APDEC 2025: Pendidikan Sepatutnya Tak Hanya Jadi Sarana Mencari Pekerjaan
19 July 2025 |
16:30 WIB
Dunia terus berubah dengan cepat pada, baik dari sisi teknologi, iklim, dan sebagainya. Di sisi lain, generasi muda menghadapi pertanyaan tentang diri yang harus dijawab. Kondisi itu membuat pendidikan harus mampu membentuk masa depan yang lebih baik, tidak hanya mengikuti perubahan yang terjadi.
Ketua Penyelenggara Asia Pacific Democratic Education Conference (APDEC) 2025 Monika Irayati mengatakan semua pihak perlu memandang pendidikan sebagai perjalanan hidup yang menghargai pribadi seutuhnya, bukan hanya sebagai jalan untuk mendapatkan pekerjaan.
Salah satu caranya adalah dengan beralih dari sistem pendidikan yang hanya fokus terhadap angka, skor, dan peringkat. Indonesia memerlukan sistem pembelajaran yang manusiawi, lokal, terhubung, dan bermakna.
Jadi, dia meyakini bahwa pendidikan demokratis penting dalam membentuk masa depan yang lebih baik. Dia menuturkan, siswa harus memiliki suara dan pilihan. “Bahwa pembelajaran berasal dari rasa ingin tahu. Sekolah dapat menjadi komunitas tempat orang-orang saling peduli, bertanya, dan membuat keputusan bersama,” ujarnya di Bogor, Sabtu, 19 Juli 2025.
Baca juga: Lima Peran Strategis Pendidikan dalam Membentuk Pemimpin Masa Depan
Di dunia yang penuh ketidakpastian, nilai-nilai seperti empati, keadilan, dan tanggung jawab bukan sekadar mimpi, tapi jadi hal yang sangat penting. Selain itu, pada era kecerdasan buatan dan perubahan yang besar, pengetahuan bukan satu-satunya yang menjadikan individu sebagai manusia.
Namun, cara seseorang peduli, terhubung, dan membayangkan upaya-upaya baru untuk maju membentuk nilai yang fundamental. Dia menuturkan, individu akan mendapatkan itu semua dari pendidikan alternatif atau pendidikan demokratis.
Pada tahun ini, penyelenggara membuka APDEC dan Pernas JPA dengan mengundang banyak narasumber, sehingga peserta akan memperoleh pengetahuan yang luas dan bervariasi untuk menambah wawasan.
“Misalnya, Anda akan bertemu dengan para pendiri perusahaan teknologi; para petani; pengajar ekologi; pendidik jalanan yang bekerja dengan pemuda terlantar; akademisi yang mempelajari pengetahuan adat; dan aktivis budaya yang berbagi cara belajar kolektif,” katanya.
Monika mengatakan, penyelenggara berusaha menjadikan APDEC 2025 sebagai acara yang lebih inklusif lantaran membayangkan pendidikan pada masa depan bukan sesuatu yang bisa dilakukan sendiri. Konferensi ini akan terasa ramai, menyenangkan, dan pasti melibatkan banyak orang dan ide yang berbeda.
Dia mengajak semua pihak untuk menjadikan ajang ini sebagai laboratorium hidup, yakni tempat bereksperimen, mendengarkan, berbagi, dan bertumbuh. Tidak hanya itu, dia juga menginginkan semua peserta mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar.
“Harap diingat, ini bukan sekadar konferensi, ini sebuah gerakan. Dan ini milik kita semua,” katanya.
Untuk diketahui, APDEC 2025 dihadiri oleh partisipan internasional dari Korea Selatan, Jepang, India, Nepal, Australia, New Zealand, Taiwan, Singapura, Malaysia, hingga Thailand. Kehadiran mereka membuka peluang belajar lintas negara.
Taiwan, misalnya, dikenal sebagai salah satu negara paling progresif dalam mendukung pendidikan alternatif dan eksperimental, dengan kebijakan yang memungkinkan pendekatan belajar yang beragam dan inovatif.
Di Korea Selatan, beberapa pemerintah daerah bahkan membiayai sepenuhnya pendirian sekolah demokratis dan eksperimental, sebagai strategi akselerasi transformasi pendidikan untuk menciptakan warga yang lebih adaptif dan kreatif.
Di Jepang, banyak sekolah alternatif berkolaborasi erat dengan jaringan koperasi setempat, sehingga lulusan sekolah dapat langsung berdaya, bekerja, dan berkontribusi nyata di masyarakat.
Dalam forum ini, Indonesia juga memperkenalkan tokoh-tokoh pendidikan progresif seperti Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara, yang sudah sejak dulu menekankan pentingnya pendidikan yang memerdekakan, kontekstual, dan berpusat pada perkembangan karakter anak. Pemikiran mereka terbukti masih sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman sekarang.
Baca juga: Hypereport: Refleksi Pendidikan Indonesia, Menyongsong Era Baru Penuh Tantangan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Ketua Penyelenggara Asia Pacific Democratic Education Conference (APDEC) 2025 Monika Irayati mengatakan semua pihak perlu memandang pendidikan sebagai perjalanan hidup yang menghargai pribadi seutuhnya, bukan hanya sebagai jalan untuk mendapatkan pekerjaan.
Salah satu caranya adalah dengan beralih dari sistem pendidikan yang hanya fokus terhadap angka, skor, dan peringkat. Indonesia memerlukan sistem pembelajaran yang manusiawi, lokal, terhubung, dan bermakna.
Jadi, dia meyakini bahwa pendidikan demokratis penting dalam membentuk masa depan yang lebih baik. Dia menuturkan, siswa harus memiliki suara dan pilihan. “Bahwa pembelajaran berasal dari rasa ingin tahu. Sekolah dapat menjadi komunitas tempat orang-orang saling peduli, bertanya, dan membuat keputusan bersama,” ujarnya di Bogor, Sabtu, 19 Juli 2025.
Baca juga: Lima Peran Strategis Pendidikan dalam Membentuk Pemimpin Masa Depan
Di dunia yang penuh ketidakpastian, nilai-nilai seperti empati, keadilan, dan tanggung jawab bukan sekadar mimpi, tapi jadi hal yang sangat penting. Selain itu, pada era kecerdasan buatan dan perubahan yang besar, pengetahuan bukan satu-satunya yang menjadikan individu sebagai manusia.
Namun, cara seseorang peduli, terhubung, dan membayangkan upaya-upaya baru untuk maju membentuk nilai yang fundamental. Dia menuturkan, individu akan mendapatkan itu semua dari pendidikan alternatif atau pendidikan demokratis.
Pada tahun ini, penyelenggara membuka APDEC dan Pernas JPA dengan mengundang banyak narasumber, sehingga peserta akan memperoleh pengetahuan yang luas dan bervariasi untuk menambah wawasan.
“Misalnya, Anda akan bertemu dengan para pendiri perusahaan teknologi; para petani; pengajar ekologi; pendidik jalanan yang bekerja dengan pemuda terlantar; akademisi yang mempelajari pengetahuan adat; dan aktivis budaya yang berbagi cara belajar kolektif,” katanya.
Monika mengatakan, penyelenggara berusaha menjadikan APDEC 2025 sebagai acara yang lebih inklusif lantaran membayangkan pendidikan pada masa depan bukan sesuatu yang bisa dilakukan sendiri. Konferensi ini akan terasa ramai, menyenangkan, dan pasti melibatkan banyak orang dan ide yang berbeda.
Dia mengajak semua pihak untuk menjadikan ajang ini sebagai laboratorium hidup, yakni tempat bereksperimen, mendengarkan, berbagi, dan bertumbuh. Tidak hanya itu, dia juga menginginkan semua peserta mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar.
“Harap diingat, ini bukan sekadar konferensi, ini sebuah gerakan. Dan ini milik kita semua,” katanya.
Untuk diketahui, APDEC 2025 dihadiri oleh partisipan internasional dari Korea Selatan, Jepang, India, Nepal, Australia, New Zealand, Taiwan, Singapura, Malaysia, hingga Thailand. Kehadiran mereka membuka peluang belajar lintas negara.
Taiwan, misalnya, dikenal sebagai salah satu negara paling progresif dalam mendukung pendidikan alternatif dan eksperimental, dengan kebijakan yang memungkinkan pendekatan belajar yang beragam dan inovatif.
Di Korea Selatan, beberapa pemerintah daerah bahkan membiayai sepenuhnya pendirian sekolah demokratis dan eksperimental, sebagai strategi akselerasi transformasi pendidikan untuk menciptakan warga yang lebih adaptif dan kreatif.
Di Jepang, banyak sekolah alternatif berkolaborasi erat dengan jaringan koperasi setempat, sehingga lulusan sekolah dapat langsung berdaya, bekerja, dan berkontribusi nyata di masyarakat.
Dalam forum ini, Indonesia juga memperkenalkan tokoh-tokoh pendidikan progresif seperti Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara, yang sudah sejak dulu menekankan pentingnya pendidikan yang memerdekakan, kontekstual, dan berpusat pada perkembangan karakter anak. Pemikiran mereka terbukti masih sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman sekarang.
Baca juga: Hypereport: Refleksi Pendidikan Indonesia, Menyongsong Era Baru Penuh Tantangan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.