros pada area dada juga semakin mempermanis tampilan kebaya kutubaru.
2. Kebaya Jawa
Kebaya Jawa berasal dari era Kerajaan Majapahit pada abad ke-15. Kebaya ini banyak dikenakan oleh kalangan bangsawan di wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Ciri khasnya terletak pada kerah berbentuk V, panjang hingga pinggul atau lutut, dan bahan transparan seperti sutra atau brokat yang sering kali dilengkapi dengan bordiran emas di bagian lengan, leher, dan dada. Warna kebaya Jawa umumnya gelap, seperti hitam atau merah tua, dan sering digunakan dalam upacara adat atau pernikahan.
3. Kebaya Kartini
Seperti namanya, kebaya ini merupakan model baju yang dipakai oleh pahlawan nasional RA Kartini semasa hidupnya. Kebaya Kartini memiliki ciri khas pada bagian kerahnya yang punya lipatan vertikal mencapai bagian dada. Kebaya klasik ini juga memiliki bentuk potongan yang panjang, sehingga bisa membuat pemakainya terlihat lebih ramping. Umumnya panjang kebaya Kartini bisa sampai bagian bokong atau panggul.
4. Kebaya Encim
Menjadi pakaian tradisional masyarakat Betawi, kebaya klasik satu ini memiliki ciri khas perpaduan antara baju Melayu dan Shanghai, yang merupakan hasil akulturasi budaya Betawi dan Tionghoa. Terbuat dari kain katun atau organza, kebaya encim memiliki hiasan bordir bermotif flora dan fauna di bagian kerah, ujung lengan dan bagian depan.
5. Kebaya Sunda
Kebaya Sunda memiliki kerah segilima atau model sabrina, dengan lengan sedikit melebar di ujung dan detail bordiran halus. Kebaya ini biasanya dipadukan dengan kain jarik atau sinjang bundel khas Sunda. Warna-warna cerah seperti merah muda, kuning, dan biru mendominasi, mencerminkan keceriaan dan keanggunan perempuan Sunda.
6. Kebaya Bali
Kebaya Bali dikenal dengan warna-warna cerah seperti kuning, merah muda, ungu, dan biru. Dilengkapi dengan obi atau kain ikat di pinggang sebagai penghias sekaligus pengingat simbolis untuk menjaga etika dan perilaku. Kebaya ini biasa dipadukan dengan kamen, yakni kain lilit khas Bali. Bahan yang digunakan umumnya brokat atau katun ringan.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.