Karya Dullah, Bung Karno di Tengah Perang Revolusi (Sumber foto: Museum MACAN)

Hypereport Kemerdekaan: Spirit Revolusioner dalam Karya-karya Seniman Dullah

17 August 2023   |   10:30 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Nama Dullah tampak terpinggirkan dari wacana seni lukis Indonesia sejak Orde Baru mulai mempreteli pengaruh Soekarno. Pelukis satu ini terbilang kalah populer dibandingkan nama "Dullah" lainnya seperti Sudjono Abdullah, Basuki Abdullah, dan Abdullah Suriosubroto.

Namun, bagi Presiden Soekarno, Dullah adalah pelukis revolusioner. Karya-karyanya berbeda dari para pelukis mooi indie yang kala itu gemar menggambarkan pemandangan Nusantara nan permai. Dengan kepiawaiannya melukis realisme, Dullah menggambar kehidupan sehari-hari masyarakat Marhaen, golongan rakyat kecil atau proletar.

Hypereport: Kisah Lukisan Karya Henk Ngantung, Diincar Soekarno & Jadi Saksi Bisu Detik-detik Proklamasi

Gaya lukisan Dullah tak lepas dari aliran realisme dari Uni Soviet yang berkembang pada abad ke-19. Lukisan-lukisannya kental dengan gambaran penderitaan rakyat, mulai dari nasib petani di bawah kuasa tuan tanah hingga penderitaan rakyat kecil lainnya. Sekalipun menggambarkan pemandangan, Dullah akan melukis pemandangan kampung-kampung yang kumuh.

Keberpihakannya pada rakyat mengantarkan Dullah akhirnya bergabung dengan sebuah kelompok seniman yang terbentuk selama revolusi fisik yakni Seniman Indonesia Muda (SIM) yang digagas oleh pelukis senior sekaligus gurunya, S. Sudjojono. Dullah bersama sejumlah pelukis lainnya yang bergabung dengan SIM seperti Sundoro, Zaini, dan Najah, ditugaskan pemerintah untuk untuk membuat poster, spanduk, plakat, dan lukisan dokumentasi perang.

Hal itu dilakukan ketika pemerintah memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta pada 1946 untuk menyelamatkan negara dari tangan para sekutu pascaproklamasi.  Tak hanya para politikus dan angkatan bersenjata, para seniman pun ikut diboyong ke Yogyakarta sebagai 'perekam' peristiwa-peristiwa penting selama revolusi.

Sejak itu, pelukis-pelukis muda di SIM mulai diajar melukis dengan pendekatan realisme-fotografis. Mereka juga diwajibkan untuk menyelesaikan lukisannya langsung secara on the spot. Itu menjadi kecakapan dasar yang mesti dimiliki anggota SIM tak terkecuali Dullah.

Namun, karya-karya sketsa Dullah yang dibuatnya selama masa revolusi nyaris tidak terpublikasi. Sebagian karyanya yang bisa diakses adalah lukisan-lukisannya yang bermodalkan dari visualisasi sketsa untuk menangkap momentum. Sketsa itu lantas diolah dengan imajinasi dan fantasi sang seniman menjadi bentuk karya lukisan yang baru.

Hal itu tampak pada salah satu lukisan Dullah berjudul Praktek Tentara Pendudukan Asing. Lukisan berdimensi 199 xm x 137 cm itu menampilkan gambaran tentara kolonial yang sedang merangsek masuk ke dalam rumah rakyat dan menangkap mereka secara paksa.
 

(Sumber foto: IVAA)

(Sumber foto: IVAA)

Ketiga orang pribumi yang menjadi sasaran penangkapan tentara kolonial itu terdiri dari seorang perempuan berkebaya yang tampak ditodong senjata, seorang pria yang tersungkur ke lantai dari kursinya, dan seorang anak yang terjatuh dari dekapan orang tuanya. Sementara para tentara itu dilukiskan sebagai sosok yang beringas.

Sikap perlawanan Dullah terhadap penjajah juga tampak dalam lukisannya yang lain berjudul Di Bawah Penyiksaan Tentara Asing. Lukisan berdimensi 240 cm x 230 cm itu menggambarkan sekelompok tentara kolonial yang menyiksa rakyat pribumi di sebuah markas Belanda.

Kala itu, rakyat pribumi kerap menjadi tawanan tentara Belanda dan biasanya dipermainkan sambil ditanya berbagai hal seperti soal posisi markas gerilyawan, lumbung padi, dan tempat peternakan. Jika tawanan tidak mau menjawab, mereka akan disiksa tanpa ampun.

Pada lukisannya yang lain berjudul Persiapan Gerilya, Dullah menggambarkan suasana kecamuk revolusi dari sudut pandang yang lain. Dalam lukisan yang dibuat pada 1949 ini, Dullah tidak menggambarkan adegan pertempuran di medan laga atau kontak senjata dengan penjajah.

Melalui lukisan ini, sang seniman malah menggambarkan persiapan untuk melaksanakan sebuah pertempuran dengan penjajah di mana dia menggunakan sejumlah teman gerilyanya dari daerah Gunung Kidul, Yogyakarta sebagai model lukisan tersebut.

Di samping itu, karya Dullah lain yang monumental yakni berjudul Bung Karno di Tengah Perang Revolusi (1966). Lukisan berdimensi 200 cm x 300 cm itu menggambarkan Sukarno di antara para pejuang kemerdekaan. Dalam lukisan itu, Soekarno digambarkan sedang berdiri dan berpidato di antara para pejuang yang tengah mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Lukisan ini tidak dibuat berdasarkan peristiwa sejarah asli, tetapi memiliki kemiripan dengan situasi di saat Soekarno menyampaikan pidato bersejarah di lapangan Ikatan Atletik Djakarta atau lapangan IKADA di Jakarta pada 19 September 1945.

Di tempat tersebut, ribuan orang berkumpul dalam rangka memperingati 1 bulan proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang juga dikenal sebagai Rapat Raksasa Lapangan Ikada.

Lukisan ini tidak hanya menunjukkan simpati sang perupa kepada Sukarno, tetapi juga menjadi pengingat bagi warga Indonesia untuk bersatu di masa yang penuh dengan pergolakan. Dullah terlihat mengistimewakan sosok Sukarno dalam lukisan ini, dengan menjadikannya figur sentral di dalam bidang kanvas yang sang pelukis hadirkan.


Potret Kerakyatan

Kurator Sudjud Dartanto mengatakan sebagai pelukis revolusioner yang berpihak kepada persoalan kerakyatan, Dullah tidak melulu memvisualisasikannya dalam bentuk 'dramaturgi' peperangan, revolusi, maupun menggambarkan ideologi tertentu yang sarat akan nuansa heroik.

Sebaliknya, sang seniman justru tertarik untuk melukiskan potret kerakyatan itu sendiri secara lugas dan apa adanya. "Dullah adalah salah satu sosok yang penting dalam aliran realisme-sosial pada waktu itu," katanya.

Sudjud menjelaskan bahwa subjek utama dalam lukisan-lukisan Dullah adalah kelompok rakyat yang disebut sebagai kaum Marhaen oleh Sukarno. Kaum ini berangkat dari ideologi marhaenisme yang menentang penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa, salah satunya ditandai dengan kepemilikan alat produksi dan bekerja di kaki sendiri.

"Jadi sekalipun bukan dalam setting [masa] revolusi, lukisan-lukisan Dullah selalu mencerminkan spirit revolusioner," terangnya.

Baca juga: Hypereport: Mengenang Kekaryaan Seniman Srihadi Soedarsono di Gelanggang Pertempuran

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

Hypereport Kemerdekaan: Kisah Lukisan Karya Henk Ngantung, Diincar Soekarno & Jadi Saksi Bisu Detik-detik Proklamasi

BERIKUTNYA

Rayakan Hari Kemerdekaan RI, Google Doodle Tampilkan Desain Semarak Permainan 17 Agustusan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: