Street Food Couture, Ketika Jajanan Kaki Lima Naik Kelas
27 July 2025 |
10:03 WIB
Street food (Sumber: Freepik)
Laporan Unilever Food Solutions menyatakan bahwa sebanyak 79 persen masyarakat Indonesia menyukai jajanan kaki lima alias street food. Jajanan ini disenangi oleh banyak orang karena harganya yang terjangkau, punya banyak pilihan, dan tentu saja rasanya yang nikmat.
Terlebih, saat ini jenis jajanan kaki lima makin beragam dan bervariasi. Tren ini nyatanya menjadi peluang untuk membuka usaha bisnis makanan yang populer, tetapi berkualitas tinggi. Berdasarkan hal itulah, Unilever Food Solutions (UFS) mencantumkan street food couture sebagai salah satu tren dari Future Menu 2025.
Future Menu 2025 juga menyoroti Generasi Z sebagai kelompok yang paling berpengaruh dalam tren kuliner. Berdasarkan riset, dapat dilihat bahwa mereka cenderung menyukai personalisasi, cita rasa global, dan pengalaman mengonsumsi makanan yang imersif. Selain itu, prioritas Gen Z adalah nilai uang dari makanan itu sendiri, maka street food pun menjadi pilihan untuk menyesuaikan selera pasar dan tren.
Baca juga: Rempah Nusantara dalam Tren Kuliner Future Menu 2025
Nadya Risdiana, salah satu koki USF mengatakan bahwa tren street food couture menawarkan peningkatan kualitas jajanan kaki lima, dimulai dari bahan hingga teknik dalam proses pembuatan makanan. Oleh karena itu, street food pun siap untuk naik kelas tanpa kehilangan cita rasa khasnya.
Street food couture bukan berarti membuat harga jajanan kaki lima menjadi lebih mahal. Selain bahan dan teknik yang lebih premium, penyajian makanan juga bisa dibuat lebih inovatif dan menarik.
Brandon Collins, koki eksekutif di UFS, menyatakan bahwa dalam menaikkan kelas jajanan kaki lima, pemilik bisnis tidak boleh meninggalkan akar dari kuliner ini. Dia menyebutkan, alih-alih hanya menawarkan bahan dan teknik premium dengan harga yang lebih tinggi, pemilik bisnis perlu menceritakan “visi” dari makanan itu sendiri.
Pelaku bisnis kuliner bisa menawarkan penyajian yang khas dari jajanan kaki lima yang disuguhkan. Misalnya, dengan pengalaman kuliner yang interaktif. Street food sangat khas dengan “jalanan”, konsumen biasanya dapat melihat proses memasak makanan. Oleh karenanya, restoran bisa memperlihatkan demonstrasi live cooking atau bahkan workshop proses pembuatan street food favorit konsumen.
Menu yang dipersonalisasi dan dapat disesuaikan dengan selera pribadi juga dapat menjadi kekhasan jajanan kaki lima yang diadopsi dalam street food couture. Biasanya, dengan memilih bahan yang tidak ingin dimasukkan ke dalam makanan ataupun memilih level kepedasan.
Personalisasi juga dapat dipraktikkan dalam marketing restoran, seperti dengan mendorong pengunjung untuk membagikan pengalaman pribadi mereka di media sosial. Hal ini dapat menarik pengalaman baru karena rekomendasi personal dapat lebih dipercaya.
Selain itu, berdasarkan survei UFS, 60 persen Gen Z menunjukkan minat pada restoran yang menyediakan makanan dari berbagai budaya.
Maka dari itu, bisnis kuliner yang mengadopsi street food couture bisa melakukan rotasi menu. Mengeksplorasi menu-menu baru dan menawarkan konsumen untuk mencobanya melalui promosi di media sosial. Tak hanya makanan, menu minuman yang cocok dihidangkan sebagai pendamping makanan pun perlu diperhatikan.
Baca juga: 8 Tren Kuliner Global, Panduan Inovatif untuk Chef dan Bisnis F&B Tetap Relevan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Terlebih, saat ini jenis jajanan kaki lima makin beragam dan bervariasi. Tren ini nyatanya menjadi peluang untuk membuka usaha bisnis makanan yang populer, tetapi berkualitas tinggi. Berdasarkan hal itulah, Unilever Food Solutions (UFS) mencantumkan street food couture sebagai salah satu tren dari Future Menu 2025.
Future Menu 2025 juga menyoroti Generasi Z sebagai kelompok yang paling berpengaruh dalam tren kuliner. Berdasarkan riset, dapat dilihat bahwa mereka cenderung menyukai personalisasi, cita rasa global, dan pengalaman mengonsumsi makanan yang imersif. Selain itu, prioritas Gen Z adalah nilai uang dari makanan itu sendiri, maka street food pun menjadi pilihan untuk menyesuaikan selera pasar dan tren.
Baca juga: Rempah Nusantara dalam Tren Kuliner Future Menu 2025
Nadya Risdiana, salah satu koki USF mengatakan bahwa tren street food couture menawarkan peningkatan kualitas jajanan kaki lima, dimulai dari bahan hingga teknik dalam proses pembuatan makanan. Oleh karena itu, street food pun siap untuk naik kelas tanpa kehilangan cita rasa khasnya.
Street food couture bukan berarti membuat harga jajanan kaki lima menjadi lebih mahal. Selain bahan dan teknik yang lebih premium, penyajian makanan juga bisa dibuat lebih inovatif dan menarik.
Brandon Collins, koki eksekutif di UFS, menyatakan bahwa dalam menaikkan kelas jajanan kaki lima, pemilik bisnis tidak boleh meninggalkan akar dari kuliner ini. Dia menyebutkan, alih-alih hanya menawarkan bahan dan teknik premium dengan harga yang lebih tinggi, pemilik bisnis perlu menceritakan “visi” dari makanan itu sendiri.
Pelaku bisnis kuliner bisa menawarkan penyajian yang khas dari jajanan kaki lima yang disuguhkan. Misalnya, dengan pengalaman kuliner yang interaktif. Street food sangat khas dengan “jalanan”, konsumen biasanya dapat melihat proses memasak makanan. Oleh karenanya, restoran bisa memperlihatkan demonstrasi live cooking atau bahkan workshop proses pembuatan street food favorit konsumen.
Menu yang dipersonalisasi dan dapat disesuaikan dengan selera pribadi juga dapat menjadi kekhasan jajanan kaki lima yang diadopsi dalam street food couture. Biasanya, dengan memilih bahan yang tidak ingin dimasukkan ke dalam makanan ataupun memilih level kepedasan.
Personalisasi juga dapat dipraktikkan dalam marketing restoran, seperti dengan mendorong pengunjung untuk membagikan pengalaman pribadi mereka di media sosial. Hal ini dapat menarik pengalaman baru karena rekomendasi personal dapat lebih dipercaya.
Selain itu, berdasarkan survei UFS, 60 persen Gen Z menunjukkan minat pada restoran yang menyediakan makanan dari berbagai budaya.
Maka dari itu, bisnis kuliner yang mengadopsi street food couture bisa melakukan rotasi menu. Mengeksplorasi menu-menu baru dan menawarkan konsumen untuk mencobanya melalui promosi di media sosial. Tak hanya makanan, menu minuman yang cocok dihidangkan sebagai pendamping makanan pun perlu diperhatikan.
Baca juga: 8 Tren Kuliner Global, Panduan Inovatif untuk Chef dan Bisnis F&B Tetap Relevan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.
KUMPULAN ARTIKEL LAINNYA
Menikmati House of Tugu, Destinasi Kuliner Berbalut Sejarah di Kota Tua Jakarta
26 Maret 2026
Rekomendasi Kuliner Khas di Jawa Tengah yang Wajib Dicoba Saat Mudik
17 Maret 2026
The Good Bagel: Kafe Bagel Artisan di Gading Serpong yang Viral
16 Maret 2026
Menikmati Kuliner Indonesia dalam Balutan Modern di Menteng
13 Maret 2026