Dolce & Gabbana Alta Sartoria. (Sumber foto: Dolce & Gabbana)

Dolce & Gabbana Alta Sartoria 2025, Perpaduan Sakral dalam Balutan Mode Tingkat Tinggi

18 July 2025   |   19:13 WIB
Image
Nirmala Aninda Manajer Konten Hypeabis.id

Di bawah cahaya senja langit Roma, di antara batu-batu kuno Castel Sant’Angelo dan lengkung tenang Sungai Tiber, Dolce & Gabbana menggelar sebuah prosesi pada Rabu (16/7/2025). Bukan dengan para kardinal, bukan pula para raja, melainkan barisan pria yang diselimuti oleh kenangan, kemegahan, dan kepiawaian tangan-tangan ahli.

Jembatan Ponte Sant’Angelo, yang dibangun oleh Kaisar Hadrian pada tahun 134 Masehi sebagai jalan menuju mausoleumnya, kembali menjadi penghubung antara dunia fana dan keabadian. Untuk satu malam saja, sejarahnya berpijar kembali dalam pancaran cahaya: benteng menyala bak set film, bayang-bayang figuran bergaya Cinecittà menyusup di antara lengkungan dengan jubah merah kardinal, dan Alta Sartoria hadir sebagai ritual elegan paling sakral di Roma.

Baca juga: Dolce & Gabbana Pamerkan Keunikan Haute Couture Italia Perdana di Grand Palais Paris 
 

Dolce

Dolce & Gabbana Alta Sartoria. (Sumber foto: Dolce & Gabbana)

Peragaan dibuka dengan mantel berikat pinggang yang dihiasi sulaman merah menyerupai jubah kardinal, dilapisi benang emas yang rumit. Lalu tampil atasan bergaya busana gereja, dibuat dari linen terbuka yang tegas tapi anggun, dipadukan dengan celana satin mengalir dalam palet merah, hijau, dan kuning. Sebuah jubah panjang bersulam gambar kastel itu sendiri muncul kemudian, diikuti atasan putih tanpa lengan yang dibentuk menyerupai wajah-wajah malaikat dari jembatan.

Kain altar antik disulap menjadi jas berpotongan tajam. Tabard berkilau hadir dalam sekuin biru tua atau manik-manik perak pekat, menyerupai mitra upacara keagamaan. Rincian serupa menghiasi mantel panjang dan jubah ala paus. Bahasa visual dari devosi—simbol sempurna untuk keahlian penuh hormat yang ditampilkan, tampak dalam rompi dada emas di atas kemeja putih berleher tinggi, kalung bertatahkan permata, dan pendupaan dari kuningan yang menggantung di rantai.

Sebagai lini Alta Sartoria dari Dolce & Gabbana, tentu tidak lengkap tanpa setelan pria yang memukau: brokat putih berhias mutiara, jas hitam iridesen dengan detail bordir di kerah, gaya tanpa lengan dipadukan dengan sarung tangan panjang dan bros bunga emas besar, serta tampilan emas pudar dan perak yang penuh manik atau disusun dengan pola mutiara.
 

Dolce & Gabbana Alta Sartoria. (Sumber foto: Dolce & Gabbana)

Dolce & Gabbana Alta Sartoria. (Sumber foto: Dolce & Gabbana)

Beberapa tampil dalam brokat kaya atau sulaman benang emas mulia, dikancing dengan selempang sutra. Sebuah jaket berwarna wisteria berkilau dengan sulaman emas; lainnya, dalam sutra fuchsia mencolok, dihiasi tepi mutiara. Jubah beludru liturgi dalam warna emas, biru tengah malam, dan merah darah diselimuti bordir dan sekuin, sementara jubah ungu paus dengan cape pendek pellegrina berputar dalam benang emas.

Koleksi ini memukau dalam detail kebangsawanannya, dan keindahan sejatinya benar-benar terasa saat semua model berkumpul di atas jembatan dalam penutup peragaan. Dari dekat, satu setelan yang tampak seperti jacquard ternyata seluruhnya disulam manik hitam dan ungu, sebuah mahakarya yang jelas memerlukan waktu berminggu-minggu. Dalam koleksi yang sarat dengan devosi mode ini, tampilan itu merangkum seluruh esensinya.
 

Dolce & Gabbana Alta Sartoria. (Sumber foto: Dolce & Gabbana)

Dolce & Gabbana Alta Sartoria. (Sumber foto: Dolce & Gabbana)

Dolce & Gabbana sejak lama menjadikan simbol-simbol Katolik bukan sekadar tontonan, melainkan bahasa visual yang mereka kuasai. Mereka tak sekadar mengutip agama, tapi menyuarakan puisinya. Musim ini, mereka kembali pada busana iman: garis-garis asketis, kemegahan kepausan, dan kode berpakaian gerejawi, diinterpretasi ulang, dimuliakan, dan dilahirkan kembali.

Domenico Dolce dan Stefano Gabbana menjadikan busana imam sebagai pusat eksplorasi mereka, dari yang sederhana hingga yang mewah, dan lebih condong ke arah yang mewah. Ada tunik linen kaku yang menyerupai surplice modern, jas double-breasted yang dipermanis dengan salib bertatah permata, dan jubah paus megah yang dihiasi bordir kristal.

Selama beberapa dekade terakhir, ikonografi Katolik menjadi salah satu ciri khas desain mereka. Besar dalam tradisi gereja dan kemungkinan besar terinspirasi oleh adegan peragaan busana liturgi dalam film Roma karya Fellini, mereka sebelumnya menampilkan biarawati dan janda Sisilia dalam Alta Moda 2022 di Siracusa.

Alta Sartoria kali ini tidak hanya meminjam dari gereja—ia menyucikan seni menjahit itu sendiri. Setiap busana, dikerjakan dengan tangan di bawah segel DG Fatto A Mano, menjadi relik dari devosi. Salah satu korset berlapis emas dan batu permata bahkan menampilkan wajah Santo Petrus, muncul dari kain layaknya patung marmer yang terukir, dengan kunci sucinya tergantung di lipatan liturgi. Ini bukan sekadar fesyen. Ini sebuah persembahan.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
Editor:

SEBELUMNYA

Resmi Diumumkan, Cek Daftar Harga Han So hee 1st Fanmeeting World Tour di Jakarta

BERIKUTNYA

Pagelaran Sabang Merauke Akan Hadir di Car Free Day Senayan 27 Juli 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga