TIM menjadi salah satu tempat berkumpul seniman. (Sumber gambar: Eusebio Chrysnamurti/Hypeabis.id)

Napak Tilas Jakarta Sebagai Kawah Candradimuka Para Seniman Nusantara

23 June 2025   |   10:57 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Jakarta memiliki daya tarik tersendiri, bukan hanya bagi pencari kerja, tetapi juga para seniman dari seluruh Nusantara. Di balik gedung-gedung pencakar langit dan hiruk pikuk jalanan, tersembunyi kisah panjang tentang bagaimana komunitas-komunitas seniman tumbuh, berkembang, dan mewarnai lanskap kesenian dan kebudayaan di Ibu Kota. 

Kawasan Pasar Senen tidak lepas dari sejarah ini. Dari sekian banyak sentra seni pada era pra dan pasca kemerdekaan, Pasar Senen memang menjadi tempat nongkrong favorit para seniman, termasuk yang datang dari luar Jakarta. 

Baca juga: 5 Acara Puncak Perayaan HUT ke-498 Jakarta, Bertabur Bintang & Seni Tradisional

Seniman Betawi, Yahya Andi Saputra, mengatakan bahwa hal ini tidak lepas dari lokasinya yang strategis karena dekat dengan terminal dan stasiun kereta api. Di Pasar Senen kala itu, para seniman seperti Ajip Rosidi, Misbach, Wachid Chan, Sukarno M. Noor, Wim Umboh, H.B. Yasin, Muslim Thaher, Wahyu Sihombing, S.M Ardan, hingga Harmoko, sering bertemu untuk berdiskusi, bertukar ide, bahkan menciptakan karya-karya monumental. 

Akhirnya dikenal sebagai Seniman Senen, Yahya menjelaskan bahwa komunitas ini didominasi oleh para pelaku kesenian populer, terutama para penulis yang memiliki kepekaan terhadap realitas sosial dan budaya. Komunitas Seniman Senen melahirkan sejumlah nama besar yang kemudian menjadi pionir dalam dunia seni dan sastra Indonesia. 

Yahya menyebutkan beberapa di antaranya, seperti SM Ardan, sastrawan Betawi yang piawai menggambarkan kehidupan masyarakat Jakarta melalui cerpen-cerpennya yang humanis. Karya SM Ardan yang paling dikenal adalah reinterpretasi kisah "Nyai Dasima" dari perspektif yang lebih membela kaum tertindas, menjadikannya sebuah narasi nasional yang relevan dengan semangat zaman.

Selain SM Ardan, Misbach Yusa Biran tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan drama modern Indonesia. Kehadiran Aip Rosidi, seorang sastrawan dan budayawan Sunda yang kemudian dikenal sebagai tokoh pelestari bahasa dan sastra Sunda, juga menambah warna dalam dinamika intelektual di Senen. 

Bahkan, HB Jassin, kritikus sastra legendaris yang dijuluki "Paus Sastra Indonesia," juga tercatat pernah berinteraksi dan berdiskusi dengan para seniman Senen, menunjukkan betapa pentingnya kawasan ini sebagai barometer perkembangan sastra kala itu. "Jadi di situ mereka bikin film, naskah film, skenario film, bikin cerita macem-macem,” sebut Yahya, menggambarkan betapa produktifnya para seniman Senen dalam menghasilkan karya, saat berbincang dengan Hypeabis.id belum lama ini. 

Balai Budaya Jakarta di Menteng juga memainkan peran penting sebagai tempat berkumpulnya para seniman perupa pada era 1950an. Selain itu, komunitas-komunitas seni tradisional, memiliki akar kuat di berbagai wilayah Jakarta. Sebut saja Tanah Abang yang menjadi tempat berkumpulnya para sohibul hikayat, Salemba yang disambangi para penggemar qasidah, Kemayoran untuk para seniman Sunda, hingga penggemar Wayang Orang Barata di dekat Senen.

Peran Ali Sadikin

Lanskap lokasi komunitas kesenian di Jakarta lalu mengalami perubahan signifikan seiring dengan gebrakan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang membangun Taman Ismail Marzuki (TIM) di kawasan Cikini. Di tanah luas bekas Kebon Binatang Cikini itu, dia membuat fasilitas kesenian yang jauh lebih lengkap dan modern dibandingkan dengan tempat-tempat berkumpul sebelumnya.

"Kehadiran TIM memang menjadi magnet utama yang menyerukan aktivitas di Senen, begitu juga teman-teman kita di Balai Budaya,” tutur Yahya. 

Kompleks TIM dirancang sebagai pusat kegiatan seni dan budaya yang terintegrasi, meliputi gedung pertunjukan, galeri seni, planetarium, pusat arsip, dan berbagai fasilitas lainnya. Bahkan di sana dulu ada homestay untuk beristirahat para seniman dari daerah.

Di era Ali Sadikin pula, muncul inisiatif untuk menjangkau generasi muda melalui pembangunan gelanggang-gelanggang remaja atau youth center di lima wilayah kota sejak 1968. Yahya, yang dulu aktif di Gelanggang Remaja Bulungan, menyaksikan langsung bagaimana tempat-tempat ini menjadi ruang inkubasi bagi bakat-bakat muda di berbagai bidang seni, mulai dari lukis, sastra, hingga teater. 

Gelanggang remaja tidak hanya menjadi tempat berlatih, tetapi juga menjadi ajang kompetisi dan unjuk gigi melalui festival-festival seni yang diselenggarakan secara berkala. Hasil seleksi terbaik dari setiap wilayah kemudian ditampilkan di TIM, memberikan motivasi dan pengakuan bagi para seniman muda. 

Waspada Akar Seni Hilang 

Kendati demikian, seiring pergantian tonggak kepemimpinan di Jakarta beserta kebijakannya, gelanggang remaja sebagai wadah mengasah talenta seni mulai memudar. Gelanggang remaja kini lebih ramai dipakai untuk pembinaan olahraga.

Sementara itu, kecenderungan ruang-ruang publik, termasuk sentra-sentra kesenian yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dikomersialisasi. Kini di TIM dengan wajah baru, para seniman yang ingin pentas bahkan perlu merogoh kocek dalam untuk menggunakan fasilitas. Padahal kata Yahya, dahulu cukup membayar biaya retribusi yang nilainya bisa ditolerir untuk berkegiatan di sana.

Revitalisasi terhadap sentra-sentra seni seperti TIM menurutnya hanya berfokus pada pembangunan fisik tanpa memperhatikan aspek ekosistem seni yang lebih mendasar. Padahal, lokasi itu harusnya menjadi wadah untuk regenerasi seni tanpa komersialisasi. "Bangunan Taman Ismail Marzuki misalnya, dibangun untuk tujuan-tujuan yang komersial belaka, itu ekosistemnya jadi rusak," kritik Yahya. 

Dia menjelaskan bahwa revitalisasi yang tidak didasarkan pada pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan ekosistem seni justru dapat melahirkan "kekakuan" dan menghambat regenerasi seniman.

Di tengah tantangan ini, untung saja masih banyak seniman maupun komunitas seni terutama seni tradisional secara turun-temurun menjaga keberlangsungannya melalui sanggar-sanggar di pinggiran Jakarta. "Kalau nggak ada itu, pemerintah itu kelabakan juga kehilangan akar itu," ujar Yahya,

Beberapa seniman pun menciptakan ruang baru seperti galeri seni untuk berkumpul. Salah satunya, Goenawan Mohamad yang mendirikan Komunitas Salihara di Pasar Minggu, pada 8 Agustus 2008. Komunitas ini menjadi lembaga seni-budaya dan pusat kesenian multidisiplin milik swasta pertama di Indonesia.

Sementara itu, Yahya tetap berharap pemerintah tetap hadir memberikan ruang yang layak bagi para seniman untuk berdiskusi, berbagi ide, hingga menampilkan karyanya. Kehadiran ini tidak boleh hanya bersifat simbolis atau berorientasi pada keuntungan komersial, melainkan harus mewujudkan komitmen yang tulus untuk memajukan seni dan kebudayaan sebagai investasi jangka panjang. 

Pemerintah, menurut sohibul hikayat ini, juga harus hadir dalam upaya penciptaan SDM seni melalui pendidikan formal dan non-formal. Dia menekankan pentingnya memasukkan muatan lokal kesenian dalam kurikulum pendidikan sejak dini, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. 

Selain itu, dukungan terhadap lembaga-lembaga pendidikan seni seperti IKJ juga perlu diperkuat agar dapat berperan lebih optimal dalam mewariskan pengetahuan dan keterampilan seni kepada generasi muda.

Dengan adanya pendidikan seni yang sistematis, diharapkan akan muncul generasi seniman yang tidak hanya memiliki keterampilan praktis, tetapi juga pemahaman teoritis yang mendalam tentang seni dan budaya. Bahkan, Yahya membayangkan di masa depan, profesi-profesi di bidang seni tradisional seperti penabuh gamelan atau penari akan memiliki standar kompetensi dan sertifikasi yang diakui secara nasional maupun internasional.

Mengenalkan Sejarah Komunitas Seni ke Generasi Muda

Pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI) Asep Kambali menyebut ruang-ruang tempat berkumpulnya maestro seni pasca kemerdekaan memang telah hilang ditelan zaman. KHI lantas mencoba menggali kembali memori sejarah tempat-tempat ini dengan mengajak generasi muda untuk mengunjunginya melalui kegiatan tur. 

“Ke TIM, ke Kawasan Senen, Wayang Orang Bharata, dan lain-lain. Kita kerap berkunjung ke sana,” sebutnya. 

KHI diketahui mengusung kegiatan yang bersifat rekreatif, edukatif, dan entertainment. Rekreasi itu menjadi metode empirik belajar sejarah. “Pengalaman langsung ini membuat partisipan dengan gampang mengingat apa yang dia pelajari,” tutur Asep.

Baca juga: Ketika Seni dan Science Jalan Beriringan Lewat Buku dan Pameran 39 is 0
Editor:

SEBELUMNYA

3 Kegiatan Seru di Dubai, Alternatif Destinasi Wisata Sambut Liburan Sekolah

BERIKUTNYA

Perbandingan Kamera Compact 2025, Fujifilm X half & Canon Powershot V1

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: