Lebih dari Sekadar Jam Tangan, Wearable Tech Kini Jadi Bagian Gaya Hidup Digital
15 July 2025 |
08:28 WIB
Minat masyarakat terhadap wearable technology atau perangkat teknologi yang dapat dikenakan terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini semakin menguat sejak pandemi Covid-19, yang memicu kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga kesehatan tubuh dan menjalani gaya hidup aktif.
Perangkat wearable pun tak lagi sekadar pelacak langkah atau penunjuk waktu, melainkan telah berkembang menjadi asisten pribadi yang multifungsi, menghubungkan pengguna dengan notifikasi, pemantauan kesehatan secara real-time, hingga kendali perangkat smart home.
Baca juga: Produk Wearable Kian Diminati, Ini Paling Favorit
Joy Wahjudi, CEO Erajaya Digital, mengatakan bahwa pasar wearable mengalami pertumbuhan pesat dalam lima tahun terakhir berkat kesadaran terhadap gaya hidup sehat dan kebutuhan akan konektivitas seamless. “Konsumen kini juga mencari wearable yang tidak hanya fungsional, tetapi juga stylish,” kata Joy.
Tren ini menunjukkan bahwa konsumen menginginkan lebih dari sekadar teknologi; mereka juga mempertimbangkan faktor estetika dan integrasi dengan rutinitas harian.
Xiaomi menjadi salah satu pemain dominan di pasar wearable Indonesia. Pada kuartal I/2025, perusahaan ini memimpin kategori wearable band dengan pangsa pasar 31%, mencatat pertumbuhan 40% dibandingkan tahun sebelumnya.
Produk seperti Xiaomi Smart Band, Redmi Watch Series, dan Xiaomi Buds mendapat sambutan luas berkat kombinasi fitur unggulan, desain menarik, dan harga kompetitif. Menurut Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia,
“Sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia, Xiaomi terus menghadirkan beragam inovasi teknologi yang relevan bagi masyarakat, di mana kategori wearable menjadi salah satu sektor yang berkembang paling cepat.”
Perangkat wearable kini melampaui sekadar alat pelacak aktivitas. Data Kementerian Kesehatan pada 2024 menunjukkan bahwa 70% masyarakat perkotaan rutin berolahraga minimal tiga kali seminggu. Dengan kondisi tersebut, wearable berkembang menjadi alat pemantau kesehatan yang multifungsi, menjangkau hiburan hingga kendali perangkat rumah.
“Berkat integrasi Xiaomi Interconnectivity dengan HyperOS, pengguna bisa mengakses notifikasi, kontrol musik, hingga menerima telepon langsung dari pergelangan tangan mereka,” jelas Andi.
Dia juga menambahkan, keunggulan utama perangkat wearable Xiaomi terletak pada perpaduan antara fitur canggih, harga kompetitif, serta desain yang relevan dengan gaya hidup pengguna. Xiaomi Watch S4, misalnya, tidak hanya menawarkan pemantauan kesehatan, tetapi juga konektivitas dengan Xiaomi Smart Hub. Sementara Xiaomi Buds 5 Pro menjadi TWS pertama di Indonesia yang mendukung koneksi Wi-Fi untuk kualitas audio yang lebih stabil.
Xiaomi juga aktif membangun komunitas melalui kegiatan offline seperti Xiaomi Pop Run 2024, ajang olahraga bersama yang mempererat hubungan antara produk dan pengguna. Namun, mereka menyadari adanya tantangan terkait ekspektasi konsumen dan edukasi pasar.
“Konsumen tak lagi puas dengan fitur standar. Mereka menginginkan perangkat yang menyatu dengan gaya hidup mereka. Di sisi lain, kami juga terus berupaya mengedukasi pasar tentang manfaat optimal dari wearable ini,” terang Andi.
Di segmen premium, Garmin mempertahankan posisinya sebagai salah satu pemimpin global wearable dengan pertumbuhan 10% secara global (1,8 juta unit) pada kuartal I/2025. Di Indonesia, nilai pasar Garmin naik 41%, dengan pengiriman smartwatch berbasis GPS meningkat 65% sepanjang 2024.
“Potensi pasar smartwatch di Indonesia akan terus tumbuh, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat dan aktif,” ujar Chandrawidhi Desideriani, Marketing Communications Senior Manager Garmin Indonesia.
Garmin dikenal dengan produk smartwatch yang menyasar pengguna aktif dan penggemar olahraga. Mereka menghadirkan fitur-fitur seperti pemantauan VO2 Max, detak jantung, skor stres, dan Body Battery Energy Monitoring.
“Desain fungsional dan estetis menjadi fokus kami, apalagi untuk pengguna muda yang aktif dan ingin tampil stylish tanpa mengorbankan performa,” kata Chandrawidhi. Garmin juga terus menambahkan fitur seperti lampu senter dan NFC, serta memperluas kompatibilitas lintas sistem operasi.
Portofolio produk Garmin dibagi ke dalam lima segmen: Fitness, Outdoor, Aviasi, Marine, dan Automotive. Seri Forerunner digemari pelari, sedangkan Instinct dan Fenix menjadi favorit pegiat alam bebas.
Strategi mereka tak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga aksesibilitas, dengan penawaran harga beragam dan potongan untuk generasi sebelumnya. Melalui Garmin Health dan SDK, produk Garmin bahkan dapat terintegrasi dengan layanan telemedicine dan program insentif kesehatan dari sektor asuransi.
“Di masa depan, wearable bukan lagi sekadar pelacak aktivitas, tapi jembatan penting antara individu dan ekosistem layanan yang lebih besar,” tutup Chandrawidhi.
Sebagai distributor besar di industri ini, Erajaya Digital mengambil peran penting dalam mendistribusikan wearable baik dari brand global maupun lokal. “Kami di Erajaya terbuka terhadap kolaborasi dengan brand lokal yang menjanjikan, selama produk tersebut memenuhi standar dan menjawab kebutuhan pasar,” ujar Joy Wahjudi.
Selain menghadirkan produk dari Apple, Samsung, Xiaomi, dan Garmin, Erajaya juga mendorong pengembangan produk lokal dengan fitur khas seperti pengingat ibadah atau antarmuka berbahasa Indonesia.
Wearable kini dipandang sebagai entry point menuju ekosistem digital yang lebih luas, termasuk layanan olahraga, kesehatan, dan asuransi. Meskipun brand global masih mendominasi, Joy menilai peluang brand lokal akan terus tumbuh, terutama jika mampu menjawab kebutuhan spesifik masyarakat Indonesia.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Perangkat wearable pun tak lagi sekadar pelacak langkah atau penunjuk waktu, melainkan telah berkembang menjadi asisten pribadi yang multifungsi, menghubungkan pengguna dengan notifikasi, pemantauan kesehatan secara real-time, hingga kendali perangkat smart home.
Baca juga: Produk Wearable Kian Diminati, Ini Paling Favorit
Joy Wahjudi, CEO Erajaya Digital, mengatakan bahwa pasar wearable mengalami pertumbuhan pesat dalam lima tahun terakhir berkat kesadaran terhadap gaya hidup sehat dan kebutuhan akan konektivitas seamless. “Konsumen kini juga mencari wearable yang tidak hanya fungsional, tetapi juga stylish,” kata Joy.
Tren ini menunjukkan bahwa konsumen menginginkan lebih dari sekadar teknologi; mereka juga mempertimbangkan faktor estetika dan integrasi dengan rutinitas harian.
Xiaomi menjadi salah satu pemain dominan di pasar wearable Indonesia. Pada kuartal I/2025, perusahaan ini memimpin kategori wearable band dengan pangsa pasar 31%, mencatat pertumbuhan 40% dibandingkan tahun sebelumnya.
Produk seperti Xiaomi Smart Band, Redmi Watch Series, dan Xiaomi Buds mendapat sambutan luas berkat kombinasi fitur unggulan, desain menarik, dan harga kompetitif. Menurut Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia,
“Sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia, Xiaomi terus menghadirkan beragam inovasi teknologi yang relevan bagi masyarakat, di mana kategori wearable menjadi salah satu sektor yang berkembang paling cepat.”
Perangkat wearable kini melampaui sekadar alat pelacak aktivitas. Data Kementerian Kesehatan pada 2024 menunjukkan bahwa 70% masyarakat perkotaan rutin berolahraga minimal tiga kali seminggu. Dengan kondisi tersebut, wearable berkembang menjadi alat pemantau kesehatan yang multifungsi, menjangkau hiburan hingga kendali perangkat rumah.
“Berkat integrasi Xiaomi Interconnectivity dengan HyperOS, pengguna bisa mengakses notifikasi, kontrol musik, hingga menerima telepon langsung dari pergelangan tangan mereka,” jelas Andi.
Dia juga menambahkan, keunggulan utama perangkat wearable Xiaomi terletak pada perpaduan antara fitur canggih, harga kompetitif, serta desain yang relevan dengan gaya hidup pengguna. Xiaomi Watch S4, misalnya, tidak hanya menawarkan pemantauan kesehatan, tetapi juga konektivitas dengan Xiaomi Smart Hub. Sementara Xiaomi Buds 5 Pro menjadi TWS pertama di Indonesia yang mendukung koneksi Wi-Fi untuk kualitas audio yang lebih stabil.
Xiaomi juga aktif membangun komunitas melalui kegiatan offline seperti Xiaomi Pop Run 2024, ajang olahraga bersama yang mempererat hubungan antara produk dan pengguna. Namun, mereka menyadari adanya tantangan terkait ekspektasi konsumen dan edukasi pasar.
“Konsumen tak lagi puas dengan fitur standar. Mereka menginginkan perangkat yang menyatu dengan gaya hidup mereka. Di sisi lain, kami juga terus berupaya mengedukasi pasar tentang manfaat optimal dari wearable ini,” terang Andi.
Di segmen premium, Garmin mempertahankan posisinya sebagai salah satu pemimpin global wearable dengan pertumbuhan 10% secara global (1,8 juta unit) pada kuartal I/2025. Di Indonesia, nilai pasar Garmin naik 41%, dengan pengiriman smartwatch berbasis GPS meningkat 65% sepanjang 2024.
“Potensi pasar smartwatch di Indonesia akan terus tumbuh, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat dan aktif,” ujar Chandrawidhi Desideriani, Marketing Communications Senior Manager Garmin Indonesia.
Garmin dikenal dengan produk smartwatch yang menyasar pengguna aktif dan penggemar olahraga. Mereka menghadirkan fitur-fitur seperti pemantauan VO2 Max, detak jantung, skor stres, dan Body Battery Energy Monitoring.
“Desain fungsional dan estetis menjadi fokus kami, apalagi untuk pengguna muda yang aktif dan ingin tampil stylish tanpa mengorbankan performa,” kata Chandrawidhi. Garmin juga terus menambahkan fitur seperti lampu senter dan NFC, serta memperluas kompatibilitas lintas sistem operasi.
Portofolio produk Garmin dibagi ke dalam lima segmen: Fitness, Outdoor, Aviasi, Marine, dan Automotive. Seri Forerunner digemari pelari, sedangkan Instinct dan Fenix menjadi favorit pegiat alam bebas.
Strategi mereka tak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga aksesibilitas, dengan penawaran harga beragam dan potongan untuk generasi sebelumnya. Melalui Garmin Health dan SDK, produk Garmin bahkan dapat terintegrasi dengan layanan telemedicine dan program insentif kesehatan dari sektor asuransi.
“Di masa depan, wearable bukan lagi sekadar pelacak aktivitas, tapi jembatan penting antara individu dan ekosistem layanan yang lebih besar,” tutup Chandrawidhi.
Sebagai distributor besar di industri ini, Erajaya Digital mengambil peran penting dalam mendistribusikan wearable baik dari brand global maupun lokal. “Kami di Erajaya terbuka terhadap kolaborasi dengan brand lokal yang menjanjikan, selama produk tersebut memenuhi standar dan menjawab kebutuhan pasar,” ujar Joy Wahjudi.
Selain menghadirkan produk dari Apple, Samsung, Xiaomi, dan Garmin, Erajaya juga mendorong pengembangan produk lokal dengan fitur khas seperti pengingat ibadah atau antarmuka berbahasa Indonesia.
Wearable kini dipandang sebagai entry point menuju ekosistem digital yang lebih luas, termasuk layanan olahraga, kesehatan, dan asuransi. Meskipun brand global masih mendominasi, Joy menilai peluang brand lokal akan terus tumbuh, terutama jika mampu menjawab kebutuhan spesifik masyarakat Indonesia.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.