Pengunjung menyaksikan sejumlah karya dalam pameran seni rupa bersama bertajuk Then & Now, di Baik Art Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Menelusuri Jejak Seni Kontemporer Indonesia di Then & Now, Baik Art Jakarta

12 February 2026   |   15:09 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Satu karya yang terpampang di dinding sebuah tangga itu punya warna yang mencolok. Bidangnya menampilkan figur-figur imajiner berwajah jenaka, dengan mata melotot dan bentuk yang terasa seperti dunia mimpi. Itulah karya Hendra “HeHe” Harsono dalam pameran seni rupa bersama bertajuk Then & Now, di Baik Art Jakarta, hingga 13 Februari 2026.

Tanpa judul, karya ini seakan mengajak penonton menertawakan sekaligus merenungkan realitas keseharian yang kerap absurd. HeHe adalah perupa 43 tahun lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Karya-karyanya terinspirasi pada pengalaman hidup sehari-hari serta isu-isu budaya kontemporer yang pada situasi sekarang banyak didapat dari gawai.

Baca juga: MTN Lab & Gelombang Baru Seni Kontemporer Indonesia di Galeri Nasional

Salah satu yang menarik adalah lukisan berjudul Jumpa di Linimasa (2024). Menggunakan media akrilik di atas kanvas, karya berdimensi 95 x 180 sentimeter ini menggambarkan figur-figur fantasi dengan berbagai pose. Karakter tersebut,  merupakan perwujudan situasi, individu, dan fenomena sosial.

“Aku takut di era medsos ini nanti jadi satu warna semua—kehilangan identitas sebagai individu dan cuma jadi kumpulan orang yang gampang dikendalikan algoritma,” katanya.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Hendra HeHe (@hendrahehe)


Total, pameran ini menghadirkan karya empat belas perupa kontemporer Tanah Air. Mereka adalah Agan Harahap, Angki Purbandono, Arkiv Vilmansa, Badruzzaman, Erik Pauhrizi, Ronald Apriyan, Sutra Djarot, Syagini Ratna Wulan, Theresia Agustina, Wastuwidyawan Paramaputra, Arin Dwihartanto Sunaryo, Erika Ernawan, dan Iqi Qoror.

Selain karya penuh warna, HeHe juga membuat lukisan monokrom. Berjudul Terpumpun (2025), karya ini ingin menghadirkan kontras—antara dunia visualnya yang selama ini ceria dengan suasana baru yang lebih sunyi, dramatis, dan minim cahaya, yang terinspirasi dari kesan foto hitam-putih.

Senapas dengan itu adalah karya Arkiv Vilmansa. Perupa yang juga arsitek asal Bandung ini mengeksplorasi budaya populer. Salah satunya lewat lukisan berjudul Supernova (2025) yang menampilkan gelombang warna-warni untuk menggambarkan penciptaan unsur-unsur berat di alam semesta.

Arkiv juga menampilkan karakter populernya, yakni Mickiv. Terinspirasi dari kartun Mickey Mouse, sang seniman lalu mengeksplorasi karakter tersebut dengan kepala yang bulat, daun telinga lebar, serta berkulit hitam. Tangannya digambarkan memakai sarung tangan putih dan bercelana pendek.

Isu lingkungan hadir dalam karya fotografi yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Agan Harahap menggunakan teknologi tersebut sebagai alat tambahan dalam proses penyuntingan dan pencitraan lewat karya bertajuk Love Dogs (2025) sebagai respons terhadap kerusakan lingkungan di Tanah Air.

Karya cetakan pigmen arsip di atas kertas foto ini memotret dua ekor anjing yang sedang kawin berlatar pembalakan hutan. Simbol tersebut merupakan respons atas konsekuensi dari kebijakan yang ceroboh, serakah, dan tidak bertanggung jawab sehingga menyebabkan degradasi lingkungan.


Seni sebagai Ruang Ingatan

Sutra Djarot, perupa yang sebelumnya mendalami bidang tekstil, membawa karya dengan kecenderungan menggabungkan banyak material seperti lukisan, benang, jahitan, hingga akrilik. Terdiri dari tiga seri, karya berjudul Unfold (2025) ini berangkat dari ingatan personal terhadap potret keluarga.

Dalam karya bertema tiga sosok, Sutra menghadirkan narasi intim tentang dirinya, ayahnya, dan eyangnya. Meski tak pernah bertemu sang eyang, dia membangun identitas melalui cerita-cerita indah yang diwariskan untuk merawat ingatan, relasi keluarga, dan perjalanan dirinya sebagai seniman.

“Aku bukan anak seni murni, jadi melukis itu selalu disertai pertanyaan: aku mampu nggak? Tapi justru dari situ aku terdorong menggabungkan apa yang aku tahu dengan apa yang aku suka,” katanya.

Karya

Karya utra Djarot, berjudul Unfold (2025) dalam pameran seni rupa bersama bertajuk Then & Now, di Baik Art Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
 

Angki Purbandono, salah satu perupa senior asal Yogyakarta yang dikenal lewat karya-karya scanography, atau citra fotografis, juga memboyong karya baru dan lama. Melalui sejumlah karyanya, Angki seolah terus melampaui batas-batas fotografi dalam ranah seni visual.

Salah satunya bertajuk Ambition, yang dibuat dalam satu edisi light box dan cetak di kertas foto metalik. Berdimensi 60 x 60 x 10 sentimeter, karya ini menggambarkan sosok superhero yang tertegun lesu dengan mata yang nanar. Figur tersebut berdiri di atas kubik dengan huruf kapital bertuliskan AMBITION.

Kurator Vivi Yip mengatakan, pameran seni rupa Then & Now memang dihelat untuk menghadirkan pertemuan atas perjalanan setiap seniman dalam mengeksplorasi dan mematangkan praktik berkarya mereka sejak pertama kali dipertemukan di rumah lelang Vivi Yip Art Room pada 2008.

“Para seniman ada yang terus menggali medium yang telah dipercaya sambil menyuarakan kegelisahan masa kini. Ada pula yang memperdalam riset dan memvisualisasikannya melalui pendekatan berbeda,” katanya.

SEBELUMNYA

Theresa Kusumadjaja, Perempuan Indonesia Pertama yang Masuk Nominasi Grammy Awards

BERIKUTNYA

Bring Me The Horizon Siap Guncang Bioskop pada Maret 2026

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga