Produser Ungkap Tantangan Mencari & Membangun Set Lokasi Film Pabrik Gula
06 April 2025 |
18:00 WIB
Dalam dunia perfilman, pemilihan lokasi syuting memegang peran krusial dalam membangun atmosfer dan memperkuat nuansa cerita. Sebuah lokasi yang tepat tidak hanya menjadi latar, tetapi juga memperdalam pengalaman emosional penonton menikmati film.
Dalam film Pabrik Gula, lokasi juga menjadi satu elemen yang penting. Sebab, lokasi ini benar-benar menjadi satu-satunya latar yang akan mendukung jalannya cerita dan pertumbuhan emosi para karakter di dalamnya.
Produser Manoj Punjabi mengatakan mencari lokasi syuting untuk film ini sangatlah menantang. Sebab, mencari pabrik penggilingan tebu yang telah tutup itu rupanya tak mudah.
Baca juga: Gokil, Film Horor Pabrik Gula Raih 2 Juta Penonton dalam 6 Hari
Manoj mengatakan pihaknya mencari lokasi pabrik yang telah tutup untuk alasan fleksibilitas. Sebab, jika menggunakan pabrik yang masih beroperasi, terdapat beberapa hal teknis yang tak bisa dikorbankan. Misalnya, soal jam syuting, karena jam kerja pabrik tidak bisa diganggu gugat.
Dengan memakai lokasi pabrik bekas, jam syuting relatif lebih fleksibel. Selain itu, pihaknya pun bisa melakukan beberapa perubahan desain menyesuaikan kebutuhan.
"Mencari lokasi itu memang menantang ya. Pabrik yang sudah tutup itu ternyata sangat-sangat terbatas,” ungkap Manoj Punjabi.
Selain itu, jika pun ada pabrik bekas yang telah tutup, ada banyak ketidakcocokan dari segi visual. Sebab, dalam set pabrik, ada beberapa kebutuhan tertentu yang berbeda-beda.
Pada akhirnya, Manoj memakai dua lokasi berbeda sekaligus. Meski dalam film terlihat seperti satu lokasi pabrik yang utuh, kenyataannya tim produksi berpindah-pindah lokasi untuk mendapatkan latar yang sesuai.
"Sebelum penggilingan itu kita di Cirebon selama 10 hari. Di sana kita ambil beberapa scene untuk di depannya doang. Sisanya kita syuting di sebuah pabrik di Yogyakarta," jelasnya.
Secara umum, Manoj mengaku puas dengan pemilihan lokasi syuting ini. Sebab, perlu diakui, lokasi-lokasi ini memberikan nilai tambah yang signifikan bagi film Pabrik Gula.
Dengan latar yang autentik dan atmosfer yang kuat, dia berharap film ini dapat memberikan pengalaman sinematik yang mendalam bagi para penonton. Tak hanya sekadar visual yang memukau, tetapi juga nuansa masa lalu yang terasa nyata dalam setiap adegan.
“Saya juga sangat terkesan dengan lokasi syuting kali ini. Keren banget. Selamat buat Awi sebagai sutradara yang sudah menemukan lokasi terbaik," imbuhnya.
Manoj mengungkapkan bahwa selain pabrik, salah satu hal menarik dalam proses syuting kali ini adalah penggunaan ladang tebu. Untuk keperluan film Pabrik Gula, tim produksi memanfaatkan lahan tebu seluas 4 hektare area.
Namun, penggunaan lokasi ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Ladang tebu yang digunakan masih beroperasi secara aktif, sementara proses syuting memerlukan banyak adegan pemotongan tebu. Padahal, tebu tersebut seharusnya dipanen dan diolah sebagaimana mestinya.
Untuk menghindari kerugian bagi petani, tim produksi memutuskan untuk mengakuisisi seluruh lahan tersebut. Dalam proyek ini, mereka secara khusus membeli hasil panen dari ladang tebu milik para petani.
Langkah ini diambil demi menciptakan gambaran kehidupan buruh yang lebih autentik dalam film. Dia menjelaskan bahwa proses mengubah ladang tebu menjadi lokasi syuting memerlukan waktu dan tahapan yang cukup panjang, mulai dari pemotongan tebu, pengangkutan dengan menggunakan 10 truk, hingga proses pengolahan di pabrik.
Film Pabrik Gula mengisahkan perjalanan Endah, Fadhil, Dwi, Hendra, Wati, Ningsih, dan Franky yang bergabung bersama puluhan pekerja lain sebagai buruh musiman di sebuah pabrik gula. Setiap tahunnya, pabrik ini memang merekrut warga dari berbagai desa untuk membantu mempercepat proses penggilingan tebu saat musim panen.
Awalnya, semua berjalan lancar, hingga sebuah kejadian aneh di sana mengubah segalanya. Suatu malam, Endah terbangun dan menyaksikan sosok misterius berkeliaran di dalam pabrik. Sejak saat itu, berbagai peristiwa aneh mulai terjadi.
Para buruh mengalami teror tak terduga, mulai dari kecelakaan kerja yang makin sering hingga kematian tragis seorang pekerja di sumur belakang. Konon, pabrik gula ini berdiri berdampingan dengan sebuah kerajaan demit, dan kini, kehadiran mereka telah mengusik keseimbangan dunia tak kasat mata. Film Pabrik Gula tayang Lebaran 2025.
Baca juga: Review Film Pabrik Gula: Sebuah Teror dari Sejarah Kelam
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dalam film Pabrik Gula, lokasi juga menjadi satu elemen yang penting. Sebab, lokasi ini benar-benar menjadi satu-satunya latar yang akan mendukung jalannya cerita dan pertumbuhan emosi para karakter di dalamnya.
Produser Manoj Punjabi mengatakan mencari lokasi syuting untuk film ini sangatlah menantang. Sebab, mencari pabrik penggilingan tebu yang telah tutup itu rupanya tak mudah.
Baca juga: Gokil, Film Horor Pabrik Gula Raih 2 Juta Penonton dalam 6 Hari

Still photo film Pabrik Gula (Sumber gambar: Instagram/pabrikgulafilm)
Dengan memakai lokasi pabrik bekas, jam syuting relatif lebih fleksibel. Selain itu, pihaknya pun bisa melakukan beberapa perubahan desain menyesuaikan kebutuhan.
"Mencari lokasi itu memang menantang ya. Pabrik yang sudah tutup itu ternyata sangat-sangat terbatas,” ungkap Manoj Punjabi.
Selain itu, jika pun ada pabrik bekas yang telah tutup, ada banyak ketidakcocokan dari segi visual. Sebab, dalam set pabrik, ada beberapa kebutuhan tertentu yang berbeda-beda.
Pada akhirnya, Manoj memakai dua lokasi berbeda sekaligus. Meski dalam film terlihat seperti satu lokasi pabrik yang utuh, kenyataannya tim produksi berpindah-pindah lokasi untuk mendapatkan latar yang sesuai.
"Sebelum penggilingan itu kita di Cirebon selama 10 hari. Di sana kita ambil beberapa scene untuk di depannya doang. Sisanya kita syuting di sebuah pabrik di Yogyakarta," jelasnya.
Secara umum, Manoj mengaku puas dengan pemilihan lokasi syuting ini. Sebab, perlu diakui, lokasi-lokasi ini memberikan nilai tambah yang signifikan bagi film Pabrik Gula.
Dengan latar yang autentik dan atmosfer yang kuat, dia berharap film ini dapat memberikan pengalaman sinematik yang mendalam bagi para penonton. Tak hanya sekadar visual yang memukau, tetapi juga nuansa masa lalu yang terasa nyata dalam setiap adegan.
“Saya juga sangat terkesan dengan lokasi syuting kali ini. Keren banget. Selamat buat Awi sebagai sutradara yang sudah menemukan lokasi terbaik," imbuhnya.
Manoj mengungkapkan bahwa selain pabrik, salah satu hal menarik dalam proses syuting kali ini adalah penggunaan ladang tebu. Untuk keperluan film Pabrik Gula, tim produksi memanfaatkan lahan tebu seluas 4 hektare area.
Namun, penggunaan lokasi ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Ladang tebu yang digunakan masih beroperasi secara aktif, sementara proses syuting memerlukan banyak adegan pemotongan tebu. Padahal, tebu tersebut seharusnya dipanen dan diolah sebagaimana mestinya.
Untuk menghindari kerugian bagi petani, tim produksi memutuskan untuk mengakuisisi seluruh lahan tersebut. Dalam proyek ini, mereka secara khusus membeli hasil panen dari ladang tebu milik para petani.
Langkah ini diambil demi menciptakan gambaran kehidupan buruh yang lebih autentik dalam film. Dia menjelaskan bahwa proses mengubah ladang tebu menjadi lokasi syuting memerlukan waktu dan tahapan yang cukup panjang, mulai dari pemotongan tebu, pengangkutan dengan menggunakan 10 truk, hingga proses pengolahan di pabrik.
Film Pabrik Gula mengisahkan perjalanan Endah, Fadhil, Dwi, Hendra, Wati, Ningsih, dan Franky yang bergabung bersama puluhan pekerja lain sebagai buruh musiman di sebuah pabrik gula. Setiap tahunnya, pabrik ini memang merekrut warga dari berbagai desa untuk membantu mempercepat proses penggilingan tebu saat musim panen.
Awalnya, semua berjalan lancar, hingga sebuah kejadian aneh di sana mengubah segalanya. Suatu malam, Endah terbangun dan menyaksikan sosok misterius berkeliaran di dalam pabrik. Sejak saat itu, berbagai peristiwa aneh mulai terjadi.
Para buruh mengalami teror tak terduga, mulai dari kecelakaan kerja yang makin sering hingga kematian tragis seorang pekerja di sumur belakang. Konon, pabrik gula ini berdiri berdampingan dengan sebuah kerajaan demit, dan kini, kehadiran mereka telah mengusik keseimbangan dunia tak kasat mata. Film Pabrik Gula tayang Lebaran 2025.
Baca juga: Review Film Pabrik Gula: Sebuah Teror dari Sejarah Kelam
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.