Pencinta seni mengunjungi ruang pamer. (Hypeabis.id/Himawan L. Nugraha)

Melanggengkan Kejayaan di Jagat Seni Rupa

11 December 2025   |   22:06 WIB
Image
Diena Lestari General Manager Konten Bisnis Indonesia Weekly & Hypeabis.id

Pertengahan 2015, nama maestro seni rupa Hendra Gunawan, Affandi, dan Rudolf Bonnet kembali meneguhkan posisinya dengan masuk dalam daftar 500 Besar Seniman Terlaris Dunia yang memiliki karya dengan nilai jual fantastis. Waktu itu, karya Hendra yang terjual melalui balai lelang menyentuh angka US$10,9 juta, disusul karya Affandi senilai US$9,2 juta, dan Bonnet sebesar US$4,3 juta.

Cukup membanggakan melihat tiga seniman Indonesia masuk dalam peringkat 500 Besar Seniman Terlaris Dunia yang dirilis oleh Artprice, lembaga data dan riset pasar seni rupa dunia yang berkedudukan di Paris. Kendati ketiga old master itu telah lama kembali ke rumah keabadian, karya-karya mereka masih mendapatkan tempat dan menjadi buruan para kolektor.

Baca juga: Kuliah Aminudin T.H. Siregar di Gajah Gallery Ungkap Kerumitan Penulisan Sejarah Seni Rupa Indonesia

Di sisi lain, cukup memiriskan ketika hanya tiga perupa saja yang masuk dalam daftar tersebut. Jumlah itu jauh lebih sedikit dibandingkan dengan 2014. Setahun sebelumnya, tercatat enam seniman yakni Lee Man Fong, S. Sudjojono, Le Mayeur de Merpes, Sudjana Kerton, dan Nyoman Masriadi meramaikan peringkat tersebut.

Tentu saja, banyak dan sedikitnya seniman yang masuk dalam peringkat seniman yang memiliki karya yang dinilai tinggi ini sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar seni rupa.


PERSAINGAN KETAT

Di kawasan Asia Tenggara misalnya, ketika terjadi ledakan seni rupa Asia, terjadi pergeseran yang begitu kentara terhadap pesta pasar seni rupa dunia. Peringkat 500 Besar Seniman Terlaris Dunia 2014-2015 memberikan gambaran dengan terang benderang menyoal kondisi pasar seni pada waktu itu yang lebih condong memilih karya dari seniman yang telah sekian lama teruji oleh pasar. Dengan memiliki karya dari seniman old master maka para kolektor merasa lebih aman dari sisi investasi.

Fakta menjelaskan bahwa sederet seniman yang awalnya bertengger dalam daftar bisa terjun bebas di urutan bawah, dan selanjutnya terlempar lalu hilang, tidak lepas dari peran pelaku pasar yang mengonstruksi nama seniman untuk masuk ke dalam tataran global, sekaligus merontokkannya demi menjaga eksistensi jejaringnya. Kita bisa melihat misalnya, nama seniman kontemporer Nyoman Masriadi sempat terpental dari daftar 500 Besar Seniman Terlaris Dunia, dan tergantikan oleh Ronald Ventura, seniman asal Filipina.

Setiap tahunnya, nama Ventura terus berjaya dalam daftar. Berbeda dengan Nyoman Masriadi yang beberapa kali keluar masuk, terpental, dan bahkan sempat menghilang dari daftar 500 besar. Dalam daftar Peringkat 500 Besar Seniman Terlaris Dunia 2021, nama Masriadi kembali muncul bersama dua seniman lainnya yakni Christine Ay Tjoe, dan Handiwirman Saputra.

Ketatnya persaingan di belantara seni rupa membuat seorang perupa perlu mencari formula yang tepat bagaimana karya-karyanya dapat terus masuk dalam peringkat dunia, bahkan ketika perupa itu sudah meninggal dunia.

Pertanyaan terkait upaya melanggengkan kejayaan ini selalu menggelitik karena memicu polemik lama berupa kepentingan antara idealisme dan nilai ekonomi dalam karya yang diusung para seniman. Dari beberapa fakta yang disodorkan di atas terlihat bahwa perkembangan seni tak pernah lepas dari unsur ekonomi termasuk manuver dari pelaku pasar itu sendiri.

Selama ini, rantai pendukung perkembangan karya seni rupa atau pelaku pasar itu terdiri dari art dealer, galeri, kolektor, museum, kritikus, kurator, media, dan pendidikan seni. Semua itu berkelindan dengan dinamika pasar karya seni yang begitu kental dengan nilai bisnis.

Ya, jagat seni rupa masuk ke dalam pusaran bisnis sehingga dinamikanya tak ubahnya seperti keramaian di lantai bursa. Informasi menyoal fluktuasi pasar seni rupa, tren, harga, siapa saja yang berkontribusi dalam menjaga reputasi karya, informasi kolektor, dan alasan mengoleksi menjadi penting diketahui.

Semua informasi itu perlu dipakai oleh seniman untuk menentukan langkah strategis untuk menjaga kejayaan di tengah kompetisi yang cukup sengit. Bagi seniman, upaya untuk mengetahui konstelasi pasar seni rupa ini sungguh tidak mudah. Dapat dibayangkan perupa yang sebagian besar waktu digunakan untuk mematangkan konsep lalu mengejawantahkannya dalam karya, masih dituntut untuk mendulang informasi mengenai pasar yang begitu rumit.

Tidak mengherankan jika kemudian perupa memiliki tim pendukung yang membantu untuk menyelesaikan semua urusan di luar masalah kekaryaan. Dalam situasi seperti ini, atau dalam tatanan ideal, seorang perupa untuk bekerja secara maksimal membutuhkan beberapa elemen a.l. konsultan kuratorial, pengarsipan, konsultan hukum dan ekonomi, dan terakhir tenaga bantuan operasional yang membantu urusan manajerial.

Baca juga:  Lima Lukisan Berpengaruh di Sejarah Seni Rupa Dunia

SEBELUMNYA

Kim Hye Yoon dan Lomon Siap Pimpin Drama Fantasi Romantis No Tail To Tell

BERIKUTNYA

Gencar Ekspansi Toko Offline, ATRIA Hadirkan Showroom ke-30 di Mall Of Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga