Bahaya Penyakit Gusi, Silent Killer yang Kerap Diabaikan
21 December 2025 |
16:00 WIB
Penyakit gusi kini menjadi salah satu persoalan kesehatan global yang kian mengkhawatirkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan pada 2050 sekitar 1,5 miliar orang di dunia akan mengalami penyakit gusi parah atau periodontitis, sementara 660 juta lainnya berpotensi kehilangan gigi.
Data Global Burden of Disease Study 2021 juga mencatat Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Vietnam, sebagai wilayah dengan prevalensi periodontitis tertinggi secara global, dengan sekitar 6,6 juta kasus baru.
Sementara Di Indonesia, masalah gigi dan gusi masih menjadi keluhan utama masyarakat. Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, Elvieda Sariwati mengungkapkan bahwa berdasarkan Program Cek Kesehatan Gratis yang telah menjangkau 63,5 juta penduduk, masalah gigi masuk dalam lima besar temuan terbanyak dari seluruh kelompok usia.
"Artinya satu dari dua orang yang mengikuti cek kesehatan gratis mengalami masalah gigi dan mulut," katanya.
Baca juga: Vaksinasi Penting untuk Mencegah Pneumonia yang Jadi Silent Killer
Keluhannya beragam, mulai dari gigi berlubang, gigi hilang, gigi goyang, hingga masalah pada gusi. Jumlahnya juga semakin meningkat seiring bertambahnya usia, kemungkinan karena kondisi tersebut sudah berlangsung lama. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan gusi masih perlu ditingkatkan.
Amaliya, Guru Besar Ilmu Periodonsia dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran menyebutkan beberapa faktor risiko yang mempengaruhi tingginya angka penyakit gusi di Indonesia.
Beberapa di antaranya adalah rendahnya literasi kesehatan gigi dan mulut, kebiasaan merokok yang masih tinggi, pola makan buruk seperti defisiensi Vitamin E, Vitamin C, dan Zinc, konsumsi gula tinggi, dan tantangan sistem kesehatan khususnya jumlah tenaga ahli yang terbatas.
Terlebih penyakit gusi kerap luput dari perhatian karena bersifat silent killer. Pada tahap awal peradangan gusi atau gingivitis umumnya gejalanya muncul secara samar dan tidak menimbulkan rasa sakit. Tahap selanjutnya, yakni periodontitis atau peradangan pada jaringan pendukung gigi biasanya kerusakannya sudah sampai ke tulang, di mana gigi menjadi goyang dan akhirnya tanggal.
“Padahal gigi tidak bisa bertahan tanpa jaringan pendukungnya, jika gusi rusak, gigi akan goyang dan akhirnya lepas,” jelasnya.
Tanda awal seperti gusi berdarah saat menyikat gigi sering dianggap sepele oleh masyarakat. Kebanyakan penderita penyakit gusi datang ke dokter gigi dalam tahapan periodontitis, sehingga membutuhkan perawatan yang lebih kompleks dan mahal.
Kondisi ini sangat berdampak terhadap produktivitas masyarakat dan menimbulkan kerugian ekonomi yang masif. WHO memperhitungkan, beban kerugian produktivitas akibat masalah gigi dan mulut di Indonesia termasuk penyakit gusi, yakni mencapai USD3.213 juta atau Rp53,3 triliun per tahun.
Total pengeluaran negara untuk pelayanan kesehatan gigi dan mulut tercatat sudah mencapai USD267 juta atau Rp4,46 triliun per tahun. Namun di sisi lain pengeluaran per tahun masyarakat Indonesia untuk perawatan gigi dan mulut ternyata hanya USD1 atau Rp16.600 per kapita.
Selain produktivitas, penyakit gusi juga mempengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh karena meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan jantung.
Dicky Levenus Tahapary, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menerangkan, penyakit diabetes sangat berkaitan dengan penyakit gusi.
"Diabetes meningkatkan risiko penyakit gusi karena kadar gula darah tinggi mendorong pertumbuhan bakteri, sementara infeksi gusi juga dapat mempersulit kontrol gula darah," katanya.
Sebuah studi menunjukkan bahwa penderita diabetes, terutama diabetes tipe 2, memiliki risiko tiga kali lipat lebih tinggi untuk menderita keparahan penyakit gusi, dimana mereka menunjukkan kedalaman poket gusi yang lebih dalam, resesi gusi, dan kehilangan perlekatan yang lebih parah dibandingkan pasien non-diabetes.
Sementara pada penyakit jantung, bakteri penyebab penyakit gusi dapat masuk ke aliran darah dan menyebabkan peradangan di jantung dan pembuluh darah sehingga berkontribusi pada faktor risiko penyakit jantung seperti penyumbatan pembuluh darah, penyakit arteri koroner, stroke, dan infeksi pada lapisan dalam jantung.
Selain itu, ada pula kondisi kesehatan lainnya yang dipengaruhi oleh penyakit gusi, seperti infeksi pernapasan dan komplikasi kehamilan.
Data Global Burden of Disease Study 2021 juga mencatat Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Vietnam, sebagai wilayah dengan prevalensi periodontitis tertinggi secara global, dengan sekitar 6,6 juta kasus baru.
Sementara Di Indonesia, masalah gigi dan gusi masih menjadi keluhan utama masyarakat. Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, Elvieda Sariwati mengungkapkan bahwa berdasarkan Program Cek Kesehatan Gratis yang telah menjangkau 63,5 juta penduduk, masalah gigi masuk dalam lima besar temuan terbanyak dari seluruh kelompok usia.
"Artinya satu dari dua orang yang mengikuti cek kesehatan gratis mengalami masalah gigi dan mulut," katanya.
Baca juga: Vaksinasi Penting untuk Mencegah Pneumonia yang Jadi Silent Killer
Keluhannya beragam, mulai dari gigi berlubang, gigi hilang, gigi goyang, hingga masalah pada gusi. Jumlahnya juga semakin meningkat seiring bertambahnya usia, kemungkinan karena kondisi tersebut sudah berlangsung lama. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan gusi masih perlu ditingkatkan.
Amaliya, Guru Besar Ilmu Periodonsia dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran menyebutkan beberapa faktor risiko yang mempengaruhi tingginya angka penyakit gusi di Indonesia.
Beberapa di antaranya adalah rendahnya literasi kesehatan gigi dan mulut, kebiasaan merokok yang masih tinggi, pola makan buruk seperti defisiensi Vitamin E, Vitamin C, dan Zinc, konsumsi gula tinggi, dan tantangan sistem kesehatan khususnya jumlah tenaga ahli yang terbatas.
Terlebih penyakit gusi kerap luput dari perhatian karena bersifat silent killer. Pada tahap awal peradangan gusi atau gingivitis umumnya gejalanya muncul secara samar dan tidak menimbulkan rasa sakit. Tahap selanjutnya, yakni periodontitis atau peradangan pada jaringan pendukung gigi biasanya kerusakannya sudah sampai ke tulang, di mana gigi menjadi goyang dan akhirnya tanggal.
“Padahal gigi tidak bisa bertahan tanpa jaringan pendukungnya, jika gusi rusak, gigi akan goyang dan akhirnya lepas,” jelasnya.
Tanda awal seperti gusi berdarah saat menyikat gigi sering dianggap sepele oleh masyarakat. Kebanyakan penderita penyakit gusi datang ke dokter gigi dalam tahapan periodontitis, sehingga membutuhkan perawatan yang lebih kompleks dan mahal.
Kondisi ini sangat berdampak terhadap produktivitas masyarakat dan menimbulkan kerugian ekonomi yang masif. WHO memperhitungkan, beban kerugian produktivitas akibat masalah gigi dan mulut di Indonesia termasuk penyakit gusi, yakni mencapai USD3.213 juta atau Rp53,3 triliun per tahun.
Total pengeluaran negara untuk pelayanan kesehatan gigi dan mulut tercatat sudah mencapai USD267 juta atau Rp4,46 triliun per tahun. Namun di sisi lain pengeluaran per tahun masyarakat Indonesia untuk perawatan gigi dan mulut ternyata hanya USD1 atau Rp16.600 per kapita.
Selain produktivitas, penyakit gusi juga mempengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh karena meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan jantung.
Dicky Levenus Tahapary, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menerangkan, penyakit diabetes sangat berkaitan dengan penyakit gusi.
"Diabetes meningkatkan risiko penyakit gusi karena kadar gula darah tinggi mendorong pertumbuhan bakteri, sementara infeksi gusi juga dapat mempersulit kontrol gula darah," katanya.
Sebuah studi menunjukkan bahwa penderita diabetes, terutama diabetes tipe 2, memiliki risiko tiga kali lipat lebih tinggi untuk menderita keparahan penyakit gusi, dimana mereka menunjukkan kedalaman poket gusi yang lebih dalam, resesi gusi, dan kehilangan perlekatan yang lebih parah dibandingkan pasien non-diabetes.
Sementara pada penyakit jantung, bakteri penyebab penyakit gusi dapat masuk ke aliran darah dan menyebabkan peradangan di jantung dan pembuluh darah sehingga berkontribusi pada faktor risiko penyakit jantung seperti penyumbatan pembuluh darah, penyakit arteri koroner, stroke, dan infeksi pada lapisan dalam jantung.
Selain itu, ada pula kondisi kesehatan lainnya yang dipengaruhi oleh penyakit gusi, seperti infeksi pernapasan dan komplikasi kehamilan.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.