Ilustrasi pemenuhan nutrisi dan stimulasi terhadap anak (dok: Unsplash/Hillshire Farm)

Tak Hanya Nutrisi, Stimulasi Juga Penting untuk Tumbuh Kembang Anak

18 August 2021   |   17:41 WIB
Image
Rezha Hadyan Hypeabis.id

Keluarga, terutama para orangtua berperan penting memberikan stimulasi yang baik dan ideal kepada anak usia balita. Stimulasi atau kegiatan yang dilakukan untuk merangsang kemampuan kognitif ini sama pentingnya dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak.

Menurut Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr. Soedjatmiko, pemenuhan kebutuhan nutrisi dan stimulasi yang dilakukan beriringan akan meningkatkan kecerdasan umum, kemampuan verbal, kemampuan membaca dan memahami bacaan, serta kemampuan menyelesaikan sekolah anak.

“Ini berdasarkan penelitian di Jamaika, dengan anak-anak bergizi buruk atau stunting. Anak-anak yang hanya menerima perbaikan nutrisi saja, ada separuh yang berhasil, separuh tidak. Tetapi pada mereka yang menerima stimulasi, semuanya berhasil pada kemampuan bicara, kemampuan membaca, dan kemampuan lainnya,” katanya.

Lebih lanjut, Soedjatmiko mengungkapkan bahwa pemberian stimulasi kepada anak usia balita di Indonesia dihadapkan pada sejumlah persoalan, salah satunya adalah rendahnya pengetahuan yang dimiliki oleh orangtua akibat rendahnya tingkat literasi. Hal tersebut tercermin dari ketidakmampuan banyak orang dewasa, khususnya para orangtua memahami bacaan dan menyampaikan gagasannya secara lisan.

“Masih banyak ibu-ibu yang membaca kalimat pun putus-putus keringat dingin. Bagaimana mau memahami [bacaan] panjang dan memberikan contoh kepada anaknya? Oleh karena itu, mereka harus dibacakan dahulu oleh orang lain dan diberikan contoh,” ungkapnya.

Permasalahan lain yang juga dihadapi terkait dengan stimulasi anak usia balita adalah kurangnya waktu yang dimiliki oleh orangtua, terutama ibu di kota-kota besar. Selain bekerja, tak jarang mereka juga harus menyelesaikan pekerjaan rumahnya yang membuat mereka tak bisa meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak mereka.

Alhasil, banyak orangtua yang menyerahkan pengasuhan anak-anak mereka kepada asisten rumah tangga. Tentu hal tersebut bukanlah pilihan bijak mengingat sebagian besar dari mereka tak punya kemampuan stimulasi anak yang baik lantaran berpendidikan rendah.

“Di rumah lebih banyak dengan baby sitter yang pendidikannya S4, SD kelas empat pun tidak tamat. Apakah mereka mampu mengajarkan [anak] disiplin, jujur, kemampuan komunikasi, saling mendukung, bekerja keras, mencintai apa yang dikerjakan? Apakah mampu membentuk ini dari kecil?” ucapnya.

Menurut Soedjatmiko, orang tua dengan kesibukan juga tetap dapat menstimulasi anak dengan baik. Salah satunya adalah dengan melibatkan anak saat mereka beraktivitas.

Sebagai contoh, saat aktivitas mencuci, anak bisa ikut dilibatkan walaupun hanya sekadar bermain air atau gelembung. Di tengah aktivitas tersebut orangtua bisa menceritakan pekerjaan mereka, apa saja yang ada di sekitarnya, dan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

“Ibunya sedang webinar di rumah, ibunya bisa sambil berbisik kepada anaknya menyuruhnya menggambar, mewarnai, atau menempel di sebelahnya. Jangan lupa setelah mereka selesai berilah pujian. Sekecil apapun prestasi anak harus dipuji karena ini adalah dasar kecerdasan emosional, kemampuan interpersonal,” tuturnya.

Sementara itu, terkait dengan pemenuhan nutrisi anak, Soedjatmiko menyebut masa pandemi Covid-19 bisa dimanfaatkan orangtua untuk meningkatkan pengetahuannya mengenai gizi anak. Selain itu, orangtua bisa belajar memodifikasi makanan agar diterima dengan baik oleh anak, alih-alih hanya memaksa anak menghabiskan makanan yang tidak sesuai seleranya.

Selain itu, pada masa pandemi Covid-19 pemenuhan nutrisi menjadi hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi untuk menekan risiko terinfeksi virus atau bakteri lain yang menyebabkan berbagai penyakit pada anak maupun orang dewasa.

Terakhir, Soedjatmiko menegaskan nutrisi yang sesuai dan stimulasi yang tetap perlu dibarengi dengan upaya proteksi anak dari berbagai macam penyakit lewat imunisasi. Permasalahannya, selain masih adanya orangtua yang menolak imunisasi, terdapat pula kesalahpahaman pada orangtua mengenai waktu pemberian imunisasi.

“Vaksinasi yang masuk dalam program pemerintah dan yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia [IDAI] dua-duanya sama penting, tidak ada istilah wajib dan wajib. Itu karena kemampuan pemerintah kita terbatas saja. Minimal yang gratis dari pemerintah di Puskesmas atau Posyandu lengkapi. Kalau ada dana, bapaknya berhenti merokok misalnya bisa ditabung belikan vaksin-vaksin lainnya,” ucapnya.
SEBELUMNYA

Dukung Percepatan Vaksinasi, TikTok Kumpulkan Konten Edukatif

BERIKUTNYA

4 Elemen Ini Bantu Perbaiki Kualitas Tidur

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: