Ilustrasi pendidikan daring anak (Kaspersky)

Mayoritas Anak di Kawasan Asia Pasifik Lebih Memilih Pendidikan Tatap Muka

02 August 2021   |   13:54 WIB
Image
Syaiful Millah Asisten Manajer Konten Hypeabis.id

Berdasarkan survei Kaspersky baru-baru ini, lebih dari separuh anak-anak di kawasan Asia Pasifik (55 persen) yang selama pandemi menggunakan pembelajaran jarak jauh, ternyata lebih menyukai pendidikan secara tatap muka.

Kendati persentasenya terbilang tinggi, tapi angka tersebut merupakan yang terendah dibandingkan dengan wilayah lainnya secara global, seperti di Timur Tengah (58 persen), Afrika (73 persen), dan Amerika Latin (75 persen).

Mayoritas anak-anak di kawasan Asia Pasifik tidak menyukai belajar daring atau jarak jauh karena harus menghabiskan banyak waktu di depan layar dan adanya masalah teknis yang sering terjadi.

Sebagian besar dari mereka juga menyatakan lebih sulit memahami materi pendidikan pada pembelajaran daring dibandingkan dengan pembelajaran langsung. Selain itu, mereka juga mengaku merindukan aktivitas bermain dan berinteraksi dengan teman di sela-sela waktu belajar.

Namun demikian, hampir setengah dari murid yang disurvei (45 persen) mengatakan bahwa mereka lebih menyukai sistem pembelajaran daring.

Head of Online Child Safety Department Kaspersky Andrey Sidenko mengatakan transisi menuju pembalajaran jarak jauh selama pandemi menjadi tantangan nyata bagi anak-anak, orang tua, dan guru.

Menurutnya, kurikulum pendidikan juga perlu segera direstrukturisasi agar tidak memengaruhi pembelajaran siswa. Kaspersky melihat hal tersebut sudah mulai dilakukan di banyak tempat.

"Meskipun cara offline masih merupakan bentuk pendidikan sekolah yang paling efektif, penting untuk memperkenalkan berbagai elemen digital dan interaktif ke dalam proses pendidikan," katanya.

Data survei Kaspersky juga menunjukkan mata pelajaran yang paling sulit dipahami oleh anak-anak di kawasan Asia Pasifik selama pembelajaran jarak jauh adalah ilmu alam dan eksakta.

Lebih spesifiknya yakni pelajaran matematika dengan persentase 48 persen, kimia dengan 28 persen, fisika dengan 25 persen, dan biologi dengan persentase 25 persen. Perusahaan menyatakan tren ini juga terjadi di tingkat global.

Adapun, sebanyak 68 persen orang tua di kawasan ini menyatakan tidak ingin melanjutkan format pembelajaran ini setelah pandemi dengan alasan anak terlalu banyak berada di depan layar dan kekhawatiran penurunan kualitas pendidikan.



Editor: Indyah Sutriningrum

SEBELUMNYA

Ini 4 Karya Menarik di ARTJOG MMXXI, Yuk Ikuti Pameran Virtualnya!

BERIKUTNYA

Panduan Mendesain Teras Sempit Biar Terlihat Cantik

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: