Ilustrasi (Sumber gambar: element5 digital/Unsplash)

Kecukupan Nutrisi Jadi Kunci Sukses Terapi Pasien Kanker

22 February 2022   |   19:17 WIB

Salah satu kunci sukses terapi pada pasien kanker adalah kesiapan nutrisi yang baik. Sebab, pada saat terjadi malnutrisi, terapi menjadi terhambat karena kondisi tubuh pasien tidak dapat menerima paparan terapi yang diberikan. Bahkan, terapi harus dihentikan.

Berdasarkan data International Agency for Research on Cancer di Globocan 2020, terdapat 19,3 juta kasus kanker di dunia dan 9,9 juta kasus pasien kanker meninggal setiap tahunnya. Penderita kanker umumnya merasakan serangkaian emosi, mulai dari marah, putus asa, hingga depresi, yang juga dapat mempengaruhi nafsu makan.

“Kalau kondisi gizi buruk, tubuh pasien tidak dapat menahan efek samping yang terjadi,” kata dr. Dedyanto Henky Saputra, M.Gizi, AIFO-K, Medical General Manager PT Kalbe Farma Tbk dalam talkshow Kalbe bertajuk Beyond Physical: Mental and Emotional Impact, Senin (21/2/2022).

Selain itu, dr. Dedy juga menambahkan bahwa malnutrisi juga dapat meningkatkan komplikasi lain, misalnya infeksi, yang berisiko menurunkan kualitas hidup pasien atau lama rawat menjadi lebih panjang dan biaya perawatan lebih mahal.

Salah satu penyebab terjadinya malnutrisi pada pasien kanker ialah berdasarkan jenis kankernya. Menurut dr. Dedy, pasien kanker nasofaring dan kanker saluran cerna memiliki risiko tinggi mengalami malnutrisi. Selain itu, lanjutnya, semakin tinggi stadium kanker, maka risiko malnutrisinya juga semakin besar.

Dampak dari sitokin juga berpengaruh terhadap malnutrisi. Sebab, sitokin secara umum menyebabkan tubuh pasien kanker membutuhkan kebutuhan makan yang lebih banyak, tapi di sisi lain turut menghambat nafsu makan.

Tak hanya itu, pasien kanker juga perlu memperhatikan faktor kemoterapi dan radioterapi. dr. Dedy menjelaskan terapi tersebut dapat menimbulkan gejala samping seperti mual, muntah, dan sariawan. Gangguan psikologis juga dapat membuat pasien takut untuk mengonsumsi makanan. Padahal, pasien kanker membutuhkan banyak asupan kalori dan protein.

Dalam hal ini, dr. Dedy menyarankan untuk memilih jenis makanan yang memiliki densitas energi (kalori) yang besar. Artinya, meski makan dalam jumlah yang sedikit, bobot kalori dan proteinnya besar, sehingga pasien tidak terbebani saat makan.

“Jadi sebagai keluarga, kita harus memilih makanan yang kecil tapi mengandung kalori dan protein tinggi itu apa saja,” ujar dr. Dedy. 

(Baca juga: Begini Dukungan Mental yang Dibutuhkan Para Pejuang Kanker)
 

Ilustrasi (Dok. Anna Tarazevich/Pexels)

Ilustrasi (Dok. Anna Tarazevich/Pexels)


Penyebab 'random' kanker

Penyebab kanker sendiri bisa dari faktor genetik maupun gaya hidup yang memicu munculnya tumor ganas. Namun, menurut Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. Dr. dr. Aru W Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FACP,  ada juga yang dinamakan faktor random dalam penyakit kanker.

“Kita pakai kata random karena kanker itu akibat peristiwa mutasi. Tubuh kita itu selnya selalu membelah, berganti baru. Dalam rangka pembelahan sel itu selalu terjadi mutasi dan ada yang namanya random mutation. Jadi tidak ada penyebab apa-apa,” tutur Prof. Aru.

Pada tubuh yang tidak mengalami kanker, lanjutnya, disebabkan karena sistem repair yang senantiasa menjaga tubuh dari sel yang tidak benar dalam proses pembelahan, yang akan direparasi lalu dimatikan. Pada keadaan seimbang itu, maka tubuh manusia dinyatakan masih sehat.

Namun, Prof. Aru juga mengatakan di dalam tubuh manusia selalu mengalami berjuta-juta mutasi. Apabila hal itu dilemahkan dengan cara kita hidup, maka akan terjadi kerusakan. Tak heran sejumlah penyebab kanker tidak berdasarkan faktor genetik maupun lifestyle.

Terkait pencegahan, dia menerangkan kesalahan yang kebetulan itu tidak dapat direparasi dengan sistem tubuh, karena ada faktor yang tidak ketahui. Meski perlu ada tolok ukur dalam hal pencegahan, lanjutnya, yang terpenting juga adalah mendeteksi penyakit kanker sedini mungkin.

“Itu pun enggak gampang, karena beberapa tumor seperti kanker ginjal dan kanker pankreas, sebelum dia menekan saraf, sebelum dia membuat gangguan fungsi, itu tidak akan ketahuan gejalanya,” kata Prof. Aru. 


Editor: Gita
SEBELUMNYA

Twosday, Tanggal Cantik yang Akan Muncul 200 Tahun Lagi

BERIKUTNYA

Minat Beli Rumah Tinggi Gara-gara Perpanjangan Insentif PPN

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: