5 Makanan Tradisional yang Disajikan saat Hari Raya Waisak, Ada Nasi Gemuk dan Kue Burgo
11 May 2025 |
12:42 WIB
Nasi Gemuk (Sumber Foto: Freepik)
Hari Raya Waisak 2025 jatuh pada pada Senin, 12 Mei 2025. Momen ini memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Siddharta Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian penerangan agung (Bodhi), dan kematiannya. Ketiga peristiwa ini dikenal sebagai Trisuci Waisak.
Adapun 12 Mei ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri. Selain itu, pemerintah juga menetapkan hari Selasa, 13 Mei 2025, sebagai cuti bersama, sehingga masyarakat Indonesia akan menikmati libur panjang selama empat hari, mulai dari Sabtu, 10 Mei hingga Selasa, 13 Mei 2025.
Baca juga: Hari Raya Waisak 2025: Simak Tema, Makna & Rangkaian Acaranya
Perayaan Waisak 2025 akan dipusatkan di Candi Borobudur, Jawa Tengah, dan berlangsung selama sembilan hari, dimulai sejak Minggu, 4 Mei 2025. Puncak perayaan akan dilaksanakan pada Senin, 12 Mei 2025. Rangkaian kegiatannya meliputi pembersihan taman makam pahlawan, doa bersama, upacara ritual, pradaksina yakni berjalan mengelilingi candi, hingga meditasi.
Perayaan ini diperkirakan akan dihadiri oleh lebih dari 150.000 umat Buddha dan masyarakat umum, baik dari dalam maupun luar negeri, yang datang untuk mengikuti prosesi dan merasakan suasana spiritual di Candi Borobudur.
Selain itu, Hari Raya Waisak juga identik dengan makanan khas yang sering disajikan, mulai dari Nasi Gemuk sampai Nasi Lesah. Berikut sejumlah makanan yang identik dengan perayaan Waisak.
Masyarakat Buddha di Jambi kerap menghidangkan Nasi Gemuk sebagai bagian dari perayaan Waisak. Hidangan ini menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur dalam memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Siddharta Gautama.
Makanan ini terdiri dari adonan tepung beras dan tepung sagu atau tapioka yang dimasak tipis seperti dadar, kemudian digulung dan dipotong-potong. Hidangan ini disajikan dengan kuah santan berwarna putih yang gurih, biasanya berbahan dasar ikan gabus dan rempah-rempah seperti bawang putih, ketumbar, lengkuas, dan daun salam. Sebagai pelengkap, Burgo sering disajikan dengan telur rebus, bawang goreng, dan sambal untuk menambah cita rasa.
Makanan ini sering disajikan oleh umat Buddha di wilayah Sumatera. Namun, tempoyak juga populer di berbagai daerah Indonesia, terutama di Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung, serta Kalimantan Barat.
Ikan tersebut kemudian diolah menjadi masakan berkuah santan encer yang kaya rempah dan bercita rasa pedas. Ikan beong digoreng terlebih dahulu untuk mengurangi bau amis, kemudian dimasak dalam kuah santan yang dibumbui dengan kunyit, lengkuas, serai, daun salam, ketumbar, merica, dan cabai. Proses ini menghasilkan hidangan dengan rasa gurih dan pedas yang khas.
Masyarakat Magelang kerap menyajikan Nasi Lesah saat merayakan Waisak. Penyajiannya biasanya dalam piring, berbeda dengan soto yang umumnya disajikan dalam mangkuk. Cita rasa Nasi Lesah, yakni perpaduan gurih, sedikit manis, dan rempah yang hangat.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Adapun 12 Mei ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri. Selain itu, pemerintah juga menetapkan hari Selasa, 13 Mei 2025, sebagai cuti bersama, sehingga masyarakat Indonesia akan menikmati libur panjang selama empat hari, mulai dari Sabtu, 10 Mei hingga Selasa, 13 Mei 2025.
Baca juga: Hari Raya Waisak 2025: Simak Tema, Makna & Rangkaian Acaranya
Perayaan Waisak 2025 akan dipusatkan di Candi Borobudur, Jawa Tengah, dan berlangsung selama sembilan hari, dimulai sejak Minggu, 4 Mei 2025. Puncak perayaan akan dilaksanakan pada Senin, 12 Mei 2025. Rangkaian kegiatannya meliputi pembersihan taman makam pahlawan, doa bersama, upacara ritual, pradaksina yakni berjalan mengelilingi candi, hingga meditasi.
Perayaan ini diperkirakan akan dihadiri oleh lebih dari 150.000 umat Buddha dan masyarakat umum, baik dari dalam maupun luar negeri, yang datang untuk mengikuti prosesi dan merasakan suasana spiritual di Candi Borobudur.
Selain itu, Hari Raya Waisak juga identik dengan makanan khas yang sering disajikan, mulai dari Nasi Gemuk sampai Nasi Lesah. Berikut sejumlah makanan yang identik dengan perayaan Waisak.
1. Nasi Gemuk
Nasi Gemuk adalah hidangan khas dari Jambi dan Palembang yang terdiri dari nasi yang dimasak dengan santan kelapa dan daun pandan, menghasilkan cita rasa gurih dan aroma yang khas. Nama "gemuk" dalam bahasa Melayu berarti "lemak" atau "berlemak", merujuk pada penggunaan santan dalam proses memasaknya.Masyarakat Buddha di Jambi kerap menghidangkan Nasi Gemuk sebagai bagian dari perayaan Waisak. Hidangan ini menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur dalam memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Siddharta Gautama.
2. Kue Burgo
Kue Burgo adalah hidangan tradisional khas Palembang yang sering disajikan saat perayaan Hari Raya Waisak, terutama oleh masyarakat Buddha di Sumatera Selatan. Meskipun disebut "kue", Burgo sebenarnya lebih mirip dengan hidangan gurih yang menyerupai otak-otak gulung.Makanan ini terdiri dari adonan tepung beras dan tepung sagu atau tapioka yang dimasak tipis seperti dadar, kemudian digulung dan dipotong-potong. Hidangan ini disajikan dengan kuah santan berwarna putih yang gurih, biasanya berbahan dasar ikan gabus dan rempah-rempah seperti bawang putih, ketumbar, lengkuas, dan daun salam. Sebagai pelengkap, Burgo sering disajikan dengan telur rebus, bawang goreng, dan sambal untuk menambah cita rasa.
3. Tempoyak
Tempoyak adalah hidangan tradisional khas suku Melayu yang terbuat dari fermentasi daging buah durian. Proses pembuatannya melibatkan pencampuran daging durian matang dengan sedikit garam, kemudian didiamkan selama beberapa hari pada suhu ruang hingga menghasilkan cita rasa asam yang khas dan aroma yang tajam.Makanan ini sering disajikan oleh umat Buddha di wilayah Sumatera. Namun, tempoyak juga populer di berbagai daerah Indonesia, terutama di Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung, serta Kalimantan Barat.
4. Mangut Beong
Mangut Beong adalah hidangan khas Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang terbuat dari ikan beong, ikan air tawar endemik Sungai Progo. Ikan ini memiliki bentuk menyerupai lele namun berukuran lebih besar, dengan daging tebal dan padat, terutama di bagian kepalanya.Ikan tersebut kemudian diolah menjadi masakan berkuah santan encer yang kaya rempah dan bercita rasa pedas. Ikan beong digoreng terlebih dahulu untuk mengurangi bau amis, kemudian dimasak dalam kuah santan yang dibumbui dengan kunyit, lengkuas, serai, daun salam, ketumbar, merica, dan cabai. Proses ini menghasilkan hidangan dengan rasa gurih dan pedas yang khas.
5. Nasi Lesah
Nasi Lesah merupakan perpaduan antara nasi putih dengan kuah santan yang dimasak bersama bumbu-bumbu seperti kunyit, kemiri, jahe, lengkuas, serai, daun salam, dan daun jeruk. Isian tambahan seperti bihun, taoge, kol, dan suwiran ayam kampung menambah kekayaan rasa dan tekstur pada hidangan ini.Masyarakat Magelang kerap menyajikan Nasi Lesah saat merayakan Waisak. Penyajiannya biasanya dalam piring, berbeda dengan soto yang umumnya disajikan dalam mangkuk. Cita rasa Nasi Lesah, yakni perpaduan gurih, sedikit manis, dan rempah yang hangat.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.
KUMPULAN ARTIKEL LAINNYA
Menikmati House of Tugu, Destinasi Kuliner Berbalut Sejarah di Kota Tua Jakarta
26 Maret 2026
Rekomendasi Kuliner Khas di Jawa Tengah yang Wajib Dicoba Saat Mudik
17 Maret 2026
The Good Bagel: Kafe Bagel Artisan di Gading Serpong yang Viral
16 Maret 2026
Menikmati Kuliner Indonesia dalam Balutan Modern di Menteng
13 Maret 2026