Ilustrasi Jalan Raya (Foto: Freepik)

Jejak Sejarah Jalur Pantura, dari Masa Mataram hingga Arus Mudik Lebaran

12 March 2026   |   16:41 WIB
Image
Muhammad Shohibul Izar Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Menjelang arus mudik Lebaran 2026, Jalur Pantai Utara Jawa atau Pantura kembali menjadi salah satu rute penting bagi jutaan pemudik yang akan melintasi Pulau Jawa. Meski kini jaringan jalan tol semakin luas, jalur legendaris ini tetap ramai dilalui kendaraan pribadi, bus antarkota, hingga truk logistik yang menghubungkan berbagai kota di pesisir utara.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, jalur sepanjang sekitar 1.316 kilometer ini membentang dari Pelabuhan Merak di Cilegon hingga Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi. Rute tersebut melintasi lima provinsi utama di Pulau Jawa, yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Baca juga: Tips Praktis Hilangkan Pegal hingga Nyeri Otot Sepulang Mudik Lebaran


Jalur Tua Sejak Era Mataram

Banyak orang mengaitkan lahirnya Jalur Pantura dengan proyek jalan yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa jalur pesisir utara Jawa sebenarnya telah ada jauh sebelum masa kolonial.

Dalam sejumlah kajian sejarah disebutkan bahwa jalur tersebut telah berkembang sejak masa Kesultanan Mataram. Pada periode itu wilayah pesisir utara dibagi menjadi dua kawasan besar, yakni Pesisir Wetan yang mencakup wilayah dari Jepara hingga Surabaya dan Pesisir Kilen yang membentang dari Demak hingga Brebes.

Pembagian wilayah ini berkaitan dengan ekspansi kekuasaan yang dilakukan oleh Sultan Agung pada abad ke-17. Jalur pesisir menjadi penghubung penting antarwilayah sekaligus jalur distribusi perdagangan hasil bumi dan komoditas dari berbagai kota pelabuhan di utara Jawa.


Era Daendels dan Jalan Raya Pos

Perubahan besar pada jalur ini terjadi pada awal abad ke-19 ketika pemerintah kolonial Belanda membangun De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos. Proyek tersebut dipimpin oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels pada 1808–1811.

Daendels yang saat itu mendapat mandat dari Napoleon Bonaparte membangun jalan sepanjang sekitar 1.000 kilometer dari Anyer hingga Panarukan. Tujuannya adalah memperkuat pertahanan Pulau Jawa dari ancaman serangan Britania Raya sekaligus mempercepat mobilisasi pasukan dan distribusi logistik.

Namun pembangunan jalan ini juga meninggalkan catatan kelam. Sistem kerja paksa atau kerja rodi diberlakukan secara luas sehingga ribuan penduduk pribumi dipaksa bekerja dalam kondisi berat tanpa upah yang layak.

Menariknya, jalur yang dibangun Daendels tidak sepenuhnya mengikuti garis pantai utara Jawa. Di beberapa wilayah, jalan tersebut justru melintasi pedalaman Jawa Barat seperti Bogor, Bandung, dan Sumedang.


Koridor Ekonomi di Pulau Jawa

Hingga kini Jalur Pantura tetap menjadi salah satu koridor transportasi utama di Indonesia. Jalan ini menghubungkan berbagai kota besar seperti Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Surabaya, hingga Banyuwangi.

Selain menjadi jalur perjalanan masyarakat, Pantura juga berperan penting dalam distribusi logistik nasional. Sebagian besar lalu lintas di jalur ini didominasi kendaraan angkutan barang yang menghubungkan kawasan industri, pelabuhan, serta pusat perdagangan di Pulau Jawa.


Pernah Jadi Primadona Mudik

Pada era 1990-an hingga awal 2000-an, Pantura dikenal sebagai jalur utama bagi masyarakat yang mudik saat Lebaran. Sejumlah titik seperti Simpang Jomin, Simpang Celeng, hingga kawasan Alas Roban sering menjadi simbol kemacetan panjang yang hampir selalu muncul dalam laporan arus mudik setiap tahun.

Namun popularitas jalur ini mulai berkurang sejak pembangunan jaringan Tol Trans Jawa. Salah satu proyek pentingnya adalah Tol Cipali sepanjang 116 kilometer yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2015.

Data Kementerian Perhubungan Republik Indonesia menunjukkan bahwa volume kendaraan pribadi yang melintas di Pantura sempat turun drastis setelah tol tersebut beroperasi.

Meski begitu, Pantura tetap memegang peran penting sebagai jalur alternatif sekaligus urat nadi distribusi barang di Pulau Jawa. Setiap musim mudik, jalan ini masih menjadi saksi perjalanan jutaan orang yang pulang ke kampung halaman.

SEBELUMNYA

Iran Putuskan Mundur dari Piala Dunia 2026 di Tengah Krisis Keamanan Nasional

BERIKUTNYA

Billie Eilish Berpeluang Debut Akting di Film Adaptasi Novel Klasik The Bell Jar

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga