Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 Kembali Digelar, Fokus Perluas Ekosistem Sastra Indonesia
05 February 2026 |
22:08 WIB
Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) resmi kembali membuka penyelenggaraan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026. Penyelenggaraan tahun ini merupakan edisi ke-22 sejak pertama kali digelar pada 2001, sekaligus tahun kedua setelah kembali bangkit dari kevakuman tiga tahun pasca wafatnya pendiri Richard Oh pada Juli 2022.
Melalui konferensi pers di Balai Sastra HB Jassin, Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Kamis (5/2/2026), yang di hadiri Pratiwi Juliani selaku Ketua YRKI, dua kurator yakni Eka Kurniawan dan Hasan Aspahani, serta Gema Laksmi sebagai Ketua Program ini menegaskan bahwa KSK 2026 tidak akan sekadar ajang pemberian penghargaan.
Baca juga: Penyelenggara Ajang Kusala Sastra Khatulistiwa Rilis Daftar Pendek
"Kami ingin lebih banyak menyentuh ekosistem sastra, bukan hanya memberikan penghargaan kepada karya terpilih," ungkap Hasan Aspahani, salah satu kurator KSK 2026.
Adapun Ketua YRKI Pratiwi Juliani menekankan pentingnya standar penilaian yang ketat dalam penyelenggaraan KSK. "Ini bukan sekadar sayembara di mana orang yang paling bagus terpilih tiap tahunnya, tapi rasanya kita perlu punya standar tersendiri terhadap penilaian," kata Pratiwi.
Ia juga menjelaskan bahwa sepeninggal Richard Oh, melanjutkan KSK terasa sulit, namun dengan hadirnya Eka Kurniawan dan Hasan Aspahani sebagai kurator, penyelenggaraan menjadi lebih solid.
Sejalan dengan pengumuman pemenang setiap tahun, KSK juga ingin memastikan bahwa ajang ini sekaligus menandai peningkatan kualitas sastra dan perbukuan Indonesia secara keseluruhan.
Eka Kurniawan menyoroti pentingnya peran KSK dalam membawa karya sastra Indonesia ke audiens yang lebih luas, termasuk internasional. "Tentu saja, sayembara atau penghargaan KSK sangat penting, karena dengan membaca satu karya itu bisa membawa karya-karya yang lain," ujar novelis Cantik Itu Luka ini.
Ia manambahkan bahwa dari tahun ke tahun, KSK tidak hanya fokus pada kualitas penilaian dan penjurian, tetapi juga aktif menjaring buku-buku yang sudah terbit serta menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga lain untuk mendukung kualitas sastra Indonesia di masa mendatang, termasuk kolaborasi dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) yang memiliki akses ke talenta-talenta muda penulis di seluruh negeri.
Gema Laksmi mengungkapkan bahwa hingga hari peluncuran, ratusan judul buku sudah dikirimkan oleh penulis dan penerbit. "Hari ini sudah ada ratusan judul buku yang dikirim oleh penulis dan penerbit. Tahun ini kita berharap bisa mempromosikan karya-karya ke tahap yang lebih jauh lagi, dan akan memperbanyak kolaborasi dengan komunitas sastra," ujarnya.
Berdasarkan penjelasan, terdapat dua cara pengumpulan naskah: pertama, karya dikirim langsung oleh penulis dan penerbit; kedua, penyelenggara secara aktif menjemput buku-buku yang mungkin luput atau belum dikirimkan, bahkan mencari buku berkualitas berdasarkan rekomendasi komunitas sastra.
Hingga hari pelaksanaan konferensi pers, Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 telah menerima 104 judul buku yang dikirimkan oleh penulis dan penerbit. Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah hingga batas akhir pendaftaran.
Adapun kategori yang dilombakan tahun ini tetap sama seperti edisi sebelumnya, yakni kumpulan cerpen dengan minimal dua cerpen, novel dengan panjang minimal 30.000 kata, serta kumpulan puisi yang memuat sedikitnya 40 puisi atau setara 40 halaman.
Hasan Aspahani turut menegaskan bahwa proses penjurian KSK dijalankan secara independen dan berlapis. Kurator tidak terlibat langsung dalam penentuan pemenang, sementara dewan juri akan selalu berganti setiap tahun.
“Karena itu, baik pemenang maupun jurinya tidak bisa ditebak,” ujar Hasan. Sistem ini dirancang untuk menjaga netralitas serta kredibilitas KSK sebagai penghargaan sastra yang berfokus pada kualitas dan integritas penilaian.
Baca juga: Daftar Pemenang Kategori Cerpen, Novel, dan Puisi Kusala Sastra Khatulistiwa 2025
Melalui konferensi pers di Balai Sastra HB Jassin, Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Kamis (5/2/2026), yang di hadiri Pratiwi Juliani selaku Ketua YRKI, dua kurator yakni Eka Kurniawan dan Hasan Aspahani, serta Gema Laksmi sebagai Ketua Program ini menegaskan bahwa KSK 2026 tidak akan sekadar ajang pemberian penghargaan.
Baca juga: Penyelenggara Ajang Kusala Sastra Khatulistiwa Rilis Daftar Pendek
"Kami ingin lebih banyak menyentuh ekosistem sastra, bukan hanya memberikan penghargaan kepada karya terpilih," ungkap Hasan Aspahani, salah satu kurator KSK 2026.
Adapun Ketua YRKI Pratiwi Juliani menekankan pentingnya standar penilaian yang ketat dalam penyelenggaraan KSK. "Ini bukan sekadar sayembara di mana orang yang paling bagus terpilih tiap tahunnya, tapi rasanya kita perlu punya standar tersendiri terhadap penilaian," kata Pratiwi.
Ia juga menjelaskan bahwa sepeninggal Richard Oh, melanjutkan KSK terasa sulit, namun dengan hadirnya Eka Kurniawan dan Hasan Aspahani sebagai kurator, penyelenggaraan menjadi lebih solid.
Sejalan dengan pengumuman pemenang setiap tahun, KSK juga ingin memastikan bahwa ajang ini sekaligus menandai peningkatan kualitas sastra dan perbukuan Indonesia secara keseluruhan.
Eka Kurniawan menyoroti pentingnya peran KSK dalam membawa karya sastra Indonesia ke audiens yang lebih luas, termasuk internasional. "Tentu saja, sayembara atau penghargaan KSK sangat penting, karena dengan membaca satu karya itu bisa membawa karya-karya yang lain," ujar novelis Cantik Itu Luka ini.
Ia manambahkan bahwa dari tahun ke tahun, KSK tidak hanya fokus pada kualitas penilaian dan penjurian, tetapi juga aktif menjaring buku-buku yang sudah terbit serta menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga lain untuk mendukung kualitas sastra Indonesia di masa mendatang, termasuk kolaborasi dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) yang memiliki akses ke talenta-talenta muda penulis di seluruh negeri.
Gema Laksmi mengungkapkan bahwa hingga hari peluncuran, ratusan judul buku sudah dikirimkan oleh penulis dan penerbit. "Hari ini sudah ada ratusan judul buku yang dikirim oleh penulis dan penerbit. Tahun ini kita berharap bisa mempromosikan karya-karya ke tahap yang lebih jauh lagi, dan akan memperbanyak kolaborasi dengan komunitas sastra," ujarnya.
Berdasarkan penjelasan, terdapat dua cara pengumpulan naskah: pertama, karya dikirim langsung oleh penulis dan penerbit; kedua, penyelenggara secara aktif menjemput buku-buku yang mungkin luput atau belum dikirimkan, bahkan mencari buku berkualitas berdasarkan rekomendasi komunitas sastra.
Hingga hari pelaksanaan konferensi pers, Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 telah menerima 104 judul buku yang dikirimkan oleh penulis dan penerbit. Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah hingga batas akhir pendaftaran.
Adapun kategori yang dilombakan tahun ini tetap sama seperti edisi sebelumnya, yakni kumpulan cerpen dengan minimal dua cerpen, novel dengan panjang minimal 30.000 kata, serta kumpulan puisi yang memuat sedikitnya 40 puisi atau setara 40 halaman.
Hasan Aspahani turut menegaskan bahwa proses penjurian KSK dijalankan secara independen dan berlapis. Kurator tidak terlibat langsung dalam penentuan pemenang, sementara dewan juri akan selalu berganti setiap tahun.
“Karena itu, baik pemenang maupun jurinya tidak bisa ditebak,” ujar Hasan. Sistem ini dirancang untuk menjaga netralitas serta kredibilitas KSK sebagai penghargaan sastra yang berfokus pada kualitas dan integritas penilaian.
Baca juga: Daftar Pemenang Kategori Cerpen, Novel, dan Puisi Kusala Sastra Khatulistiwa 2025
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.