Mayweather vs Pacquiao II Bakal Digelar di Las Vegas Sphere, Tayang Eksklusif di Netflix
24 February 2026 |
21:21 WIB
Floyd Mayweather Jr. dan Manny Pacquiao dikabarkan akan kembali bertarung dalam laga rematch pada Sabtu, 19 September 2026, di Las Vegas. Duel tersebut akan menjadi pertandingan tinju profesional pertama di venue berkapasitas 18.600 penonton sekaligus disiarkan secara global.
Dari informasi yang beredar, pertarungan ini hadir 11 tahun setelah duel pertama pada 2 Mei 2015 di MGM Grand Garden Arena yang kala itu dijuluki “Fight of the Century”. Laga tersebut mencatat lebih dari 4,6 juta pembelian pay-per-view dan menghasilkan sekitar US$400 juta dengan Mayweather menang angka mutlak untuk mempertahankan rekor tak terkalahkannya.
Baca juga: Diminati Gen Z, Ikuti Cara Berlatih Tinju Efektif Menurut Profesional
Mayweather kini kembali dari pensiun panjangnya. Petinju yang akan berusia 49 tahun itu terakhir bertarung profesional pada 2017 saat mengalahkan Conor McGregor sebelum menjalani sejumlah laga uji coba. Dalam rematch ini, ia mempertaruhkan rekor sempurna 50-0 (27 KO) dalam rematch ini, sesuatu yang sangat berisiko mengingat usianya yang hampir setengah abad.
Sementara itu, Pacquiao yang kini berusia 47 tahun juga kembali aktif setelah sempat fokus pada karier politik di Filipina. Setelah gagal dalam pencalonan presiden dan pemilihan Senat pada 2025, ia kembali ke ring dan mencatat hasil imbang mayoritas melawan Mario Barrios dalam upaya menjadi juara dunia tertua di kelas welter.
Rekornya saat ini berdiri di angka 62-8-3 (39 KO), dan ia dijadwalkan menghadapi Ruslan Provodnikov pada April 2026 sebagai bagian dari rangkaian comeback-nya.
Pertemuan pertama mereka pada 2015 memang sukses besar secara komersial, namun banyak penggemar menilai laga tersebut tidak memenuhi ekspektasi. Pacquiao kemudian mengungkap bahwa ia bertarung dengan cedera bahu yang membatasi agresivitasnya.
Isu inilah yang kini menjadi salah satu narasi utama rematch, yakni kesempatan kedua bagi Pacquiao untuk menantang rekor Mayweather dalam kondisi yang diklaim lebih ideal.
Menurut berbagai sumber, venue The Sphere juga menjadi daya tarik tersendiri, karena arena ini dikenal dengan teknologi layar imersif beresolusi tinggi dan sistem produksi visual canggih yang biasa digunakan untuk konser dan event berskala besar.
Untuk pertama kalinya, teknologi tersebut akan diterapkan pada pertandingan tinju profesional dan menghadirkan pengalaman visual yang berbeda dibandingkan arena konvensional di Las Vegas.
Jika dibandingkan pada laga 2015 yang hanya mengandalkan sistem pay-per-view tradisional, rematch 2026 akan disiarkan langsung melalui Netflix. Langkah ini menegaskan ambisi platform streaming tersebut dalam memperluas portofolio olahraga live premium yang menyusul sejumlah siaran tinju dan event olahraga besar yang telah mereka amankan sebelumnya.
Sejumlah analis melihat laga ini lebih sebagai pertarungan warisan dan nostalgia dibandingkan duel untuk menentukan yang terbaik di masa keemasan. Dengan usia keduanya yang mendekati setengah abad saat laga berlangsung, fokus utama bukan lagi supremasi divisi, melainkan daya tarik dua ikon global yang masih memiliki nilai komersial sangat tinggi.
Reaksi publik pun terbelah. Sebagian menyambut antusias karena melihatnya sebagai kesempatan menutup bab yang dianggap belum tuntas sejak 2015. Namun tidak sedikit pula yang skeptis yang menilai pertarungan ini lebih didorong aspek bisnis ketimbang kebutuhan olahraga murni.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dari informasi yang beredar, pertarungan ini hadir 11 tahun setelah duel pertama pada 2 Mei 2015 di MGM Grand Garden Arena yang kala itu dijuluki “Fight of the Century”. Laga tersebut mencatat lebih dari 4,6 juta pembelian pay-per-view dan menghasilkan sekitar US$400 juta dengan Mayweather menang angka mutlak untuk mempertahankan rekor tak terkalahkannya.
Baca juga: Diminati Gen Z, Ikuti Cara Berlatih Tinju Efektif Menurut Profesional
Mayweather kini kembali dari pensiun panjangnya. Petinju yang akan berusia 49 tahun itu terakhir bertarung profesional pada 2017 saat mengalahkan Conor McGregor sebelum menjalani sejumlah laga uji coba. Dalam rematch ini, ia mempertaruhkan rekor sempurna 50-0 (27 KO) dalam rematch ini, sesuatu yang sangat berisiko mengingat usianya yang hampir setengah abad.
Sementara itu, Pacquiao yang kini berusia 47 tahun juga kembali aktif setelah sempat fokus pada karier politik di Filipina. Setelah gagal dalam pencalonan presiden dan pemilihan Senat pada 2025, ia kembali ke ring dan mencatat hasil imbang mayoritas melawan Mario Barrios dalam upaya menjadi juara dunia tertua di kelas welter.
Rekornya saat ini berdiri di angka 62-8-3 (39 KO), dan ia dijadwalkan menghadapi Ruslan Provodnikov pada April 2026 sebagai bagian dari rangkaian comeback-nya.
Pertemuan pertama mereka pada 2015 memang sukses besar secara komersial, namun banyak penggemar menilai laga tersebut tidak memenuhi ekspektasi. Pacquiao kemudian mengungkap bahwa ia bertarung dengan cedera bahu yang membatasi agresivitasnya.
Isu inilah yang kini menjadi salah satu narasi utama rematch, yakni kesempatan kedua bagi Pacquiao untuk menantang rekor Mayweather dalam kondisi yang diklaim lebih ideal.
Menurut berbagai sumber, venue The Sphere juga menjadi daya tarik tersendiri, karena arena ini dikenal dengan teknologi layar imersif beresolusi tinggi dan sistem produksi visual canggih yang biasa digunakan untuk konser dan event berskala besar.
Untuk pertama kalinya, teknologi tersebut akan diterapkan pada pertandingan tinju profesional dan menghadirkan pengalaman visual yang berbeda dibandingkan arena konvensional di Las Vegas.
Jika dibandingkan pada laga 2015 yang hanya mengandalkan sistem pay-per-view tradisional, rematch 2026 akan disiarkan langsung melalui Netflix. Langkah ini menegaskan ambisi platform streaming tersebut dalam memperluas portofolio olahraga live premium yang menyusul sejumlah siaran tinju dan event olahraga besar yang telah mereka amankan sebelumnya.
Sejumlah analis melihat laga ini lebih sebagai pertarungan warisan dan nostalgia dibandingkan duel untuk menentukan yang terbaik di masa keemasan. Dengan usia keduanya yang mendekati setengah abad saat laga berlangsung, fokus utama bukan lagi supremasi divisi, melainkan daya tarik dua ikon global yang masih memiliki nilai komersial sangat tinggi.
Reaksi publik pun terbelah. Sebagian menyambut antusias karena melihatnya sebagai kesempatan menutup bab yang dianggap belum tuntas sejak 2015. Namun tidak sedikit pula yang skeptis yang menilai pertarungan ini lebih didorong aspek bisnis ketimbang kebutuhan olahraga murni.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.