Ilustrasi kebebasan berkarya. (Dok. Freepik)

Menerobos Kebuntuan Nalar & Estetika

19 December 2025   |   10:00 WIB
Image
Diena Lestari General Manager Konten Bisnis Indonesia Weekly & Hypeabis.id

Dalam beberapa waktu terakhir, muncul fenomena menarik di tengah pusaran seni rupa dunia. Praktik kreatif seniman muda mulai melampaui batas kultural. Rupanya, badai virus Corona yang merebak ke seluruh dunia pada tahun kembar 2020 tidak mampu meredam laku eksperimen pengayaan karya oleh perupa muda.

Konsistensi menjaga kreativitas menjadi bentuk penolakan atas kebuntuan nalar dan krisis estetika di tengah pandemi. Daya dobrak mereka guna mengukuhkan posisi berhasil menciptakan karya seni yang khas sekaligus menorehkan warna baru dalam lanskap seni rupa.

Gelaran pasar seni rupa yang kembali marak belakangan ini, menjadi panggung untuk memperlihatkan karya seni perupa muda. Karya mereka begitu sarat dengan gagasan, material, dan sentuhan estetika yang berbeda dari wacana dominan selama beberapa dekade terakhir.

Baca Juga: Melanggengkan Kejayaan di Jagat Seni Rupa

Tidak mengherankan jika kemudian hasil karya mereka menjadi objek buruan pencinta seni. Upaya seniman muda untuk terus menalar rasa yang selanjutnya dituangkan dalam karya tidak dapat dilepaskan dari beberapa hal.

Pertama, kegigihan perupa muda dalam mencari alat ukur estetik baru. Mereka tidak lagi mengacu secara estetik dan artistik pada karya seniman senior. Sederet nama seniman kontemporer a.l. Heri Dono, Eddie Hara, atau Ivan Sagita sudah tidak lagi utuh sebagai patron.

Para senior di jagat seni rupa tersebut telah diakui eksistensinya dalam pergerakan kreatif nasional dan mancanegara. Kendati, pergulatan kreatif yang mereka lakukan seringkali terlihat jalan di tempat tanpa banyak memproduksi karya yang memuat pencapaian artistik baru.

Kedua, perupa muda sangat intens mengikuti perkembangan arus wacana seni rupa di luar lingkungan internal. Pembacaan kreatif di ranah seni rupa global berkorelasi terhadap peningkatan kecerdasan estetika yang menjelma dalam penciptaan karya.

Keterbukaan tersebut menggeser cara pandang perupa saat berkesenian. Sebelumnya, seniman cenderung menunggu datangnya ilham turun dari langit berubah menjadi lebih agresif dalam pencarian ide.

Melalui kematangan intelektual dan estetika inilah karya yang diciptakan oleh perupa muda terlihat benar-benar berbeda. Selanjutnya pada poin ketiga, muncul pembahasan tentang hubungan erat antara seniman muda dan teknologi. Aroma teknologi dapat tercium pada sebagian besar karya yang muncul pada era milenium.

Perangkat teknologi tak ubahnya berhala kreatif baru. Sekarang ini, komputer, kamera digital, laser, proyektor, dan sederet gawai teranyar menjadi bagian dari menu wajib perupa muda.

Pada titik ini dapat dilihat bahwa teknologi menjadi alat bantu praktik sekaligus produksi kreatif seni rupa. Semua itu, pada ujungnya berkontribusi memunculkan ideologi, modus, inovasi, berikut alat ukur atau parameter estetika yang baru.
 

Jejaring Kerja

Poin terakhir yang tidak kalah penting adalah jejaring kerja perupa. Menyoal jejaring kerja ini terjadi irisan kuat dengan apa yang serupa dilakukan oleh seniman senior. Jejaring kerja menjadi kunci utama untuk membuka sistem komunikasi antarpersonal.

Sekali seorang perupa mampu menggenggam jejaring kerja bahkan hingga melampaui batas negara, pada saat itu juga transfer pengetahuan terjadi. Wawasan para perupa muda untuk menggali lebih dalam isu-isu penting yang dikabarkan lewat jejarin memudahkan untuk membuat konsep karya yang matang.

Jika dicermati lebih lanjut, pembuatan jejaring kerja antarseniman sejak lama dirintis oleh perupa di Indonesia. Khususnya bagi mereka yang berproses di daerah garda terdepan seni rupa Tanah Air seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, dan Bali. Niat baik ini kemudian diteruskan oleh perupa di kota lain seperti Semarang, Solo, Malang, Surabaya, dan Padang.

Jejaring kerja perupa dapat dipastikan melampaui batas-batas disiplin dan geografi sosial politik di luar Indonesia. Semua hal ini memberikan ilustrasi dasar bahwa pergerakan perupa muda sekarang ini sukses menerabas belenggu hierarki yang sebelumnya terjadi pada angkatan old master.

Sekarang nyaris tidak ada lagi hierarki berlandaskan senioritas untuk masuk dalam perhelatan seni rupa baik skala nasional maupun global. Tukar menukar pengetahuan dan dialektika seni rupa yang asyik turut mengasah dan memperkaya khazanah rasa batin.

Semua itu menjadi bekal para perupa untuk memupuk keberanian dalam bereksperimen, menorehkan warna, membuat bentuk baru yang tidak selazimnya, atau mengangkat tema di luar sosial politik. Imajinasi yang bergerak liar dalam alam pikiran tidak lagi terbelenggu oleh logika.

Dunia gagasan yang diantarkan seniman di atas kanvas sebagai bagian dari artefak pemikiran. Sensibilitas perupa ketika berhadapan dengan persoalan masyarakat berkelindan dengan intelektual seniman manakala membaca dinamika dunia pemikiran di lingkungannya.

Poin ini menjadi penting karena sampai saat ini, masih banyak seniman yang lebih mengedepankan bentuk rupa dengan segala kompleksitas teknis dan eksplorasinya dibandingkan dengan menyajikan karya yang berasal dari dunia gagasan itu sendiri. Sederet poin di atas menjadi perangkat untuk memeriksa kembali gairah kreatif dan kesadaran sosial yang tersaji pada karya para perupa muda. 

Mereka, anak-anak muda yang memilih membaktikan hidupnya pada seni, mampu merangsek masuk dalam poros edar seni rupa global karena pencapaian kebaruan estetika rupa yang melampaui pendahulunya. Selebihnya, dunia dalam diri sang perupa muda menjadi semesta yang sedemikian riuh di atas kanvas.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Netflix Adaptasi Novel Terlaris The God of the Woods, Jadi Serial Drama Penuh Misteri

BERIKUTNYA

Lee Man Fong, Menggores Karya Tak Lekang Zaman

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga