Cek 3 Kardinal Asal Indonesia yang Pernah Ikut Konklaf, Siapa Saja?
09 May 2025 |
06:00 WIB
Genhype, Konklaf untuk memilih Paus baru di Vatikan selalu menjadi momen bersejarah yang penuh sakralitas. Dalam proses pemilihan Paus baru, para kardinal dari seluruh dunia berkumpul di Kapel Sistina untuk menentukan pemimpin tertinggi Gereja Katolik.
Terkait hal ini, tahukah Genhype sepanjang sejarah Gereja Katolik, Indonesia pernah mengirimkan beberapa nama kardinal yang ikut dalam proses penting ini? Yuk, kita bahas tiga kardinal asal Indonesia yang pernah ikut Konklaf dan meninggalkan jejak bersejarah.
Baca juga: Serba-serbi Konklaf, Prosesi Pemilihan Paus Baru yang Penuh Aturan Ketat
Sebagai Uskup Agung Semarang, Darmojuwono tidak hanya fokus pada pelayanan umat di Tanah Air, tetapi juga ikut dalam dua Konklaf bersejarah tahun 1978.
Pada Agustus 1978, Kardinal Justinus Darmojuwono menghadiri Konklaf untuk memilih pengganti Paus Paulus VI. Hasil dari prosesi tersebut 'melahirkan' Paus Yohanes Paulus I, yang dikenal dengan masa jabatannya yang singkat hanya 33 hari.
Tak lama setelah itu, Konklaf kedua diadakan pada tahun yang sama untuk memilih Paus baru, dan kali ini Karol Wojtyla terpilih sebagai Paus Yohanes Paulus II. Kehadiran Darmojuwono dalam dua Konklaf ini menunjukkan bagaimana Indonesia sudah terlibat dalam proses penting Gereja Katolik di tingkat global.
Setelah masa aktifnya, Kardinal Justinus Darmojuwono memilih menjalani kehidupan sederhana di Paroki Santa Maria Fatima Banyumanik, Semarang. Dia pensiun pada 1981 dan meninggal dunia pada 1994. Namanya tetap dikenang sebagai figur yang membuka jalan bagi kardinal-kardinal berikutnya dari Indonesia.
Namun, pada 2013, meskipun masih memiliki hak pilih dalam Konklaf, Kardinal Julius memilih untuk tidak hadir karena alasan kesehatan. Penglihatannya yang memudar, pendengarannya yang menurun, serta tubuhnya yang tidak lagi kuat untuk perjalanan panjang ke Roma membuatnya memutuskan untuk mundur dari tanggung jawab tersebut.
Keputusannya ini adalah bentuk kerendahan hati , karena dia lebih mengutamakan kelancaran proses Konklaf daripada memaksakan diri. Kardinal Julius Darmaatmadja dikenal sebagai sosok yang sederhana dan rendah hati. Meski tidak lagi aktif di kancah internasional, dedikasinya terhadap Gereja Katolik tetap menjadi inspirasi bagi banyak umat di Indonesia.
Kardinal Ignatius Suharyo lahir di Sedayu, Bantul, Yogyakarta, dan pernah bermimpi menjadi seorang polisi. Akan tetapi, jalan hidup membawanya menjadi seorang doktor teologi biblis di Roma dan pengajar filsafat. Kini, di usia 74 tahun, dia menjadi representasi Indonesia di Konklaf, membawa harapan umat Katolik Indonesia dalam menentukan arah Gereja Katolik di masa depan.
Setibanya di Roma pada awal Mei 2025, Kardinal Ignatius Suharyo bahkan langsung memimpin misa. Kehadirannya di Kapel Sistina menjadi momen yang membanggakan, karena memperlihatkan bahwa Indonesia terus berkontribusi dalam proses penting Gereja Katolik global.
Baca juga: Mengenal Robert Prevost, Kardinal Asal Amerika Serikat yang Terpilih Jadi Paus Baru
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Terkait hal ini, tahukah Genhype sepanjang sejarah Gereja Katolik, Indonesia pernah mengirimkan beberapa nama kardinal yang ikut dalam proses penting ini? Yuk, kita bahas tiga kardinal asal Indonesia yang pernah ikut Konklaf dan meninggalkan jejak bersejarah.
Baca juga: Serba-serbi Konklaf, Prosesi Pemilihan Paus Baru yang Penuh Aturan Ketat
1. Justinus Darmojuwono
Nama Kardinal Justinus Darmojuwono menjadi yang pertama dalam sejarah Indonesia, yang dipercaya mengemban gelar kardinal. Dia diangkat langsung oleh Paus Paulus VI pada 1967, menjadikannya sosok penting dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia.Sebagai Uskup Agung Semarang, Darmojuwono tidak hanya fokus pada pelayanan umat di Tanah Air, tetapi juga ikut dalam dua Konklaf bersejarah tahun 1978.
Pada Agustus 1978, Kardinal Justinus Darmojuwono menghadiri Konklaf untuk memilih pengganti Paus Paulus VI. Hasil dari prosesi tersebut 'melahirkan' Paus Yohanes Paulus I, yang dikenal dengan masa jabatannya yang singkat hanya 33 hari.
Tak lama setelah itu, Konklaf kedua diadakan pada tahun yang sama untuk memilih Paus baru, dan kali ini Karol Wojtyla terpilih sebagai Paus Yohanes Paulus II. Kehadiran Darmojuwono dalam dua Konklaf ini menunjukkan bagaimana Indonesia sudah terlibat dalam proses penting Gereja Katolik di tingkat global.
Setelah masa aktifnya, Kardinal Justinus Darmojuwono memilih menjalani kehidupan sederhana di Paroki Santa Maria Fatima Banyumanik, Semarang. Dia pensiun pada 1981 dan meninggal dunia pada 1994. Namanya tetap dikenang sebagai figur yang membuka jalan bagi kardinal-kardinal berikutnya dari Indonesia.
2. Julius Darmaatmadja
Dua dekade setelah Darmojuwono, tongkat estafet dilanjutkan oleh Kardinal Julius Darmaatmadja. Dia adalah seorang Jesuit yang pernah menjabat sebagai Uskup Agung Jakarta dan Semarang. Kardinal Julius diangkat menjadi kardinal pada 1994 dan turut serta dalam Konklaf 2005 yang memilih Joseph Alois Ratzinger sebagai Paus Benediktus XVI.Namun, pada 2013, meskipun masih memiliki hak pilih dalam Konklaf, Kardinal Julius memilih untuk tidak hadir karena alasan kesehatan. Penglihatannya yang memudar, pendengarannya yang menurun, serta tubuhnya yang tidak lagi kuat untuk perjalanan panjang ke Roma membuatnya memutuskan untuk mundur dari tanggung jawab tersebut.
Keputusannya ini adalah bentuk kerendahan hati , karena dia lebih mengutamakan kelancaran proses Konklaf daripada memaksakan diri. Kardinal Julius Darmaatmadja dikenal sebagai sosok yang sederhana dan rendah hati. Meski tidak lagi aktif di kancah internasional, dedikasinya terhadap Gereja Katolik tetap menjadi inspirasi bagi banyak umat di Indonesia.
3. Ignatius Suharyo
Nama Indonesia kembali muncul di Konklaf 2025 melalui Kardinal Ignatius Suharyo. Dia adalah Uskup Agung Jakarta yang sudah mengabdi lebih dari 20 tahun sebagai uskup. Diangkat menjadi kardinal oleh Paus Fransiskus pada 2019, Ignatius Suharyo kini menjadi salah satu dari 133 kardinal yang berhak memilih Paus baru dalam Konklaf yang digelar pada Mei 2025.Kardinal Ignatius Suharyo lahir di Sedayu, Bantul, Yogyakarta, dan pernah bermimpi menjadi seorang polisi. Akan tetapi, jalan hidup membawanya menjadi seorang doktor teologi biblis di Roma dan pengajar filsafat. Kini, di usia 74 tahun, dia menjadi representasi Indonesia di Konklaf, membawa harapan umat Katolik Indonesia dalam menentukan arah Gereja Katolik di masa depan.
Setibanya di Roma pada awal Mei 2025, Kardinal Ignatius Suharyo bahkan langsung memimpin misa. Kehadirannya di Kapel Sistina menjadi momen yang membanggakan, karena memperlihatkan bahwa Indonesia terus berkontribusi dalam proses penting Gereja Katolik global.
Baca juga: Mengenal Robert Prevost, Kardinal Asal Amerika Serikat yang Terpilih Jadi Paus Baru
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.