ilustrasi (sumber : karola/pexels)

Begini Jurus Brand Bertahan di Era Frugal dan Dormant Economy

06 January 2026   |   21:04 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Meski ekonomi Indonesia diproyeksikan membaik pada 2026, pola konsumsi masyarakat tak serta-merta kembali seperti sebelum pengetatan. Di balik optimisme kebijakan pemerintah, konsumen memasuki fase dormant economy, di mana aktivitas belanja tetap berlangsung, tapi jauh lebih berhati-hati.

Managing Partner Inventure Yuswohady menyebut bahwa masyarakat saat ini berada dalam situasi percaya tapi menahan diri. Konsumen masih berbelanja, tetapi sangat selektif, penuh perhitungan, dan menjadikan value for money sebagai pertimbangan utama.

Baca juga: Gen Z Harus Melek Ekonomi, Cek Gambaran Makro 2026 Menurut Riset Terbaru

“Era ekonomi prihatin memaksa orang menghitung belanja kecil sekalipun. Pasarnya tidak mati, tetapi tidur. Yang aktif justru perilaku frugal,” ujar Yuswohady.

Fenomena dormant economy ini diperkuat oleh hasil Survei Inventure–Alvara 2025 terhadap 600 responden. Meski 72% responden yakin ekonomi nasional akan membaik dalam 12 bulan ke depan, daya beli belum sepenuhnya pulih. Konsumen menunda belanja besar dan lebih fokus pada pengeluaran esensial.

Dalam situasi ini, muncul pola baru yang makin menguat, yakni micro-spending behavior. Konsumen lebih memilih belanja dalam nominal kecil tetapi lebih sering. Produk kemasan kecil, harga terjangkau per transaksi, dan promo jangka pendek menjadi magnet utama.

CEO Alvara Research Center Hasannudin Ali menjelaskan bahwa micro-spending merupakan strategi adaptif rumah tangga di tengah ketidakpastian pendapatan. Konsumen kini mengelola keuangan dari hari ke hari, bukan lagi dari bulan ke bulan.

“Micro-spending adalah cara konsumen menjaga kestabilan arus kas. Mereka menghindari komitmen pengeluaran besar karena belum yakin kapan pendapatan benar-benar membaik,” katanya.

Menariknya, dormant economy bukan berarti hilangnya peluang bagi brand. Justru, kondisi ini memaksa pelaku industri untuk mengubah pendekatan. Brand tak lagi bisa mengandalkan ekspansi agresif atau strategi menyasar pasar luas tanpa diferensiasi.

Menurut Yuswohady, kunci bertahan dan tumbuh di era dormant economy adalah fokus pada segmen yang tepat. Brand harus memahami siapa konsumennya, apa yang benar-benar mereka butuhkan, dan bagaimana menawarkan nilai paling relevan dengan harga yang masuk akal.

“Brand yang menang bukan yang paling besar, tetapi yang paling relevan. Konsumen frugal tetap belanja, tapi hanya pada brand yang terasa ‘worth it’,” jelasnya.

Di sisi lain, kehadiran teknologi terutama AI menjadi senjata penting untuk menavigasi pasar yang sedang ‘tidur’ ini. AI memungkinkan perusahaan meningkatkan efisiensi, menekan biaya, dan tetap menjaga kualitas produk.

“AI bisa menaikkan value tanpa menambah cost. Bahkan, dalam beberapa kasus, bisa membantu menurunkan harga jual,” tambah Yuswohady.

Dormant economy bukanlah fase stagnasi total, melainkan masa penyesuaian. Konsumen belum sepenuhnya pulih, tetapi sudah siap bergerak. Bagi brand, 2026 menjadi momen krusial apakah menunggu pasar benar-benar bangun, atau mulai membangun relevansi sejak sekarang.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Melihat Risiko Serangan Baru dalam Keamanan Siber Tahun 2026

BERIKUTNYA

Samsung Pamer TV Micro RGB 130 Inci yang Artistik di CES 2026

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga