Ilustrasi anak (Sumber gambarL Yuri Shirota/Unsplash)

Moms-Dads, Yuk Stimulasi Sensorik & Motorik Anak dengan Cara Ini

24 July 2023   |   12:00 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Tidak hanya memahami parenting, orang tua juga dianjurkan untuk memantau tumbuh kembang fisik anak lewat kemampuan sensorik dan motoriknya. Pasalnya, dua kemampuan ini terbilang dasar untuk melihat pencapaian tumbuh anak saat usia awal pertumbuhan dimulai dari balita.
 
Peran ibu sangat krusial dalam menstimulasi kemampuan anak di awal masa hidupnya. Menurut Dokter Anak I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, ibu bisa melakukan stimulasi dalam bentuk pancaindra saat anak masih berusia bayi. Pancaindra berkaitan dengan kemampuan sensorik anak dalam menggunakan indra pada tubuhnya.

Baca juga: Seni Lukis Jadi Terapi untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Menyusui merupakan salah satu cara paling sederhana untuk merangsang sensorik anak di awal masa pertumbuhan.  “Bertambahnya usia anak nanti stimulasinya akan makin kompleks. Tapi prinsip mudahnya, di satu tahun pertama anak cukup bermain dengan tubuh ibunya untuk mendorong stimulasi,” kata I Gusti Ayu Nyoman Partiwi beberapa waktu lalu. 

Setelah tahap stimulasi lewat menyusui, orang tua mulai bisa mengenalkan beragam media untuk memaksimalkan perangsangan . Misalnya mengenalkan buku-buku atau mainan anak yang dirancang khusus untuk menstimulasi sensorik saat anak sudah bertambah usia dan semakin dewasa. 
 
Menurut I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, pengenalan buku dan mainan sudah bisa dilakukan saat anak berusia tiga bulan. Sebetulnya, bayi sudah mampu menangkap warna hitam dan putih saat berusia dua bulan. Maka orang tua bisa mendorong rasa ingin tahu balita dengan mengenalkan buku-buku atau kartu berwarna hitam putih. Ini merupakan salah satu metode untuk mengenalkan konteks bacaan pada anak di awal kehidupannya.
 
Selanjutnya, orang tua bisa mendorong rangsangan sensorik dan motorik dengan ragam mainan yang lebih kompleks. Misalnya, mainan yang mengeluarkan bunyi tertentu, buku-buku dengan tekstur kasar dan halus, atau buku-buku berwarna dengan tantangan tertentu sesuai milestone anak. Untuk merangsang motorik, orang tua bisa mengajak anak bermain dengan mainan yang bisa ditarik dan didorong atau menempatkan mainan di tangga yang dapat dijangkau anak, tentunya wajib dengan pengawasan orang tua.
 
“Targetnya adalah motorik kasar dan motorik halus untuk merangsang pancaindra dan gerak tubuh. Kemudian dalam pengajaran juga harus ada unsur interaksi dan kontak langsung dengan anak,” katanya.
 

Ketahui Profil Sensori Anak

Ilustrasi anak bermain (Sumber gambar: Tina Floersech/Unsplash)

Ilustrasi anak bermain (Sumber gambar: Tina Floersech/Unsplash)

Untuk membuat anak nyaman bertumbuh sesuai dengan kemampuannya, orang tua perlu memahami profil sensori yang dimiliki anak. Nadia Emanuella Gideon, Psikolog & Founder Jakarta Child Development Center (JCDC) mengatakan, setiap anak lahir dengan profil sensori yang berbeda-beda dan terbilang spesial. Profil sensori pada anak dibawa secara genetik dari campuran profil ayah dan ibu. Nadia mengatakan, memahami profil anak bisa membantu orang tua dalam memahami kenyamanan anak dalam bertumbuh dan berkembang.
 
“Profil ini sudah bawaan genetik, itu tidak bisa berubah tapi bisa beradaptasi," kata Nadia

Setiap manusia memiliki sistem sensorik yang akan membentuk personalisasi profil sensori dalam proses adaptasi dari bayi hingga berusia tua. Secara umum, sistem sensorik dasar meliputi pancaindra dalam melihat, mendengar, mencium, merasa, dan meraba. Namun di luar sistem sensorik dasar, ada beberapa rangkaian sistem lainnya yang ikut melibatkan tumbuh kembang anak.
 
Salah satunya adalah interoception yang mengatur sensasi fisiologis tubuh, seperti rasa lapar dan detak jantung. Terdapat pula sensorik proprioception yang mendorong sensasi gerakan sendi dan otot. Memahami sistem ini berguna untuk melihat respons dan gerak anak dalam beraktivitas sesuai dengan pertumbuhan usianya.
 
Sistem sensorik lainnya adalah vestibular. Menurut Nadia, sistem ini bertumpu pada keseimbangan dan orientasinya melihat ruang. “Ada anak yang nyaman saat bermain di tempat atraksi, ada yang sudah nangis duluan. Ini membuktikan jika orientasi setiap manusia berbeda,” katanya.

Nadia menyebut, pemahaman orang tua terhadap profil sensori bisa memberi gambaran tentang kondisi dan kebutuhan anak serta langkah yang harus dilakukan orang tua untuk mengawal pertumbuhan anak. Tak kalah penting, memahami profil sensori anak juga bisa membuka mata orang tua untuk tidak memaksakan pertumbuhan anak.

Saat sudah mengetahui profil sensori anak, maka orang tua bisa melakukan berbagai cara untuk mendorong kemampuan adaptasi anak. Misalnya, anak bisa dibiasakan merasakan sensasi yang sebelumnya dianggap tidak nyaman seperti memegang pasir atau agar yang memiliki tesktur berbeda-beda.

Baca juga: Cara Mudah Tanamkan Literasi Keuangan Pada Anak Sejak Dini

Editor: Dika Irawan 

SEBELUMNYA

Sheila on 7 Tampil Mengesankan di We The Fest 2023, Bukan Pengganti tapi Upgrade

BERIKUTNYA

Jangan Asal! Begini 4 Kiat Olahraga Pascacedera Saat Nge-gym

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: