Aachoo, Banksy, 2020. (Dok. Banksy Instagram)

Simak 5 Mural Banksy yang Kontroversial

15 August 2021   |   16:37 WIB

Banksy adalah seniman jalanan, aktivis politik, dan sutradara film subversif anonim. Grafiti freehand satir pertamanya muncul di Bristol pada 1990-an dan menjelang akhir dekade, dia mulai menggunakan stensil untuk menciptakan gayanya sendiri yang berbeda.

Sejak itu, dia telah menjadi ikon gerakan seni jalanan, meskipun hingga hari ini profilnya tetap anonim.

Genhype pasti tahu Banksy dan karya muralnya yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Karya Banksy banyak mengangkat tema seperti rasisme, kekerasan, perang, kapitalisme, konsumerisme, dan imperialisme.

Saat ini, graffiti atau mural lebih sering dikaitkan dengan gagasan vandalisme, seni jalanan, dan citra politik namun terus menjadi pengaruh besar di dunia seni kontemporer, dengan Banksy di garis terdepan.

Tidak heran dengan gejolak sosial, ekonomi, politik yang terjadi saat ini ada semakin banyak seniman jalanan yang berani menyuarakan pendapatnya.

Selama bertahun-tahun, dia telah menangkap imajinasi publik dengan mural kontroversial, mockumentary (Exit Through the Gift Shop) yang berfokus pada ledakan baru seniman jalanan, kanvas yang menarik, instalasi yang menggugah pikiran, dan pameran mobile yang menakjubkan.

Banksy sering kali memasukkan karakter kunci pada muralnya terutama anak-anak, polisi, kera dan tikus, untuk menggabungkan humor gelap dengan politik dan budaya populer.

Kolektor seni memuja karyanya, dan banyak yang percaya bahwa tidak ada koleksi modern yang lengkap tanpa karya Banksy.

Lukisan cat minyak Devolved Parliament karyanya baru-baru ini terjual dengan rekor £9.900.000.

Sampai saat ini, belum ada seniman kontemporer yang menggunakan kekuatan seni jalanan dan desain untuk menyampaikan pernyataan politik yang kontroversial dan pesan yang menyentuh seperti yang dilakukan Banksy.

Dia telah menjadi ikon dalam banyak konteks sosial.

Berikut adalah lima karyanya yang paling kontroversial dalam dua dekade terakhir:

1. Slave Labour (2012), London, Inggris.

Slave Labour, 2012 (Dok. TheVerge)

Slave Labour, 2012 (Dok. TheVerge)

Di tengah perayaan Olimpiade London 2012, Banksy hadir untuk meredam suasana dengan sikap anti-konsumerismenya, menggunakan seninya untuk menarik perhatian pada praktik sweatshop

Slave Labour dilukis dengan cat semprot di Wood Green, London, Inggris. Mural ini menggambarkan seorang anak kecil yang menggunakan mesin jahit untuk membuat Union Jack. Karyanya menjadi pengingat yang mencolok atas tindakan tidak manusiawi yang dilakukan pada praktik produksi massal untuk perayaan pengangkatan Ratu Elizabeth II dan Olimpiade London.

2. I Remember When All This Was Trees (2010), Detroit, Amerika Serikat
 

I Remember When All This Was Trees, 2010. (Dok. Art Net)

I Remember When All This Was Trees, 2010. (Dok. Art Net)

Pada tahun 2010, Banksy menyampaikan pesan pedih di tengah kesulitan sosial dan ekonomi yang sedang berlangsung di kota Detroit dengan melukiskan I Remember When All This Was Trees.

Di samping tulisan yang dibuat dengan cat berwarna merah, dia menggambar seorang anak muda putus asa yang menghadap pejalan kaki, memegang kaleng cat. dan sikat. 

Terlihat di sisi bangunan terlantar di luar Pabrik Packard yang rusak; mural ini menyoroti bagaimana setelah deforestasi massal dan hilangnya alam, Detroit telah berubah menjadi debu dan tidak seperti sebelumnya.

3. Girl With Balloon (2002), London, Inggris

Girl with Balloon, 2002. (Dok. Moco Museum)

Girl with Balloon, 2002. (Dok. Moco Museum)

Dia menggambar beberapa mural Girl With Balloon, salah satu lukisan Banksy yang paling populer, di seluruh kota London. Lukisan dinding seorang gadis kecil monokrom meraih balon merah berbentuk hati ini melambangkan cinta, harapan, dan kepolosan.

Tahun 2018, dia membuat versi yang lebih kecil di atas kanvas dan itu dihancurkan sendiri beberapa saat setelah menjual lebih dari 1 juta poundsterling, mengejutkan semua orang di lelang Sotheby.

Lewat aksi ini, Banksy ingin menunjukkan kritik atas tingginya harga karyanya dan betapa seni telah menjadi komoditas milik orang kaya. Tapi ironisnya, beberapa ahli mengatakan potongan lukisan itu jadi lebih berharga sekarang.

4. West Banksy 

Love Is In The Air-Flower Thrower, 2003,Betlehem (Dok. My Art Broker)

Love Is In The Air-Flower Thrower, 2003,Betlehem (Dok. My Art Broker)

Sejak pertengahan 2000-an, karya Banksy yang dapat diidentifikasi telah terlihat di Gaza dan Tepi Barat, dengan koleksi lukisannya yang dijuluki 'West Banksy'.

Tindakannya tidak berhenti di situ. Banksy bahkan membuka Walled Off Hotel, sindiran terhadap dinding pembatas antara Palestina dan Israel, pada 2017 di Betlehem. 

Banksy berharap hotel itu dapat memberikan dorongan dalam pariwisata dan kesempatan kerja di Betlehem, yang telah mengalami pembatasan perjalanan oleh Israel.

5. If Graffiti Changed Anything It Would Be Illegal (2011), London, Inggris.
 

If Graffiti Changed Anything It Would Be Illegal. (Dok My Art Broker)

If Graffiti Changed Anything It Would Be Illegal. (Dok My Art Broker)
 

Mural ini terletak di sebuah dinding di Clipstone Street, Fitzrovia yang muncul pada Senin Paskah tahun 2011. Lukisan itu menggambarkan salah satu tikus ikonik Banksy di bawahnya.

Adapun, kutipan yang dia tuliskan dengan cat merah mengacu pada kutipan dari aktivis politik abad ke-20 Emma Goldman yang mengkampanyekan hak-hak Perempuan, kata-katanya adalah: “Jika pemungutan suara mengubah apa pun, itu akan menjadi ilegal”.

Tak lama setelah mural ini muncul, kampanye lokal diluncurkan untuk menyelamatkan mural dari penghapusan oleh Dewan Kota Westminster. Hingga hari ini, mural itu dilindungi oleh lapisan Perspex, meskipun sebagian besar telah ditutupi tag dan grafiti.

Editor: Dika Irawan
SEBELUMNYA

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Raih Penghargaan Tertinggi di Locarno Film Festival

BERIKUTNYA

Digital Superstar Ajak Siswa SMA/SMK Jadi Pemenang pada Era Digital

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: