Bagaimana Seniman Angki Purbandono Menemukan Filosofi Hidup Lewat Bunga?
11 March 2026 |
16:26 WIB
Bunga, bagi setiap seniman selalu memiliki makna tertentu. Namun bagi Angki Purbandono (54), bunga bukan sekadar simbol estetika. Seniman asal Yogyakarta itu memandang bunga sebagai bahasa komunikasi dengan liyan, lingkungan, dan kota.
Kesadaran itu datang setelah dia mengalami serangan jantung pada 2018 akibat gaya hidup yang kacau. Pasca kejadian tersebut, dokter mewajibkannya berjalan pagi setiap hari. Dari rutinitas sederhana itulah, Angki mulai melihat bunga dengan kesadaran baru.
Baca juga: Alih, Ruang Transformasi Handiwirman Saputra di Nadi Gallery Jakarta
Perubahan cara pandang itu tampak dalam pameran tunggalnya bertajuk Berbunga-bunga di SAL Project, Jakarta. Digelar pada 7 Februari hingga 5 April 2026, seteleng ini menghadirkan 108 panel karya yang merekam 73 jenis bunga.
Seluruh karya menampilkan hasil scanografi berbagai jenis bunga dalam format instalasi lightbox. Ukurannya beragam dengan bentuk bulat berbagai dimensi, mulai dari 20x5 sentimeter, 30x5 sentimeter, hingga 38,4x5 sentimeter. Setiap karya diproduksi dalam 10 edisi.
Angki membayangkan bunga sebagai medium komunikasi lintas dunia. Kendati mudah layu ketika dipetik, bunga membawa kesadaran tentang kefanaan hidup sekaligus mengubah cara pandangnya terhadap hal-hal yang selama ini dianggap remeh.
Misalnya, saat berziarah ke makam orang tuanya bersama sang istri, Dian Ariyani, kerap muncul perdebatan kecil, apakah membeli bunga atau mengambilnya di jalan. Dari situ dia melihat bunga bukan sekadar komoditas, melainkan entitas yang menjembatani yang kasatmata dan yang tak kasatmata.
Berangkat dari kebiasaan itu, keluarga kecil tersebut bersama sang anak, Daun, mulai memetik bunga liar di jalan untuk dibawa berziarah. Di lain waktu, bunga-bunga juga dia pindai untuk diarsipkan dalam medium yang membuatnya tak lagi tunduk pada waktu dan layu.
Hasilnya berupa citraan bunga seperti Adenium, Air Mata Pengantin, Asoka, Kenikir, Krokot, Telang, Kolesom, dan lain-lain. Melalui teknik scanografi, bunga-bunga itu tampak melayang dalam ruang gelap yang sunyi namun bercahaya dari dalam, seolah hidup dalam dimensi lain.
Dalam ruang pamer, bunga-bunga tersebut ditata laiknya objek yang menempel di tembok, tetapi hadir dengan efek cahaya yang menyala dan meredup. Citra yang muncul seakan bernapas, memberi kesan gerak pada sesuatu yang secara alami rapuh dan sementara.
“Ini juga menjadi strategi display, bagaimana orang melihat agar tidak membosankan. Bunga itu secara realistis juga bergerak, ditiup angin, berkuncup, lalu besoknya mekar,” katanya.
Bagi Angki, pemindaian objek tersebut juga bukan sekadar proses teknis. Ada perenungan tentang waktu yang dibekukan. Dalam proses itu, bunga tidak hanya direkam bentuknya, tetapi juga jejak keberadaannya pada satu momen yang tak akan terulang.
Angki Purbandono merupakan salah satu pionir scanografi di Indonesia. Awalnya Angki memulai praktik kesenian lewat fotografi, akan tetapi beralih eksperimen melalui mesin pemindai sejak awal 2000-an dan konsisten menjadikannya sebagai medium berkarya.
Pada 2008 dia turut mendirikan Ruang MES 56 di Yogyakarta yang kelak menjadi salah satu simpul penting fotografi kontemporer Indonesia. Lewat berbagai pameran di dalam dan luar negeri, Angki juga memperkenalkan scanografi sebagai pendekatan yang memperluas batas fotografi konvensional.
Angki menjelaskan, secara prinsip tidak ada perbedaan mendasar antara scanografi dan fotografi. Keduanya, sama-sama merekam peristiwa melalui cahaya. “Sebenarnya tidak beda. Aku angkat fotografi. Hanya caranya saja yang berbeda," imbuhnya.
Dia juga mengaitkan scanografi dengan tradisi fotogram dan cyanotype, dua metode mengambil gambar tanpa lensa. Fotogram merekam bayangan objek di atas kertas peka cahaya, sementara scanner merekam refleksi cahaya langsung dari objek.
Melalui pameran ini, Angki juga melanjutkan praktik scanografi yang telah dikembangkan sejak 2005. Sebelumnya, pada 2018, Angki mengeksplorasi tema serupa lewat pameran Flower Power di Mizuma Gallery, Singapura.
Namun jika seri terdahulu lebih menekankan ledakan energi visual dan warna, Berbunga-bunga bergerak lebih tenang dan reflektif. Kali ini bunga tidak hanya hadir sebagai objek estetis, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun arsip kota.
Bunga-bunga yang dipetik dari pasar, halaman rumah, atau tumbuh liar di jalan juga menjadi penanda ruang sosial dan peristiwa yang mengitarinya. Kota direkam bukan melalui gedung atau jalan raya, melainkan lewat flora yang tumbuh dan gugur.
“Pada 2018 itu aku hanya mampu bikin 50 bunga, karena tidak semua bunga skanogenik. Jadi tidak semua bunga cocok ditidurkan di atas scanner,” imbuh Angki.
Kurator Mikke Susanto menilai praktik scanografi Angki sebagai babak penting dalam perjalanan seni rupa Indonesia kontemporer. Sebab, sang seniman menjadikan mesin pemindai atau flatbed scanner sebagai instrumen penciptaan.
Melalui medium ini, papar Mikke, Angki mengembangkan teknik unik dengan memindai kehidupan secara harfiah sekaligus metaforis, termasuk menyalin cahaya, menangkap waktu, dan membingkai kesementaraan dalam bentuk digital.
“Lewat karya-karyanya, dia juga memperluas batas antara fotografi, seni instalasi, dan seni lukis, sekaligus menegaskan posisi scanografi sebagai medium yang berdiri otonom dalam lanskap seni kontemporer,” tulis Mikke.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Kesadaran itu datang setelah dia mengalami serangan jantung pada 2018 akibat gaya hidup yang kacau. Pasca kejadian tersebut, dokter mewajibkannya berjalan pagi setiap hari. Dari rutinitas sederhana itulah, Angki mulai melihat bunga dengan kesadaran baru.
Baca juga: Alih, Ruang Transformasi Handiwirman Saputra di Nadi Gallery Jakarta
Perubahan cara pandang itu tampak dalam pameran tunggalnya bertajuk Berbunga-bunga di SAL Project, Jakarta. Digelar pada 7 Februari hingga 5 April 2026, seteleng ini menghadirkan 108 panel karya yang merekam 73 jenis bunga.
Seluruh karya menampilkan hasil scanografi berbagai jenis bunga dalam format instalasi lightbox. Ukurannya beragam dengan bentuk bulat berbagai dimensi, mulai dari 20x5 sentimeter, 30x5 sentimeter, hingga 38,4x5 sentimeter. Setiap karya diproduksi dalam 10 edisi.
Angki membayangkan bunga sebagai medium komunikasi lintas dunia. Kendati mudah layu ketika dipetik, bunga membawa kesadaran tentang kefanaan hidup sekaligus mengubah cara pandangnya terhadap hal-hal yang selama ini dianggap remeh.
Misalnya, saat berziarah ke makam orang tuanya bersama sang istri, Dian Ariyani, kerap muncul perdebatan kecil, apakah membeli bunga atau mengambilnya di jalan. Dari situ dia melihat bunga bukan sekadar komoditas, melainkan entitas yang menjembatani yang kasatmata dan yang tak kasatmata.
Berangkat dari kebiasaan itu, keluarga kecil tersebut bersama sang anak, Daun, mulai memetik bunga liar di jalan untuk dibawa berziarah. Di lain waktu, bunga-bunga juga dia pindai untuk diarsipkan dalam medium yang membuatnya tak lagi tunduk pada waktu dan layu.
Hasilnya berupa citraan bunga seperti Adenium, Air Mata Pengantin, Asoka, Kenikir, Krokot, Telang, Kolesom, dan lain-lain. Melalui teknik scanografi, bunga-bunga itu tampak melayang dalam ruang gelap yang sunyi namun bercahaya dari dalam, seolah hidup dalam dimensi lain.
Dalam ruang pamer, bunga-bunga tersebut ditata laiknya objek yang menempel di tembok, tetapi hadir dengan efek cahaya yang menyala dan meredup. Citra yang muncul seakan bernapas, memberi kesan gerak pada sesuatu yang secara alami rapuh dan sementara.
“Ini juga menjadi strategi display, bagaimana orang melihat agar tidak membosankan. Bunga itu secara realistis juga bergerak, ditiup angin, berkuncup, lalu besoknya mekar,” katanya.
Bagi Angki, pemindaian objek tersebut juga bukan sekadar proses teknis. Ada perenungan tentang waktu yang dibekukan. Dalam proses itu, bunga tidak hanya direkam bentuknya, tetapi juga jejak keberadaannya pada satu momen yang tak akan terulang.
Perluasan Fotografi
Angki Purbandono merupakan salah satu pionir scanografi di Indonesia. Awalnya Angki memulai praktik kesenian lewat fotografi, akan tetapi beralih eksperimen melalui mesin pemindai sejak awal 2000-an dan konsisten menjadikannya sebagai medium berkarya.Pada 2008 dia turut mendirikan Ruang MES 56 di Yogyakarta yang kelak menjadi salah satu simpul penting fotografi kontemporer Indonesia. Lewat berbagai pameran di dalam dan luar negeri, Angki juga memperkenalkan scanografi sebagai pendekatan yang memperluas batas fotografi konvensional.
Angki menjelaskan, secara prinsip tidak ada perbedaan mendasar antara scanografi dan fotografi. Keduanya, sama-sama merekam peristiwa melalui cahaya. “Sebenarnya tidak beda. Aku angkat fotografi. Hanya caranya saja yang berbeda," imbuhnya.

Senarai karya Angki Purbandono dalam pameran Berbunga-bunga di SAL Project. Jakarta. Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Dia juga mengaitkan scanografi dengan tradisi fotogram dan cyanotype, dua metode mengambil gambar tanpa lensa. Fotogram merekam bayangan objek di atas kertas peka cahaya, sementara scanner merekam refleksi cahaya langsung dari objek.
Melalui pameran ini, Angki juga melanjutkan praktik scanografi yang telah dikembangkan sejak 2005. Sebelumnya, pada 2018, Angki mengeksplorasi tema serupa lewat pameran Flower Power di Mizuma Gallery, Singapura.
Namun jika seri terdahulu lebih menekankan ledakan energi visual dan warna, Berbunga-bunga bergerak lebih tenang dan reflektif. Kali ini bunga tidak hanya hadir sebagai objek estetis, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun arsip kota.
Bunga-bunga yang dipetik dari pasar, halaman rumah, atau tumbuh liar di jalan juga menjadi penanda ruang sosial dan peristiwa yang mengitarinya. Kota direkam bukan melalui gedung atau jalan raya, melainkan lewat flora yang tumbuh dan gugur.
“Pada 2018 itu aku hanya mampu bikin 50 bunga, karena tidak semua bunga skanogenik. Jadi tidak semua bunga cocok ditidurkan di atas scanner,” imbuh Angki.
Kurator Mikke Susanto menilai praktik scanografi Angki sebagai babak penting dalam perjalanan seni rupa Indonesia kontemporer. Sebab, sang seniman menjadikan mesin pemindai atau flatbed scanner sebagai instrumen penciptaan.
Melalui medium ini, papar Mikke, Angki mengembangkan teknik unik dengan memindai kehidupan secara harfiah sekaligus metaforis, termasuk menyalin cahaya, menangkap waktu, dan membingkai kesementaraan dalam bentuk digital.
“Lewat karya-karyanya, dia juga memperluas batas antara fotografi, seni instalasi, dan seni lukis, sekaligus menegaskan posisi scanografi sebagai medium yang berdiri otonom dalam lanskap seni kontemporer,” tulis Mikke.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.