Mengenal The Metropolitan Museum of Art, Tempat Digelarnya Met Gala
06 May 2025 |
12:30 WIB
The Metropolitan Museum of Art yang berlokasi di New York, Amerika Serikat, tengah bergema. Karpet merah digelar, sejumlah cahaya lampu bersinar, serta ratusan pesohor, pegiat seni dan fesyen berbondong-bondong ke museum tersebut untuk menghadiri acara Met Gala 2025.
Met Gala adalah acara mode paling bergengsi dan glamor di dunia yang diadakan oleh Costume Institute dari The Metropolitan Museum of Art dengan menggabungkan fesyen, seni, dan budaya, serta menampilkan sederet orang paling terkenal di dunia. Tujuan dari acara ini adalah menggalang dana untuk departemen kostum dan fesyen di museum tersebut, yang dimulai sejak 1948.
Baca juga: Buku Slaves to Fashion Karya Monica L. Miller Jadi Inspirasi Pameran Met Gala 2025
Tahun ini, Met Gala mengusung tema “Superfine-Tailoring Black Style” dengan dress code “Tailored for You”. Tema ini dipilih dalam rangka menghormati dandyism kulit hitam dan mengeksplorasi pentingnya pakaian untuk mengangkat identitas orang kulit hitam. Tema Met Gala 2025 juga menjadi tempat bagi orang kulit hitam untuk mengekspresikan diri lewat pakaiannya.
Setiap tahunnya, The Metropolitan Museum of Art atau Met menjadi saksi bisu berlangsungnya acara Met Gala yang glamor dan meriah. Disebut sebagai museum seni ensiklopedis, Met merupakan museum terbesar keempat di dunia sekaligus museum seni terbesar di Amerika.
Dengan jutaan pengunjung setiap tahunnya, Met juga didapuk sebagai museum yang paling banyak dikunjungi di AS, dan museum seni paling banyak dikunjungi kelima di dunia. Met menarik wisatawan lantaran bangunannya yang berdiri sejak akhir abad ke-19, dengan jutaan koleksi karya seni bersejarah.
Meski berdiri di Amerika Serikat, gagasan pembuatan bangunan Met justru berawal pada tahun 1866 di Paris, Prancis, sebagaimana dikutip dari situs resmi The Met. Kala itu, sekelompok orang Amerika sepakat untuk membuat sebuah lembaga dan galeri seni nasional, guna menghadirkan seni dan pendidikan seni bagi masyarakat Amerika.
Pengacara John Jay, yang mengusulkan ide tersebut, segera merealisasikan proyek tersebut sekembalinya ke Amerika Serikat dari Prancis. Di bawah kepemimpinannya, Union League Club di New York lantas menggalang dana untuk mendukung tujuan tersebut, dari para pemimpin sipil, pengusaha, seniman, kolektor seni, serta donatur.
Pada prosesnya, Met dibangun secara bertahap hingga menjadi bangunan megah seperti saat ini. Met pertama kali dibuka untuk umum pada 13 April 1870, yang berlokasi Gedung Dodworth di 681 Fifth Avenue. Pada tahun yang sama, Met memperoleh objek koleksi pertamanya, sebuah sarkofagus Romawi. Setahun berselang, 174 lukisan Eropa melengkapi koleksi, termasuk karya Anthony van Dyck, Nicolas Poussin, dan Giovanni Battista Tiepolo.
Lokasi Met juga sempat berpindah sebentar ke Douglas Mansion di 128 West 14th Street pada 1880, hingga akhirnya menetap di Fifth Avenue dan 82nd Street hingga saat ini. Arsitektural bangunan Met mulai berkembang ketika arsitek Amerika, Calvert Vaux dan Jacob Wrey Mould, merancang bangunan bergaya Gotik Ruskinian pertama, yang fasad baratnya masih terlihat di Robert Lehman Wing. Sejak itu, berbagai tambahan yang sampai sekarang sepenuhnya mengelilingi bangunan asli.
Koleksi museum juga terus bertambah sepanjang sisa abad ke-19. Pembelian koleksi seni Siprus Cesnola pada tahun 1874–1876, karya seni yang berasal dari Zaman Perunggu hingga akhir periode Romawi, membantu membangun reputasi The Met sebagai gudang utama barang antik klasik. Ketika pelukis Amerika John Kensett meninggal tahun 1872, 38 karyanya dibawa ke museum, begitupun pada 1889, museum memperoleh dua karya Édouard Manet.
Pada awal abad ke-20, fasad Beaux-Arts Fifth Avenue dan aula besar museum dibangun yang desainnya dirancang oleh arsitek dan Pendiri Museum Trustee, Richard Morris Hunt. Bangunan itu pun dibuka untuk umum pada Desember 1902. Kehadiran bangunan itu membuat Met dijuluki sebagai 'istana seni neoklasik', bangunan publik dengan desain museum tua yang indah dan megah.
Sejak saat itu, Met menjelma menjadi salah satu pusat seni besar dunia. Beragam karya seni bersejarah dari berbagai negara di dunia disimpan di museum. Met menjadi rumah bagi 26.000 benda seni Mesir Kuno, 2.500 lukisan karya para maestro Eropa, termasuk koleksi lukisan, patung, dan seni dekoratif Amerika terlengkap di dunia.
Pada 1971, penambahan beberapa gedung juga dilakukan oleh Met yang dirancang oleh arsitek Kevin Roche John Dinkeloo, dan selesai pada 1991. Beberapa penambahannya termasuk gedung Robert Lehman Wing (1975), yang menampung koleksi karya maestro serta seni Impresionis dan Pasca-Impresionis; dan The Michael C. Rockefeller Wing (1982) yang memamerkan seni Afrika, Oseania, dan Amerika.
Baca juga: Tema Met Gala 2025 Superfine: Tailoring Black Style, Soroti Pengaruh Gaya Berpakaian Kulit Hitam
Ada juga Lila Acheson Wallace Wing (1987), ruang bagi koleksi seni modern dan kontemporer, serta Henry R. Kravis Wing (1991), yang dikhususkan untuk seni patung dan seni dekoratif Eropa dari Renaissance hingga awal abad ke-20. Dengan selesainya perluasan gedung, The Met pun terus menyempurnakan dan menata ulang koleksinya.
Hingga kini, The Met tercatat mengoleksi ribuan karya seni dari yang tertua sejak 5.000 tahun silam hingga karya-karya kontemporer, yang bisa dinikmati pengunjung dari seluruh penjuru dunia. Mereka mengoleksi, mempelajari, melestarikan, dan menyajikan karya seni penting lintas waktu dan budaya untuk menghubungkan semua orang dengan ide, kreativitas, dan pengetahuan.
Met Gala adalah acara mode paling bergengsi dan glamor di dunia yang diadakan oleh Costume Institute dari The Metropolitan Museum of Art dengan menggabungkan fesyen, seni, dan budaya, serta menampilkan sederet orang paling terkenal di dunia. Tujuan dari acara ini adalah menggalang dana untuk departemen kostum dan fesyen di museum tersebut, yang dimulai sejak 1948.
Baca juga: Buku Slaves to Fashion Karya Monica L. Miller Jadi Inspirasi Pameran Met Gala 2025
Tahun ini, Met Gala mengusung tema “Superfine-Tailoring Black Style” dengan dress code “Tailored for You”. Tema ini dipilih dalam rangka menghormati dandyism kulit hitam dan mengeksplorasi pentingnya pakaian untuk mengangkat identitas orang kulit hitam. Tema Met Gala 2025 juga menjadi tempat bagi orang kulit hitam untuk mengekspresikan diri lewat pakaiannya.
Setiap tahunnya, The Metropolitan Museum of Art atau Met menjadi saksi bisu berlangsungnya acara Met Gala yang glamor dan meriah. Disebut sebagai museum seni ensiklopedis, Met merupakan museum terbesar keempat di dunia sekaligus museum seni terbesar di Amerika.
Dengan jutaan pengunjung setiap tahunnya, Met juga didapuk sebagai museum yang paling banyak dikunjungi di AS, dan museum seni paling banyak dikunjungi kelima di dunia. Met menarik wisatawan lantaran bangunannya yang berdiri sejak akhir abad ke-19, dengan jutaan koleksi karya seni bersejarah.
Meski berdiri di Amerika Serikat, gagasan pembuatan bangunan Met justru berawal pada tahun 1866 di Paris, Prancis, sebagaimana dikutip dari situs resmi The Met. Kala itu, sekelompok orang Amerika sepakat untuk membuat sebuah lembaga dan galeri seni nasional, guna menghadirkan seni dan pendidikan seni bagi masyarakat Amerika.
Pengacara John Jay, yang mengusulkan ide tersebut, segera merealisasikan proyek tersebut sekembalinya ke Amerika Serikat dari Prancis. Di bawah kepemimpinannya, Union League Club di New York lantas menggalang dana untuk mendukung tujuan tersebut, dari para pemimpin sipil, pengusaha, seniman, kolektor seni, serta donatur.
Pada prosesnya, Met dibangun secara bertahap hingga menjadi bangunan megah seperti saat ini. Met pertama kali dibuka untuk umum pada 13 April 1870, yang berlokasi Gedung Dodworth di 681 Fifth Avenue. Pada tahun yang sama, Met memperoleh objek koleksi pertamanya, sebuah sarkofagus Romawi. Setahun berselang, 174 lukisan Eropa melengkapi koleksi, termasuk karya Anthony van Dyck, Nicolas Poussin, dan Giovanni Battista Tiepolo.
Lokasi Met juga sempat berpindah sebentar ke Douglas Mansion di 128 West 14th Street pada 1880, hingga akhirnya menetap di Fifth Avenue dan 82nd Street hingga saat ini. Arsitektural bangunan Met mulai berkembang ketika arsitek Amerika, Calvert Vaux dan Jacob Wrey Mould, merancang bangunan bergaya Gotik Ruskinian pertama, yang fasad baratnya masih terlihat di Robert Lehman Wing. Sejak itu, berbagai tambahan yang sampai sekarang sepenuhnya mengelilingi bangunan asli.
Koleksi museum juga terus bertambah sepanjang sisa abad ke-19. Pembelian koleksi seni Siprus Cesnola pada tahun 1874–1876, karya seni yang berasal dari Zaman Perunggu hingga akhir periode Romawi, membantu membangun reputasi The Met sebagai gudang utama barang antik klasik. Ketika pelukis Amerika John Kensett meninggal tahun 1872, 38 karyanya dibawa ke museum, begitupun pada 1889, museum memperoleh dua karya Édouard Manet.
Pada awal abad ke-20, fasad Beaux-Arts Fifth Avenue dan aula besar museum dibangun yang desainnya dirancang oleh arsitek dan Pendiri Museum Trustee, Richard Morris Hunt. Bangunan itu pun dibuka untuk umum pada Desember 1902. Kehadiran bangunan itu membuat Met dijuluki sebagai 'istana seni neoklasik', bangunan publik dengan desain museum tua yang indah dan megah.
Sejak saat itu, Met menjelma menjadi salah satu pusat seni besar dunia. Beragam karya seni bersejarah dari berbagai negara di dunia disimpan di museum. Met menjadi rumah bagi 26.000 benda seni Mesir Kuno, 2.500 lukisan karya para maestro Eropa, termasuk koleksi lukisan, patung, dan seni dekoratif Amerika terlengkap di dunia.
Pada 1971, penambahan beberapa gedung juga dilakukan oleh Met yang dirancang oleh arsitek Kevin Roche John Dinkeloo, dan selesai pada 1991. Beberapa penambahannya termasuk gedung Robert Lehman Wing (1975), yang menampung koleksi karya maestro serta seni Impresionis dan Pasca-Impresionis; dan The Michael C. Rockefeller Wing (1982) yang memamerkan seni Afrika, Oseania, dan Amerika.
Baca juga: Tema Met Gala 2025 Superfine: Tailoring Black Style, Soroti Pengaruh Gaya Berpakaian Kulit Hitam
Ada juga Lila Acheson Wallace Wing (1987), ruang bagi koleksi seni modern dan kontemporer, serta Henry R. Kravis Wing (1991), yang dikhususkan untuk seni patung dan seni dekoratif Eropa dari Renaissance hingga awal abad ke-20. Dengan selesainya perluasan gedung, The Met pun terus menyempurnakan dan menata ulang koleksinya.
Hingga kini, The Met tercatat mengoleksi ribuan karya seni dari yang tertua sejak 5.000 tahun silam hingga karya-karya kontemporer, yang bisa dinikmati pengunjung dari seluruh penjuru dunia. Mereka mengoleksi, mempelajari, melestarikan, dan menyajikan karya seni penting lintas waktu dan budaya untuk menghubungkan semua orang dengan ide, kreativitas, dan pengetahuan.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.