Ardhito Pramono (Sumber gambar: Aksara Records)

Ardhito Pramono Bereksplorasi Tembang Pop Lawas dalam Single Wijayakusuma

10 July 2022   |   12:02 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Like
Solois Ardhito Pramono kembali merilis single terbarunya berjudul Wijayakusuma. Lagu ini menjadi karya perdana Ardhito pasca menyelesaikan masa rehabilitasi, sekaligus penanda kembalinya label rekaman Aksara Records setelah hampir 13 tahun tidak beroperasi.

Diproduseri oleh Gusti Irwan Wibowo dan ditulis oleh Narpati Awangga atau Ooomleo, Wijayakusuma mulai digarap sejak awal 2021. Ardhito mengatakan bahwa inspirasi untuk menciptakan lagu Wijayakusuma berawal ketika dia menjadi saksi proses penggusuran salah satu kawasan asri di Canggu, Bali, untuk vila yang akan dibangun oleh warga asing.

Awalnya, Ardhito mengaku ingin mengritik peristiwa tersebut lewat sebuah lagu, sebelum akhirnya Oomleo membalas kritik Ardhito sebab karya-karyanya yang disebut minim sentuhan Indonesia.

Ardhito pun menggeser perspektif idenya dan menciptakan single Wijayakusuma, tembang pop Indonesiana dua babak yang bercerita seputar eksistensial diri. Pada babak pertama, penyanyi berusia 27 tahun itu mempertanyakan makna hidup dengan iringan khidmat piano, orkestrasi yang lirih, juga adakalanya sahut paduan suara.
 

Baca jugaEksplorasi Diri Gamaliel dalam Single Baru berjudul Asteroid


“Banyak kecemasan gue akan ‘guna gue apa, ya? Gue musisi, main film, penyiar juga. Terus apa?’ Malah jadi mempertanyakan fungsi diri gue. Gue cerita banyak ke Oomleo, untuk itu akhirnya gue sertakan dalam lirik,” ungkap Ardhito dalam keterangan resminya yang diterima Hypeabis.id, Minggu (10/7/2022).
 

g

Ardhito Pramono (Sumber gambar: Aksara Records)

Hadirkan sentuhan aransemen tradisional

Keresahan itu kemudian berkembang seiring lagunya melaju mencapai babak kedua, ketika dia mengaitkan makna hidup dengan alam semesta yang digambarkan oleh kekayaan alam  maupun budaya Indonesia.

Aransemennya pun tumbuh selaras dengan semakin megahnya bagian orkestrasi maupun paduan suara, serta diramaikan oleh komposisi gamelan dan nyanyian sinden dari Peni Candra Rini, pelaku macapat asli Solo.

Jika digambarkan, Ardhito mengatakan bahwa Wijayakusuma selayaknya luapan energi eksploratif mendiang Chrisye yang terpantik berkat sejawatnya seperti Eros Djarot, mendiang Yockie Suryoprayogo, Keenan Nasution, hingga Guruh Soekarnoputra. Dia mengaku bukan berusaha mereplika zaman emas itu, melainkan menjembatani semangatnya untuk masa ini.
 

Proses penggarapan lagu

Dalam proses penggarapan lagunya kali ini, pelantun lagu Bitterlove itu juga mengaku mengalami kesulitan salah satunya lagu tersebut tidak bisa direkam karena dia mengaku tidak tahu cara menyanyikannya. 

Pada proses pengambilan suara pertama, kata Ardhito, Oomleo menilai bahwa dia tidak nyaman dan terengah-engah untuk menyanyikan lagu tersebut. Dia pun mengaku bahwa lagu yang sudah jadi merupakan hasil dia melakukan take vocal ratusan kali.

Hal itu terjadi lantaran dia mengaplikasikan metode satu kali rekam, demi menuai esensi olah vokal yang maksimal dalam situasi terbatas, selayaknya periode rekaman menggunakan pita.

“Gue memang mencoba balik ke zaman dulu untuk proses A sampai Z-nya. Meski sudah banyak teknologi yang mendukung, metode yang gue gunakan masih bersemangat lawas. Meski sudah tersedia jasa orkestrasi yang lebih praktikal di Budapest, gue  lebih memilih untuk merekamnya di Indonesia, dengan pemain-pemain dari Indonesia, dan beberapa alat rekamnya pun asli dari Indonesia," jelas Ardhito.

Konsep pop Indonesiana yang diusung Ardhito pun menjadi salah satu pemicu untuk Hanindito Sidharta, co-founder Aksara Records, membangkitkan kembali label rekaman tersebut.

Pria yang akrab disapa Hanin itu menjelaskan bahwa pada awalnya Aksara Records berdiri karena ingin mendokumentasikan band-band Jakarta yang tidak berpatokan kepada musik pop atau rock yang ada di pasar pada saat itu, seperti The Brandals,  The Upstairs, The Adams, dan masih banyak lagi.

Sekarang, papar Hanin, Aksara Records kembali karena kancah musik pop Tanah Air hari ini yang menurutnya beragam dengan sentuhan pop 80-an atau 70-an. "Musik-musik seperti ini bahkan digemari anak-anak gen Z dan milenial,” ujar Hanin.

Adapun, Aksara Records juga bakal merilis album penuh terbaru Ardhito Pramono yang dijadwalkan rilis pada pertengahan Juli 2022. Selayaknya single Wijayakusuma, warna musik Ardhito dalam album tersebut pun akan bernafas ala pop Indonesia lama. 

 


Editor: Gita Carla

SEBELUMNYA

4 Ide Alas Kaki Sesuai Kepribadian, Genhype yang Mana?

BERIKUTNYA

7 Ide Olahan Daging Kurban agar Tahan Lama, Bisa Buat Stok Lauk!

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: