Gohu Ikan, Sashimi Khas Maluku Utara

25 July 2025   |   13:17 WIB
Image
Tiffany Syabillah Mahasiswa Universitas Padjadjaran
Gohu Ikan, Sashimi Khas Maluku Utara

Gohu Ikan (Sumber gambar: primarasa.co.id)


Jika Jepang punya sashimi, Maluku Utara punya gohu ikan. Sajian segar berbahan dasar ikan mentah ini kerap disebut sebagai sashimi-nya orang Ternate. Tapi gohu bukan tiruan. Ia adalah bagian dari identitas kuliner pesisir yang tumbuh bersama kebiasaan dan budaya masyarakatnya.

Cerita tentang gohu ikan berawal dari para nelayan. Sejak ratusan tahun lalu, nelayan di Ternate dan sekitarnya terbiasa membawa pulang hasil tangkapan laut yang langsung diolah tanpa dimasak. Dengan jeruk nipis dan garam, ikan mentah mereka 'matangkan' secara alami, lalu disantap begitu saja, sering kali hanya ditemani pisang rebus atau singkong. Hidangan ini lahir dari kepraktisan, tapi dalam setiap racikannya tersimpan kearifan. Gohu bukan hanya cara bertahan hidup di tengah laut, melainkan juga cara menikmati kesegaran laut dengan penuh rasa syukur.

Baca juga: 5 Makanan Khas Betawi yang Makin Sulit Ditemukan

Bahan yang digunakan sangat sederhana. Ikan tuna atau cakalang segar dipotong kecil, lalu dilumuri perasan jeruk nipis dan garam. Proses ini membuat tekstur ikan menjadi kenyal dan cita rasanya lebih tajam. Setelah itu, barulah dicampur dengan irisan cabai rawit, bawang merah, dan daun kemangi.

Satu hal yang khas dari gohu adalah minyak kelapa tumis yang disiram ke atas ikan. Aromanya langsung menggoda. Tak ketinggalan, taburan kacang kenari sangrai menambah tekstur renyah yang tak biasa. Rasanya jadi asam, pedas, segar, dan gurih dalam satu suapan.

Gohu biasanya disajikan sesaat setelah diaduk. Tidak ada waktu menunggu. Begitu minyak panas dituang dan bumbu tercampur rata, langsung disantap hangat-hangat. Pendampingnya bisa beragam, dari singkong rebus, keladi, pisang goreng, hingga nasi putih. Kombinasi ini membuat bisa jadi menu utama yang mengenyangkan.

Karena sama-sama ikan mentah, gohu sering dibandingkan dengan sashimi. Tapi kalau dilihat lebih dekat, keduanya punya filosofi dan rasa yang sangat berbeda.

Sashimi menonjolkan kesederhanaan. Potongan ikan disajikan bersih tanpa banyak bumbu. Cukup kecap asin, wasabi, dan jahe acar. Fokusnya ada pada rasa murni dari daging ikan dan keindahan potongannya. Sebaliknya, gohu tampil lebih spontan. Ikan dipotong dadu, direndam jeruk, lalu dibanjiri bumbu.

Ada rasa asam yang menyengat, pedas yang menyusul, dan aroma rempah yang menyelimuti. Dari cara penyajian pun terlihat bedanya. Sashimi dihidangkan satu per satu, biasanya dingin dan rapi di piring khusus. Sementara gohu disajikan dalam mangkuk atau piring besar, langsung diaduk dan disantap bersama-sama.

Di tengah tren makanan sehat dan olahan mentah, gohu ikan menawarkan alternatif yang tidak kalah menarik. Tanpa pengawet, tanpa pemanis buatan, dan tanpa proses memasak yang rumit. Hanya ikan, bumbu, dan tangan yang terampil. Tapi lebih dari sekadar kuliner, gohu juga menyimpan cerita.

Tentang laut yang murah hati, tentang keluarga yang berkumpul, dan tentang rasa yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di Maluku, menyajikan gohu berarti menyambut, menghormati, dan merayakan.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Ramai Tren Donat, Cek Rekomendasi Donat Enak di Jakarta

BERIKUTNYA

Street Food Couture, Ketika Jajanan Kaki Lima Naik Kelas

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.


Gohu Ikan (Sumber gambar: primarasa.co.id)

Gohu Ikan, Sashimi Khas Maluku Utara

25 July 2025   |   13:17 WIB
Image
Tiffany Syabillah Mahasiswa Universitas Padjadjaran
Gohu Ikan, Sashimi Khas Maluku Utara

Gohu Ikan (Sumber gambar: primarasa.co.id)


Jika Jepang punya sashimi, Maluku Utara punya gohu ikan. Sajian segar berbahan dasar ikan mentah ini kerap disebut sebagai sashimi-nya orang Ternate. Tapi gohu bukan tiruan. Ia adalah bagian dari identitas kuliner pesisir yang tumbuh bersama kebiasaan dan budaya masyarakatnya.

Cerita tentang gohu ikan berawal dari para nelayan. Sejak ratusan tahun lalu, nelayan di Ternate dan sekitarnya terbiasa membawa pulang hasil tangkapan laut yang langsung diolah tanpa dimasak. Dengan jeruk nipis dan garam, ikan mentah mereka 'matangkan' secara alami, lalu disantap begitu saja, sering kali hanya ditemani pisang rebus atau singkong. Hidangan ini lahir dari kepraktisan, tapi dalam setiap racikannya tersimpan kearifan. Gohu bukan hanya cara bertahan hidup di tengah laut, melainkan juga cara menikmati kesegaran laut dengan penuh rasa syukur.

Baca juga: 5 Makanan Khas Betawi yang Makin Sulit Ditemukan

Bahan yang digunakan sangat sederhana. Ikan tuna atau cakalang segar dipotong kecil, lalu dilumuri perasan jeruk nipis dan garam. Proses ini membuat tekstur ikan menjadi kenyal dan cita rasanya lebih tajam. Setelah itu, barulah dicampur dengan irisan cabai rawit, bawang merah, dan daun kemangi.

Satu hal yang khas dari gohu adalah minyak kelapa tumis yang disiram ke atas ikan. Aromanya langsung menggoda. Tak ketinggalan, taburan kacang kenari sangrai menambah tekstur renyah yang tak biasa. Rasanya jadi asam, pedas, segar, dan gurih dalam satu suapan.

Gohu biasanya disajikan sesaat setelah diaduk. Tidak ada waktu menunggu. Begitu minyak panas dituang dan bumbu tercampur rata, langsung disantap hangat-hangat. Pendampingnya bisa beragam, dari singkong rebus, keladi, pisang goreng, hingga nasi putih. Kombinasi ini membuat bisa jadi menu utama yang mengenyangkan.

Karena sama-sama ikan mentah, gohu sering dibandingkan dengan sashimi. Tapi kalau dilihat lebih dekat, keduanya punya filosofi dan rasa yang sangat berbeda.

Sashimi menonjolkan kesederhanaan. Potongan ikan disajikan bersih tanpa banyak bumbu. Cukup kecap asin, wasabi, dan jahe acar. Fokusnya ada pada rasa murni dari daging ikan dan keindahan potongannya. Sebaliknya, gohu tampil lebih spontan. Ikan dipotong dadu, direndam jeruk, lalu dibanjiri bumbu.

Ada rasa asam yang menyengat, pedas yang menyusul, dan aroma rempah yang menyelimuti. Dari cara penyajian pun terlihat bedanya. Sashimi dihidangkan satu per satu, biasanya dingin dan rapi di piring khusus. Sementara gohu disajikan dalam mangkuk atau piring besar, langsung diaduk dan disantap bersama-sama.

Di tengah tren makanan sehat dan olahan mentah, gohu ikan menawarkan alternatif yang tidak kalah menarik. Tanpa pengawet, tanpa pemanis buatan, dan tanpa proses memasak yang rumit. Hanya ikan, bumbu, dan tangan yang terampil. Tapi lebih dari sekadar kuliner, gohu juga menyimpan cerita.

Tentang laut yang murah hati, tentang keluarga yang berkumpul, dan tentang rasa yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di Maluku, menyajikan gohu berarti menyambut, menghormati, dan merayakan.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Ramai Tren Donat, Cek Rekomendasi Donat Enak di Jakarta

BERIKUTNYA

Street Food Couture, Ketika Jajanan Kaki Lima Naik Kelas

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.