Perjalanan Panjang Matcha dari Tradisi Kuno hingga Jadi Tren Global

24 October 2025   |   07:58 WIB
Image
Nursoko Andhika Setiawan Mahasiswa Universitas Bina Nusantara
Perjalanan Panjang Matcha dari Tradisi Kuno hingga Jadi Tren Global

Matcha. (Sumber foto: Freepik/jcomp)


Matcha bukan sekadar minuman hijau kekinian yang sering muncul di media sosial atau jadi pengganti kopi bagi anak muda. Lebih dari itu, matcha memiliki sejarah panjang yang telah berlangsung hampir 1.000 tahun, sejak masa klan Shogun berkuasa di Jepang dan kaisar memimpin China. 

Melansir Matchaful, asal-usul matcha dapat ditelusuri hingga masa Dinasti Tang di China, sekitar abad ke-7 hingga ke-10. Pada masa itu, daun teh dikukus, dikeringkan, dan dipadatkan menjadi bentuk batu bata agar mudah dibawa dan diperdagangkan.

Baca juga: Tren Konsumsi Matcha Sebagai Superfood, Ini Manfaatnya Menurut Ahli Nutrisi

Saat diseduh, teh tersebut digiling dan dicampur dengan air panas, menjadi cikal bakal matcha seperti yang kita kenal saat ini. Teknik ini terus berkembang pada masa Dinasti Song (960–1279), ketika daun teh digiling halus dan dikocok bersama air panas untuk menghasilkan minuman lembut dan berbusa. Minuman ini menjadi favorit para biksu dan cendekiawan karena efeknya yang menenangkan sekaligus menyegarkan pikiran.

Namun, tradisi minum teh bubuk mulai memudar di China. Justru di Jepang, budaya ini menemukan rumah barunya. Seorang biksu Buddha Zen bernama Eisai membawa bibit teh dan pengetahuan tentang pembuatan matcha ke Jepang setelah kembali dari China pada akhir abad ke-12.

Ia menanam bibit tersebut di Gunung Sefuri, sementara biksu lainnya, Myoue Shounin, menanamnya di wilayah Uji yang kini dikenal sebagai pusat produksi matcha terbaik di dunia. Iklim dan tanah Uji menghasilkan kualitas matcha dengan rasa lembut dan kaya umami yang khas.

Eisai juga menulis buku berjudul Kissa Yojoki atau Minum Teh untuk Kesehatan, yang menjelaskan manfaat matcha bagi tubuh dan pikiran. Ia menemukan bahwa minuman ini dapat menenangkan namun tetap menjaga fokus sebuah kombinasi sempurna untuk meditasi. Para samurai kemudian mengadopsi kebiasaan ini sebagai cara menjaga ketenangan dan konsentrasi sebelum bertempur.

Pada abad ke-15 dan ke-16, matcha menjadi bagian penting dalam chanoyu, upacara minum teh Jepang yang dikembangkan oleh para ahli seperti Murata Juko dan Sen no Rikyu. Melalui ajaran mereka, minum teh tidak hanya tentang rasa, tetapi juga tentang kesadaran, kesederhanaan, dan penghargaan terhadap momen. Matcha berubah menjadi simbol harmoni antara tubuh, pikiran, dan alam.
 

Seiring waktu, metode penanaman matcha pun berevolusi. Para petani Jepang menemukan bahwa dengan menutupi tanaman teh selama beberapa minggu sebelum panen, daun teh menghasilkan rasa yang lebih manis, warna lebih cerah, dan tekstur lebih lembut.

Cara ini meningkatkan kandungan klorofil dan asam amino, yang kini menjadi ciri khas matcha premium. Teknik tersebut, yang dikenal sebagai tencha, masih digunakan hingga hari ini.

Meski sempat menjadi simbol status kaum elit pada masa pemerintahan Shogun Kamakura, matcha akhirnya menyebar luas ke seluruh lapisan masyarakat Jepang. Memasuki abad ke-20, matcha semakin populer di kedai teh dan acara tradisional.

Namun, baru pada abad ke-21 matcha mencuri perhatian dunia internasional. Kehadirannya di kafe modern, media sosial, dan gaya hidup sehat menjadikannya ikon global yang memadukan tradisi dan modernitas. Kini, matcha tak hanya dinikmati sebagai minuman, tetapi juga hadir dalam berbagai bentuk mulai dari latte, kue, hingga produk kecantikan.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Hadir di Jakarta, Rollti Bawa Tren Roti Canai Wrap ke Indonesia

BERIKUTNYA

Wingstop Eksperimen Rasa Gurih Baru Lewat Varian Buzzter

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.


Matcha. (Sumber foto: Freepik/jcomp)

Perjalanan Panjang Matcha dari Tradisi Kuno hingga Jadi Tren Global

24 October 2025   |   07:58 WIB
Image
Nursoko Andhika Setiawan Mahasiswa Universitas Bina Nusantara
Perjalanan Panjang Matcha dari Tradisi Kuno hingga Jadi Tren Global

Matcha. (Sumber foto: Freepik/jcomp)


Matcha bukan sekadar minuman hijau kekinian yang sering muncul di media sosial atau jadi pengganti kopi bagi anak muda. Lebih dari itu, matcha memiliki sejarah panjang yang telah berlangsung hampir 1.000 tahun, sejak masa klan Shogun berkuasa di Jepang dan kaisar memimpin China. 

Melansir Matchaful, asal-usul matcha dapat ditelusuri hingga masa Dinasti Tang di China, sekitar abad ke-7 hingga ke-10. Pada masa itu, daun teh dikukus, dikeringkan, dan dipadatkan menjadi bentuk batu bata agar mudah dibawa dan diperdagangkan.

Baca juga: Tren Konsumsi Matcha Sebagai Superfood, Ini Manfaatnya Menurut Ahli Nutrisi

Saat diseduh, teh tersebut digiling dan dicampur dengan air panas, menjadi cikal bakal matcha seperti yang kita kenal saat ini. Teknik ini terus berkembang pada masa Dinasti Song (960–1279), ketika daun teh digiling halus dan dikocok bersama air panas untuk menghasilkan minuman lembut dan berbusa. Minuman ini menjadi favorit para biksu dan cendekiawan karena efeknya yang menenangkan sekaligus menyegarkan pikiran.

Namun, tradisi minum teh bubuk mulai memudar di China. Justru di Jepang, budaya ini menemukan rumah barunya. Seorang biksu Buddha Zen bernama Eisai membawa bibit teh dan pengetahuan tentang pembuatan matcha ke Jepang setelah kembali dari China pada akhir abad ke-12.

Ia menanam bibit tersebut di Gunung Sefuri, sementara biksu lainnya, Myoue Shounin, menanamnya di wilayah Uji yang kini dikenal sebagai pusat produksi matcha terbaik di dunia. Iklim dan tanah Uji menghasilkan kualitas matcha dengan rasa lembut dan kaya umami yang khas.

Eisai juga menulis buku berjudul Kissa Yojoki atau Minum Teh untuk Kesehatan, yang menjelaskan manfaat matcha bagi tubuh dan pikiran. Ia menemukan bahwa minuman ini dapat menenangkan namun tetap menjaga fokus sebuah kombinasi sempurna untuk meditasi. Para samurai kemudian mengadopsi kebiasaan ini sebagai cara menjaga ketenangan dan konsentrasi sebelum bertempur.

Pada abad ke-15 dan ke-16, matcha menjadi bagian penting dalam chanoyu, upacara minum teh Jepang yang dikembangkan oleh para ahli seperti Murata Juko dan Sen no Rikyu. Melalui ajaran mereka, minum teh tidak hanya tentang rasa, tetapi juga tentang kesadaran, kesederhanaan, dan penghargaan terhadap momen. Matcha berubah menjadi simbol harmoni antara tubuh, pikiran, dan alam.
 

Seiring waktu, metode penanaman matcha pun berevolusi. Para petani Jepang menemukan bahwa dengan menutupi tanaman teh selama beberapa minggu sebelum panen, daun teh menghasilkan rasa yang lebih manis, warna lebih cerah, dan tekstur lebih lembut.

Cara ini meningkatkan kandungan klorofil dan asam amino, yang kini menjadi ciri khas matcha premium. Teknik tersebut, yang dikenal sebagai tencha, masih digunakan hingga hari ini.

Meski sempat menjadi simbol status kaum elit pada masa pemerintahan Shogun Kamakura, matcha akhirnya menyebar luas ke seluruh lapisan masyarakat Jepang. Memasuki abad ke-20, matcha semakin populer di kedai teh dan acara tradisional.

Namun, baru pada abad ke-21 matcha mencuri perhatian dunia internasional. Kehadirannya di kafe modern, media sosial, dan gaya hidup sehat menjadikannya ikon global yang memadukan tradisi dan modernitas. Kini, matcha tak hanya dinikmati sebagai minuman, tetapi juga hadir dalam berbagai bentuk mulai dari latte, kue, hingga produk kecantikan.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Hadir di Jakarta, Rollti Bawa Tren Roti Canai Wrap ke Indonesia

BERIKUTNYA

Wingstop Eksperimen Rasa Gurih Baru Lewat Varian Buzzter

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.