Sudah ada di Nusantara sejak abad ke 11, instrumen yang berkaitan erat dengan kultur masyarakat Sunda ini juga memiliki berbagai jenis yang berbeda (sumber gambar Flickr)

Mengenal 7 Jenis Angklung di Indonesia, Ada Badeng & Toel

16 November 2022   |   09:36 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Like
Perusahaan raksasa asal Amerika Serikat Google, turut merayakan hari Angklung Sedunia yang diperingati tiap tahunnya pada 16 November. Hal ini  dapat disimak dari doodle yang mereka buat dan ditampilkan di beranda laman mesin pencari itu.

Angklung adalah alat musik dari bambu yang terdiri dari dua tabung dan alas dengan usunan nada 2, 3, sampai 4. Nada dalam setiap ukuran tabung baik besar maupun kecil juga berbeda. Instrumen ini sendiri dimainkan dengan cara digoyangkan.

Sudah ada di Nusantara sejak abad ke 11, instrumen yang berkaitan erat dengan kultur masyarakat Sunda ini juga memiliki berbagai jenis yang berbeda. Angklung juga tersebar di tiap daerah dengan keunikannya masing-masing.

Baca jugaJadi Google Doodle, Begini Sejarah Hari Angklung Sedunia yang Dirayakan Tiap 16 November

Dirangkum Hypeabis.id dari berbagai sumber, inilah 7 jenis angklung tradisional yang hingga kini masih dapat ditemui di lingkungan masyarakat Sunda, Jawa Barat seperti Banten, Ciamis , hingga Indramayu.
 

1. Angklung Badeng

Badeng adalah seni pertunjukan yang menggunakan instrumen angklung sebagai bagian dominan dalam tontonan tradisional ini. Kesenian Badeng berasal dari Kampung Sanding, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
 

Angklung  (sumber gambar Flickr)

Pada awalnya Badeng diciptakan sebagai sarana penyebaran agama Islam. Dalam pertunjukan yang memadukan unsur musik, lagu, dan tari ini juga seringkali diselingi gerakan-gerakan pencak silat. Adapun lagu-lagu yang dinyanyikan dengan iringan Angklung Badeng adalah syiar-syiar Islam.


2. Angklung Gubrag

Di kampung Cipining, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor juga ada Angklung Gubrag. Meski berusia tua, angklung tersebut tetap digunakan sabegai bagian ritual proses menanam hingga memanen padi masyarakat di sana hingga saat ini. 

Ritual penghormatan terhadap dewi padi dengan menggunakan instrumen Angklung Gubrag meliputi kegiatan ”melak pare” (menanam padi), ”ngunjal pare” (mengangkut padi), dan ”ngadiukeun” (menempatkan) ke ”leuit” (lumbung) atau saat masa panen telah tiba.
 

3. Angklung Buncis

Buncis merupakan jenis kesenian untuk keperluan ritual pada upacara-upacara tertentu, salah satunya untuk menghormati Dewi Sri. Kesenian ini dapat ditemui di Kecamatan Tarogong Kaler, Garut Jawa Barat yang biasanya dibawah pimpinan seorang Acu.
 

Ilustrasi Angklung (sumber gambar Flickr/ Ikhlasul Amal)

Ilustrasi Angklung (sumber gambar Flickr/ Ikhlasul Amal)


Dikutip dari laman Disparbud Garut, kesenian dengan instrumen angklung ini juga berkembang menjadi Upacara Turun Mandi dan Gusaran. Acara ini biasanya dilakukan dengan mengarak anak laki-laki yang akan dikhitan untuk dimandikan oleh adik atau kakak perempuan mereka.

4.Angklung Dogdog Lojor

Angklung jenis ini bisa ditemui di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan, yang mendiami sekitar Gunung Halimun, yang berbatasan dengan wilayah Jakarta, Bogor, dan Lebak. Istilah Dogdog Lojor sendiri sebenarnya mengacu pada salah satu intrumen alat tabuh yang juga dibuat dari kayu.

Namun, alat musik angklung jiga mendapat porsi yang donminan dalam pertunjukan tradisional itu, di mana terdapat 2 intrumen Dogdog Lojor dan 4 instrumen angklung besar. Keempat buah angklung ini juga mempunyai nama masing-masing, yakni gonggong, panembal, kingking, dan inclok. 


5. Angklung Padaeng

Angklung Padaeng merupakan hasill inovasi dari seorang guru yang berhasil mendobrak tradisi dengan menciptakan angklung diatonis yang selaras sistem musik di Barat bernama Daeng Soetigna, yang berasal dari Garut, Jawa Barat.
 

Ilustrasu Angklung (sumver gambar Flickr)

Ilustrasi orkestra Angklung (sumber gambar Flickr)


Laman Dinas pendidikan Purwakarta menuiskan, sejalan dengan teori musik, Angklung Padaeng secara khusus dibagi ke dalam dua kelompok, yakni angklung melodi dan angklung akompanimen yang digunakan untuk mengiringi alat musik lainnya.


6. Angklung Sarinande

Angklung sarinande merupakan salah satu jenis inovasi dari Daeeng Soetigna yang terus melakukan pembaruan agar alat musik ini semakin dikenal publik luas hingga  dapat mengiringi permainan orkestra dengan not musik.

Diketahui, jenis anggklung ini hanya memakai nada bulat (tanpa nada kromatis) dengan nada dasa C. Adapun unit kecil angklung sarinade berisi 8 angklung (nada Do Rendah sampai Do Tinggi), sementara sarinade plus berisi 13 angklung (nada Sol Rendah hingga Mi Tinggi).
 

7. Angklung Toel

Angklung Toel merupakan hasil inovasi dari Kang yayan Udjo dari Saung Angklung Udjo pada 2008. Perbedaan angklung ini dengan yang angklung lain adalah penyusunannya yang digantung secara terbalik dan diberi karet.
 

Ilustrasi angklung (sumber gambar Flickr)

Ilustrasi angklung (sumber gambar Flickr)


Diketahui, Kang Yayan adalah anak keenam Abah Udjo Ngalagena, seniman angklung terkenal dari  Bandung, Jawa Barat. Tekadnya yang ingin terus mengembangkan angklung pun diwujudkan dengan membuat yang cukup dimainkan dengan di-toel tanpa harus digoyangkan seperti angklung pada umumnya.


Baca juga5 Alat Musik Populer Khas Indonesia

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Gita Carla

SEBELUMNYA

Qualcomm Technologies Rilis Snapdragon 8 Gen 2, Cek 6 Keunggulannya

BERIKUTNYA

Marak Investasi Bodong, Cek 5 Hal Ini sebelum Berinvestasi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: