She Runs The World 2025, Ciptakan Ruang Olahraga yang Inklusif untuk Perempuan
15 December 2025 |
11:00 WIB
Olahraga lari kini menjadi salah satu aktivitas fisik yang digemari masyarakat Indonesia, termasuk kalangan perempuan. Tren ini tercermin dari data Garmin Connect yang mencatat peningkatan signifikan aktivitas lari di Indonesia, mencapai lebih dari 242.000 aktivitas pada Mei 2025.
Fenomena tersebut mendorong banyaknya penyelenggaraan ajang lari yang tak hanya berfokus pada gaya hidup sehat, tetapi juga menghadirkan ruang yang inklusif bagi perempuan untuk aktif berolahraga.
Salah satunya, ajang lari khusus perempuan She Runs The World yang sukses digelar tahun ini dengan momen stroller moms sebagai sorotan utamanya. Momen unik ini memperlihatkan ratusan ibu berlari sambil mendorong stroller bersama anak mereka.
Baca juga: 6 Event Lari Maraton Paling Bergengsi di Dunia
Acara yang diinisiasi oleh merek fesyen Heylocal itu berhasil menarik 1.200 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari komunitas perempuan, pekerja profesional, serta ibu rumah tangga dari berbagai kota.
Nadya Rosmalina, Founder & Creative Director Heylocal, memaparkan bahwa She Runs The World selalu menjadi ruang di mana perempuan merasa terlihat, didukung, dan dirayakan.
“Melihat begitu banyak ibu hadir bersama anaknya tahun ini benar-benar menyentuh hati saya, ini membuktikan bahwa menjadi ibu dan tetap aktif bukanlah dua hal yang saling bertentangan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Nadya membagikan ceritanya saat mempersiapkan ajang lari khusus perempuan tersebut. Lewat gelaran ini, dia ingin membuktikan bahwa ruang olahraga untuk perempuan semakin inklusif, menyenangkan, dan ramah termasuk bagi para ibu.
Adapun She Runs The World termasuk kategori fun run 5k, yakni ajang lari santai sejauh 5 kilometer yang fokus pada kesenangan dan kebersamaan, bukan pada kecepatan atau kompetisi.
"Kami menghadirkan Nursery Room sebagai fasilitas mom-friendly yang memungkinkan para ibu bisa tetap berolahraga sambil memenuhi kebutuhan buah hatinya," ujar Nadya.
Selain itu, juga tersedia ruang UMKM gratis bagi para pengusaha perempuan untuk memperkenalkan brand mereka, sekaligus menegaskan komitmennya dalam mendukung pelaku bisnis lokal dan pemberdayaan perempuan.
Tingginya antusiasme peserta turut mendorong She Runs The World untuk menggelar rangkaian roadshow ke tiga kota besar lainnya dalam waktu dekat.
Inisiatif ini diharapkan dapat memperluas komunitas perempuan aktif dan menginspirasi lebih banyak perempuan di seluruh Indonesia untuk mulai bergerak dan berani mengambil ruangnya sendiri.
Selain menjadi ruang olahraga, ajang lari tersebut menghadirkan kepedulian sosial melalui kampanye “Thousand Hearts for Sumatra” sebagai bentuk solidaritas terhadap korban banjir di Sumatra. Dengan donasi mulai dari Rp30.000, peserta mendapatkan pita hitam yang dikenakan saat berlari sebagai simbol dukungan dan belasungkawa.
“Melalui kampanye ini, kami ingin menunjukkan bahwa setiap langkah kecil perempuan hari ini dapat membawa harapan bagi saudara-saudara kita yang terdampak bencana. Solidaritas seperti inilah yang membuat komunitas ini begitu berarti,” kata Nadya.
Dengan fokus pada pemberdayaan perempuan, inklusivitas, dan kekuatan komunitas, She Runs The World terus berkembang sebagai salah satu ajang lari perempuan paling berpengaruh di Indonesia.
Hal tersebut tercermin dalam survei yang dilakukan Runner’s World dan Women’s Health terhadap lebih dari 2.000 pelari. Hasilnya menunjukkan bahwa enam dari sepuluh perempuan mengaku pernah mengalami pelecehan saat berlari.
Sebanyak 25 persen responden menyatakan, mereka kerap menjadi sasaran komentar seksis atau rayuan seksual yang tidak diinginkan, sementara enam persen lainnya bahkan merasa ancaman tersebut begitu serius hingga khawatir bisa membahayakan keselamatan mereka.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menilai bahwa olahraga merupakan medium penting dalam upaya pemberdayaan perempuan. Oleh karenanya penting sekali penyediaan ruang publik yang aman, sehat, dan inspiratif.
"Di tengah dinamika tantangan kesetaraan gender, ruang-ruang afirmatif seperti ini menjadi kunci untuk memastikan perempuan memiliki kesempatan yang setara dalam mengakses kehidupan sehat, aktif, dan bermakna," ungkapnya, melalui keterangan resmi.
Menteri PPPA mengajak seluruh pihak komunitas, dunia usaha, media, dan masyarakat luas untuk terus bergotong royong menciptakan lingkungan yang mendukung perempuan dalam mengoptimalkan potensinya. Menurutnya ketika perempuan mampu bergerak dan berdaya, maka bangsa ini pun akan maju dan berdaya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Fenomena tersebut mendorong banyaknya penyelenggaraan ajang lari yang tak hanya berfokus pada gaya hidup sehat, tetapi juga menghadirkan ruang yang inklusif bagi perempuan untuk aktif berolahraga.
Salah satunya, ajang lari khusus perempuan She Runs The World yang sukses digelar tahun ini dengan momen stroller moms sebagai sorotan utamanya. Momen unik ini memperlihatkan ratusan ibu berlari sambil mendorong stroller bersama anak mereka.
Baca juga: 6 Event Lari Maraton Paling Bergengsi di Dunia

Stroller Moms di event lari (Sumber Foto: Heylocal)
Acara yang diinisiasi oleh merek fesyen Heylocal itu berhasil menarik 1.200 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari komunitas perempuan, pekerja profesional, serta ibu rumah tangga dari berbagai kota.
Nadya Rosmalina, Founder & Creative Director Heylocal, memaparkan bahwa She Runs The World selalu menjadi ruang di mana perempuan merasa terlihat, didukung, dan dirayakan.
“Melihat begitu banyak ibu hadir bersama anaknya tahun ini benar-benar menyentuh hati saya, ini membuktikan bahwa menjadi ibu dan tetap aktif bukanlah dua hal yang saling bertentangan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Nadya membagikan ceritanya saat mempersiapkan ajang lari khusus perempuan tersebut. Lewat gelaran ini, dia ingin membuktikan bahwa ruang olahraga untuk perempuan semakin inklusif, menyenangkan, dan ramah termasuk bagi para ibu.
Adapun She Runs The World termasuk kategori fun run 5k, yakni ajang lari santai sejauh 5 kilometer yang fokus pada kesenangan dan kebersamaan, bukan pada kecepatan atau kompetisi.
"Kami menghadirkan Nursery Room sebagai fasilitas mom-friendly yang memungkinkan para ibu bisa tetap berolahraga sambil memenuhi kebutuhan buah hatinya," ujar Nadya.
Selain itu, juga tersedia ruang UMKM gratis bagi para pengusaha perempuan untuk memperkenalkan brand mereka, sekaligus menegaskan komitmennya dalam mendukung pelaku bisnis lokal dan pemberdayaan perempuan.
Tingginya antusiasme peserta turut mendorong She Runs The World untuk menggelar rangkaian roadshow ke tiga kota besar lainnya dalam waktu dekat.
Inisiatif ini diharapkan dapat memperluas komunitas perempuan aktif dan menginspirasi lebih banyak perempuan di seluruh Indonesia untuk mulai bergerak dan berani mengambil ruangnya sendiri.
Selain menjadi ruang olahraga, ajang lari tersebut menghadirkan kepedulian sosial melalui kampanye “Thousand Hearts for Sumatra” sebagai bentuk solidaritas terhadap korban banjir di Sumatra. Dengan donasi mulai dari Rp30.000, peserta mendapatkan pita hitam yang dikenakan saat berlari sebagai simbol dukungan dan belasungkawa.
“Melalui kampanye ini, kami ingin menunjukkan bahwa setiap langkah kecil perempuan hari ini dapat membawa harapan bagi saudara-saudara kita yang terdampak bencana. Solidaritas seperti inilah yang membuat komunitas ini begitu berarti,” kata Nadya.
Dengan fokus pada pemberdayaan perempuan, inklusivitas, dan kekuatan komunitas, She Runs The World terus berkembang sebagai salah satu ajang lari perempuan paling berpengaruh di Indonesia.
Ruang Olahraga yang Inklusif untuk Perempuan
Seiring meningkatnya partisipasi perempuan dalam event lari, kebutuhan akan ruang berolahraga yang aman turut menjadi perhatian di tingkat global. Isu ini mengemuka seiring masih maraknya pengalaman tidak menyenangkan yang dialami perempuan saat beraktivitas fisik di ruang publik.Hal tersebut tercermin dalam survei yang dilakukan Runner’s World dan Women’s Health terhadap lebih dari 2.000 pelari. Hasilnya menunjukkan bahwa enam dari sepuluh perempuan mengaku pernah mengalami pelecehan saat berlari.
Sebanyak 25 persen responden menyatakan, mereka kerap menjadi sasaran komentar seksis atau rayuan seksual yang tidak diinginkan, sementara enam persen lainnya bahkan merasa ancaman tersebut begitu serius hingga khawatir bisa membahayakan keselamatan mereka.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menilai bahwa olahraga merupakan medium penting dalam upaya pemberdayaan perempuan. Oleh karenanya penting sekali penyediaan ruang publik yang aman, sehat, dan inspiratif.
"Di tengah dinamika tantangan kesetaraan gender, ruang-ruang afirmatif seperti ini menjadi kunci untuk memastikan perempuan memiliki kesempatan yang setara dalam mengakses kehidupan sehat, aktif, dan bermakna," ungkapnya, melalui keterangan resmi.
Menteri PPPA mengajak seluruh pihak komunitas, dunia usaha, media, dan masyarakat luas untuk terus bergotong royong menciptakan lingkungan yang mendukung perempuan dalam mengoptimalkan potensinya. Menurutnya ketika perempuan mampu bergerak dan berdaya, maka bangsa ini pun akan maju dan berdaya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.