Pentas Les Justes oleh Teater Petra di Salihara (Sumber gambar: Salihara)

Mencari-cari Nurani di Lakon Les Justes yang Dipentaskan Teater Petra

22 June 2025   |   13:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Di zaman ketika kekuasaan mudah melukai, kekerasan juga sering dibungkus jargon pembebasan, lakon Les Justes tampil seperti cermin yang getir. Dalam pentas terbarunya di Salihara, Teater Petra menghidupkan ulang naskah klasik Albert Camus tersebut dengan apik.

Teater Petra kembali membawakan Les Justes dengan intensitas yang lebih tajam dari sebelumnya. Setelah dipentaskan dalam Festival Teater Jakarta 2021, lakon ini kini menemukan nyawa barunya di tengah situasi sosial-politik yang kian kompleks.

Baca juga: Teater Petra Pentaskan Les Justes Karya Albert Camus di Teater Salihara

Tidak hanya karena latarnya tentang revolusi Rusia awal abad ke-20, tetapi karena drama ini menyinggung sesuatu yang selalu relevan, yakni perjuangan keadilan yang kerap berkelindan dengan nilai-nilai nurani.

Drama Les Justes pertama kali ditulis pada 1949. Drama ini terinspirasi dari peristiwa nyata pembunuhan Adipati Agung Sergei Aleksandrovich, Gubernur Jenderal Moskow, oleh kelompok revolusioner Rusia, yakni Partai Sosialis Revolusioner pada 1905.

Namun, ini bukan sekadar drama tentang revolusi. Ini adalah pengadilan sunyi terhadap setiap niat luhur yang dibebani oleh kekerasan.

Panggung dibuka di sebuah apartemen kecil di Moskow. Di situlah para revolusioner muda berkumpul, menyusun rencana, memperdebatkan moral, dan perlahan terkikis oleh pertentangan batin.

Ada Annenkov yang tegas, Voinov yang gemetar oleh ketakutan, Stevan yang radikal dan membara, Dora yang getir tapi penuh cinta, dan Yanek, sang penyair sekaligus calon eksekutor. Masing-masing tokoh adalah wajah dari idealisme yang terperangkap dalam situasi ekstrem.

 

 

 

 

Pentas Les Justes oleh Teater Petra di Salihara (Sumber gambar: Salihara)

Pentas Les Justes oleh Teater Petra di Salihara (Sumber gambar: Salihara)

 


Pada mulanya, sepanjang pentas penonton akan disuguhkan dengan tugas berat dan rencana super detail para revolusioner dalam melakukan penyerangan. Mereka bahkan telah menyusun banyak rencana jika strategi awal gagal.

Namun, lakon ini menang bukan sekadar soal strategi. Penonton pun perlahan dibawa ke ruang baru untuk menyaksikan konflik psikologis para pelaku revolusi. Yanek, misalnya, tak bisa menjatuhkan bom saat melihat kereta sang Adipati berjalan tepat di depannya.

Bukan karena takut, melainkan karena nuraninya mendadak menolak. Sebab, di kereta tersebut, sang Tiran tengah bersama keponakannya yang anak-anak. Sebuah situasi yang tak pernah masuk rencananya. Nuraninya mendadak menolak menjadikan anak-anak juga sebagai korban.

Dari sini, konflik mulai bergerak ke pertentangan nilai. Anggota lain, Stevan, misalnya menuduh Yanek sebagai pengecut dan tak setia pada ide-ide revolusi. Bagi Stevan, revolusi sejati tidak mengenal ampun, semua boleh dikorbankan demi perubahan yang lebih besar.

Sebab, baginya, apa arti dua anak Tirani dibanding ribuan anak rakyat yang kelaparan akibat kekuasaan yang tidak adil. Dia memandang ini seolah perkara statistik. Stevan seolah jadi gambaran suara ekstremisme yang sangat dekat dengan dunia kita hari ini, yakni ideologi tanpa empati.

Di tengah situasi yang sulit setelah rencana gagal, karakter Dora mampu tampil membangun denyut emosional pertunjukan selanjutnya. Dialog-dialog mereka mempertentangkan bagaimana idealisme tanpa kompas moral akan jatuh menjadi teror. Lakon ini seolah tengah mempertanyakan kembali narasi heroik dalam setiap peristiwa sejarah.


Cerita Lama yang Terus Membumi

Tak banyak naskah klasik yang bisa berbicara secara tajam melintasi waktu dan konteks budaya. Namun, Les Justes terbukti terus eksis hingga hari ini. Bagi Teater Petra, lakon ini juga bukan sekadar proyek seni, melainkan bagian dari pembacaan sejarah dan kenyataan sosial yang terus bergerak.

Sutradara Sultan Mahadi Syarif menjelaskan bahwa ketertarikan kelompoknya terhadap naskah ini berakar dari kebutuhan untuk menggali narasi refleksi moral terhadap situasi yang terjadi sekarang.

“Naskah ini sebenarnya berangkat dari Festival Teater Jakarta 2021, dan memang secara khusus kita tertarik pada naskah-naskah yang bertema pergerakan sosial. Tema-tema revolusioner menjadi menarik dan sampai saat ini juga masih membumi,” ungkap Sultan.

Menurutnya, berbagai isu seperti genosida, politisasi agama, hingga kekerasan terhadap anak-anak tetap menjadi luka terbuka di banyak tempat di dunia. Oleh karena itu, Teater Petra tak hanya menampilkan naskah ini sebagai cerita tentang Rusia abad ke-20, tetapi juga sebagai cermin bagi realitas sosial hari ini.

“Kita juga ada semacam studi kebudayaan, bagaimana membaca kebudayaan Rusia. Waktu itu, Teater Petra memang concern dengan riset-riset kesejarahan, baik kesejarahan Indonesia maupun Eropa. Selain Les Justes, kita juga sempat membawakan Death of a Salesman yang temanya naskah luar, tapi tetap dengan pendekatan kontekstual,” tambahnya.

Pementasan kali ini menurut Sultan juga mengalami perkembangan dibanding versi 2021. Pendalaman karakter, interpretasi teks, hingga kerja artistik terasa lebih matang. Hal itu tak lepas dari evaluasi internal dan diskusi terbuka, termasuk dengan kurator Salihara, Hendro Wiyanto.

“Saya merasakan satu kedalaman teks yang dilantarkan pemain justru berbeda daripada pementasan sebelumnya. Catatan dari Festival Teater Jakarta 2021 jadi bahan acuan yang sangat berharga, dan diskusi bersama Mas Hendro juga mendorong kami untuk masuk lebih dalam,” katanya.

 

 

 

 

Pentas Les Justes oleh Teater Petra di Salihara (Sumber gambar: Salihara)

Pentas Les Justes oleh Teater Petra di Salihara (Sumber gambar: Salihara)

 


Sultan juga menyoroti bagaimana aspek teknis ikut mendukung pencapaian artistik. Akustik ruang pertunjukan Salihara, misalnya, menurutnya sangat mendukung keluwesan dialog yang sarat siasat dan emosi.

“Dialog-dialog dalam Les Justes punya ketegangan tersendiri. Dan kami merasa diuntungkan oleh ruang main Salihara yang sangat mendukung dari sisi akustik. Ruang juga menentukan cara bermain aktor, baik dalam proyeksi suara, merespons cuaca, maupun aksi-reaksi penonton,” jelasnya.

Pertunjukan Les Justes melibatkan deretan aktor seperti Achmad Nurullah, Ahmad Rifqi, Bayu Eka, Boby Faisal, Dayu Prisma, Kukuh Pamungkas, Sultan Mahadi Syarif, serta Windy Muljadi.

Produksi pertunjukan dipimpin oleh Rezqiansyah Nurul Fajri dengan Rizky Robby sebagai penata musik, Putra Wijaya sebagai manajer panggung, dan Rizal Izra Mahmudi sebagai penata panggung.

Sementara, aspek artistik ditangani oleh Petra Art, pencahayaan oleh Fajar Okto, tata busana oleh Rahma Gadiza, dan tata rias oleh Safira Nurjanah.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Pembalap Indonesia Veda Pratama Meraih Juara Red Bull MotoGP Rookies Cup Seri Mugello

BERIKUTNYA

Zinwa Technologies Menghidupkan Kembali Blackberry Q20 dengan OS Android

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: