Mark Zuckerberg Sebut TikTok Jadi Ancaman Bagi Meta
20 April 2025 |
15:00 WIB
CEO Meta, Mark Zuckerberg kembali menyoroti keberadaan TikTok sebagai pesaing utama yang mengancam dominasi berbagai platform milik perusahaannya, seperti Facebook dan Instagram. Dalam pernyataan terbarunya saat berbicara di sidang anti-monopoli di Komisi Perdagangan Federal AS (FTC) yang digelar Rabu, (16/4/2025), Zuckerberg menyebut bahwa TikTok merupakan salah satu ancaman paling serius bagi pertumbuhan Meta di pasar global, terutama di kalangan generasi muda.
TikTok, yang dimiliki oleh perusahaan asal China, ByteDance, terus mengalami pertumbuhan pesat dalam jumlah pengguna aktif harian. Tak hanya itu, tingkat interaksi konten platform tersebut pun makin meningkat. Hal ini tak lepas dari kemampuan platform tersebut dalam mempromosikan tren secara viral, sehingga membuat pengguna lebih lama berada di aplikasinya dibandingkan dengan platform Meta.
Baca juga: Strategi Saingi TikTok, Instagram Bakal Hadirkan Aplikasi Reels
Tak mengherankan bila Zuckerberg juga menyebut TikTok telah menjadi perhatian utama Meta sejak 2018. Menurutnya, aplikasi milik ByteDance telah menjadi “prioritas utama” sekaligus “ancaman mendesak” dalam persaingan media sosial global. Pengusaha internet ini juga mengatakan popularitas TikTok secara langsung memperlambat kinerja Meta.
“Pertumbuhan kami menurun secara drastis,” katanya, seperti dikutip dari Tech Crunch, Sabtu, 19 April 2025.
TikTok mulai merajai pasar sejak ByteDance mengakuisisi Musical.ly pada 2017 dan menggabungkannya dengan TikTok setahun kemudian. Tak lama setelah itu, Meta, yang sebelumnya bernama Facebook, berhenti merilis data jumlah pengguna Facebook secara terpisah dan mulai menggunakan metrik ‘keluarga aplikasi’ yang mencakup Instagram dan WhatsApp.
Langkah ini dinilai sebagai cara untuk menyamarkan pelambatan pada aplikasi utama mereka. “Kita tidak bisa mengabaikan kekuatan TikTok dalam menarik perhatian audiens muda. Ini bukan hanya soal fitur, tetapi juga soal bagaimana mereka membentuk budaya digital baru,” ujar Zuckerberg.
Meta sendiri telah mencoba menyaingi TikTok dengan menghadirkan fitur serupa seperti Reels di Instagram dan Facebook. Meski fitur tersebut mendapat respons positif, Meta masih tertinggal dalam hal inovasi konten berbasis video pendek.
Pernyataan Zuckerberg ini menegaskan bahwa persaingan antara dua raksasa media sosial tersebut makin memanas, terutama di tengah upaya Meta untuk mempertahankan pangsa pasar dan memperluas pengaruhnya melalui proyek-proyek seperti metaverse dan kecerdasan buatan.
TikTok, yang awalnya diluncurkan di Tiongkok sebagai Douyin pada September 2016 dan diperluas secara global oleh ByteDance pada tahun berikutnya, berkembang dari platform video pendek seperti lip-sync dan tarian menjadi layanan video yang menjangkau berbagai jenis pemirsa.
Popularitasnya terus meningkat, terbukti dari laporan We Are Social dan Hootsuite yang mencatat bahwa pengguna Android global menghabiskan waktu paling banyak di TikTok dibandingkan platform lain sepanjang 2022.
Baca juga: Genhype, Yuk Mengenal Tren Velocity yang Populer di TikTok
Pengguna Android global menghabiskan waktu paling lama di TikTok, yaitu rata-rata 23,5 jam per bulan, mengungguli YouTube (23,1 jam), Facebook (19,7 jam), WhatsApp (17,3 jam), dan Instagram (12 jam). Di bawahnya terdapat Line (11 jam), Twitter (5,5 jam), Telegram (4 jam), Snapchat (3,2 jam), dan Facebook Messenger (3,1 jam).
Pada 2024, menurut Business of App, TikTok juga mencatat sekitar 1,6 miliar pengguna aktif bulanan di seluruh dunia, naik 6,1 persen dari tahun sebelumnya, menandakan pertumbuhan yang pesat dan daya tariknya yang konsisten di kalangan pengguna.
TikTok diketahui menghasilkan pendapatan sekitar US$23 miliar pada 2024, peningkatan 42,8 persen dari tahun ke tahun. Selai itu, aplikqsi ini diketahui memperoleh 77 persen pendapatannya dari iklan, sedangkan sisanya berasal dari perdagangan dan pembelian dalam aplikasi
TikTok, yang dimiliki oleh perusahaan asal China, ByteDance, terus mengalami pertumbuhan pesat dalam jumlah pengguna aktif harian. Tak hanya itu, tingkat interaksi konten platform tersebut pun makin meningkat. Hal ini tak lepas dari kemampuan platform tersebut dalam mempromosikan tren secara viral, sehingga membuat pengguna lebih lama berada di aplikasinya dibandingkan dengan platform Meta.
Baca juga: Strategi Saingi TikTok, Instagram Bakal Hadirkan Aplikasi Reels
Tak mengherankan bila Zuckerberg juga menyebut TikTok telah menjadi perhatian utama Meta sejak 2018. Menurutnya, aplikasi milik ByteDance telah menjadi “prioritas utama” sekaligus “ancaman mendesak” dalam persaingan media sosial global. Pengusaha internet ini juga mengatakan popularitas TikTok secara langsung memperlambat kinerja Meta.
“Pertumbuhan kami menurun secara drastis,” katanya, seperti dikutip dari Tech Crunch, Sabtu, 19 April 2025.
TikTok mulai merajai pasar sejak ByteDance mengakuisisi Musical.ly pada 2017 dan menggabungkannya dengan TikTok setahun kemudian. Tak lama setelah itu, Meta, yang sebelumnya bernama Facebook, berhenti merilis data jumlah pengguna Facebook secara terpisah dan mulai menggunakan metrik ‘keluarga aplikasi’ yang mencakup Instagram dan WhatsApp.
Langkah ini dinilai sebagai cara untuk menyamarkan pelambatan pada aplikasi utama mereka. “Kita tidak bisa mengabaikan kekuatan TikTok dalam menarik perhatian audiens muda. Ini bukan hanya soal fitur, tetapi juga soal bagaimana mereka membentuk budaya digital baru,” ujar Zuckerberg.
Meta sendiri telah mencoba menyaingi TikTok dengan menghadirkan fitur serupa seperti Reels di Instagram dan Facebook. Meski fitur tersebut mendapat respons positif, Meta masih tertinggal dalam hal inovasi konten berbasis video pendek.
Pernyataan Zuckerberg ini menegaskan bahwa persaingan antara dua raksasa media sosial tersebut makin memanas, terutama di tengah upaya Meta untuk mempertahankan pangsa pasar dan memperluas pengaruhnya melalui proyek-proyek seperti metaverse dan kecerdasan buatan.
TikTok, yang awalnya diluncurkan di Tiongkok sebagai Douyin pada September 2016 dan diperluas secara global oleh ByteDance pada tahun berikutnya, berkembang dari platform video pendek seperti lip-sync dan tarian menjadi layanan video yang menjangkau berbagai jenis pemirsa.
Popularitasnya terus meningkat, terbukti dari laporan We Are Social dan Hootsuite yang mencatat bahwa pengguna Android global menghabiskan waktu paling banyak di TikTok dibandingkan platform lain sepanjang 2022.
Baca juga: Genhype, Yuk Mengenal Tren Velocity yang Populer di TikTok
Pengguna Android global menghabiskan waktu paling lama di TikTok, yaitu rata-rata 23,5 jam per bulan, mengungguli YouTube (23,1 jam), Facebook (19,7 jam), WhatsApp (17,3 jam), dan Instagram (12 jam). Di bawahnya terdapat Line (11 jam), Twitter (5,5 jam), Telegram (4 jam), Snapchat (3,2 jam), dan Facebook Messenger (3,1 jam).
Pada 2024, menurut Business of App, TikTok juga mencatat sekitar 1,6 miliar pengguna aktif bulanan di seluruh dunia, naik 6,1 persen dari tahun sebelumnya, menandakan pertumbuhan yang pesat dan daya tariknya yang konsisten di kalangan pengguna.
TikTok diketahui menghasilkan pendapatan sekitar US$23 miliar pada 2024, peningkatan 42,8 persen dari tahun ke tahun. Selai itu, aplikqsi ini diketahui memperoleh 77 persen pendapatannya dari iklan, sedangkan sisanya berasal dari perdagangan dan pembelian dalam aplikasi
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.