Kuliah Aminudin T.H. Siregar di Gajah Gallery Ungkap Kerumitan Penulisan Sejarah Seni Rupa Indonesia
11 October 2025 |
21:30 WIB
1
Like
Like
Like
Sepulang dari Leiden, kurator dan peneliti seni rupa Indonesia, Aminudin T.H. Siregar, membagikan hasil temuannya dalam kuliah berjudul “Sejarah Seni Rupa Modern Indonesia dan Masalah dalam Penulisannya (Indonesia Modern Art & Problem of its Writings)”. Kegiatan tersebut berlangsung di Gajah Gallery, Jakarta Pusat pada Sabtu (11/10/2025).
Kuliah ini menjadi bagian dari upaya panjangnya untuk menata kembali linimasa sejarah seni rupa Indonesia. Sebuah bidang yang menurutnya masih menyimpan banyak kerumitan dan celah dalam penulisan maupun penafsirannya.
Pemaparan dibuka dengan diskusi ringan, bagaimana sejarah seni rupa modern Indonesia ditulis dan dipahami selama ini, serta masalah-masalah yang muncul dari cara penulisan tersebut.
Baca Juga: Pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro Diperpanjang hingga 15 Oktober 2025
"Selama bertahun-tahun, sejarah seni rupa Indonesia cenderung dilihat dari sudut pandang nasionalis, yaitu menekankan peran seniman Indonesia yang dianggap berjasa membentuk identitas bangsa tanpa banyak melihat pengaruh dari luar negeri," katanya.
Padahal, menurutnya, perkembangan seni rupa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari hubungan lintas budaya dan konteks global, misalnya dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga masa revolusi dan setelahnya.
Selain itu, di periode ini juga muncul istilah “Mooi Indie”, berasal dari bahasa Belanda yang artinya Hindia yang Indah atau Beautiful Indies. Istilah ini digunakan untuk menyebut gaya lukisan pemandangan alam Indonesia pada masa kolonial Belanda. Biasanya menggambarkan sawah hijau, gunung menjulang, pohon kelapa, sungai, atau nelayan di pantai dalam suasana damai dan romantis.
Lukisan-lukisan semacam ini banyak dibuat oleh pelukis Belanda maupun pribumi pada awal abad ke-20, seperti Abdullah Suriosubroto, Mas Pirngadie, dan pelukis-pelukis Eropa yang tinggal di Hindia Belanda. Karya Mooi Indie menggambarkan “surga tropis” berupa pemandangan indah yang damai, jauh dari realitas keras penjajahan.
Meski begitu, masa ini juga membuka kesempatan bagi seniman Indonesia untuk mulai menggambarkan identitas sendiri, karena Jepang menanamkan semangat “Asia untuk Asia”.
Kemudian, muncul kelompok seniman seperti Seniman Merdeka, Gelanggang, dan Seniman Indonesia Muda, yang terus memperdebatkan arah seni rupa Indonesia yang apakah harus nasionalis, modern, atau terbuka pada pengaruh luar?
Pengaruh budaya dan sejarah global seperti kolonialisme, modernisme Eropa, atau hubungan dengan Asia lain sering diabaikan. Selain itu, terkadang muncul stereotip budaya, misalnya anggapan bahwa seni Indonesia harus selalu berjiwa lokal atau mencerminkan keindonesiaan.
Sebagai solusi, Aminudin mengusulkan cara pandang transnasional. Artinya, penulisan sejarah seni rupa tidak hanya dilihat dari sudut pandang nasional, tapi juga dari jaringan hubungan lintas negara dan budaya. Ini bagaimana seniman Indonesia belajar, berinteraksi, dan berpengaruh dengan dunia luar.
Pendekatan ini membantu kita memahami bahwa seni rupa modern Indonesia adalah hasil dari pertemuan banyak budaya, bukan sesuatu yang lahir sendiri dalam batas nasional.
Meski demikian, bukan berarti Aminudin menolak pendekatan nasionalis. Pendekatan tersebut tentu sangat penting untuk membentuk identitas bangsa. Namun, dia menyarankan agar pendekatan nasionalis dan transnasional digabungkan.
Dengan begitu, sejarah seni rupa Indonesia akan lebih utuh, terbuka, dan inklusif, tidak hanya menceritakan “pahlawan seni nasional”, tapi juga melihat bagaimana seni Indonesia menjadi bagian dari dunia.
Baca Juga: Ruang Rupa Hadirkan Pameran Seni Rayakan 25 Tahun Berkarya di Synchronize Fest 2025
Kuliah ini menjadi bagian dari upaya panjangnya untuk menata kembali linimasa sejarah seni rupa Indonesia. Sebuah bidang yang menurutnya masih menyimpan banyak kerumitan dan celah dalam penulisan maupun penafsirannya.
Pemaparan dibuka dengan diskusi ringan, bagaimana sejarah seni rupa modern Indonesia ditulis dan dipahami selama ini, serta masalah-masalah yang muncul dari cara penulisan tersebut.
Baca Juga: Pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro Diperpanjang hingga 15 Oktober 2025
"Selama bertahun-tahun, sejarah seni rupa Indonesia cenderung dilihat dari sudut pandang nasionalis, yaitu menekankan peran seniman Indonesia yang dianggap berjasa membentuk identitas bangsa tanpa banyak melihat pengaruh dari luar negeri," katanya.
Padahal, menurutnya, perkembangan seni rupa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari hubungan lintas budaya dan konteks global, misalnya dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga masa revolusi dan setelahnya.

Kuliah Aminudin T.H. Siregar di di Gajah Gallery (Sumber Foto: Hypeabis.id/Kintan Nabila)
Periode Besar Sejarah Seni Rupa Indonesia
Aminudin membagi sejarah seni rupa modern Indonesia ke dalam tiga periode besar, dengan penjelasan sebagai berikut:1. Masa Kolonial Belanda
Pada masa ini muncul tokoh-tokoh seperti Raden Saleh, yang sering disebut pelukis modern pertama Indonesia. Tapi ada perdebatan, apakah Raden Saleh benar-benar pelopor seni modern Indonesia ataukah sekadar produk dari pendidikan kolonial Belanda?Selain itu, di periode ini juga muncul istilah “Mooi Indie”, berasal dari bahasa Belanda yang artinya Hindia yang Indah atau Beautiful Indies. Istilah ini digunakan untuk menyebut gaya lukisan pemandangan alam Indonesia pada masa kolonial Belanda. Biasanya menggambarkan sawah hijau, gunung menjulang, pohon kelapa, sungai, atau nelayan di pantai dalam suasana damai dan romantis.
Lukisan-lukisan semacam ini banyak dibuat oleh pelukis Belanda maupun pribumi pada awal abad ke-20, seperti Abdullah Suriosubroto, Mas Pirngadie, dan pelukis-pelukis Eropa yang tinggal di Hindia Belanda. Karya Mooi Indie menggambarkan “surga tropis” berupa pemandangan indah yang damai, jauh dari realitas keras penjajahan.
2. Masa Pendudukan Jepang (1942–1945)
Saat Jepang datang, seni rupa digunakan sebagai alat propaganda. Ada berbagai organisasi seperti Gerakan Tiga A, Sendenbu, dan Keimin Bunka Shidosho, yang mengatur kegiatan seniman agar mendukung kepentingan Jepang.Meski begitu, masa ini juga membuka kesempatan bagi seniman Indonesia untuk mulai menggambarkan identitas sendiri, karena Jepang menanamkan semangat “Asia untuk Asia”.
3. Masa Revolusi (setelah 1945)
Setelah kemerdekaan, seni rupa menjadi bagian dari perjuangan nasional. Muncul kelompok PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) dan tokoh penting seperti S. Sudjojono, yang menolak gaya Mooi Indie dan menekankan bahwa lukisan harus jujur menggambarkan kenyataan sosial Indonesia.Kemudian, muncul kelompok seniman seperti Seniman Merdeka, Gelanggang, dan Seniman Indonesia Muda, yang terus memperdebatkan arah seni rupa Indonesia yang apakah harus nasionalis, modern, atau terbuka pada pengaruh luar?
Narasi Nasionalis dalam Sejarah Seni Rupa
Aminudin menyoroti bahwa sejarah seni rupa Indonesia selama ini terlalu didominasi oleh narasi nasionalis. Akibatnya pandangan menjadi sempit, hanya fokus pada seniman nasional dan karya yang dianggap patriotik.Pengaruh budaya dan sejarah global seperti kolonialisme, modernisme Eropa, atau hubungan dengan Asia lain sering diabaikan. Selain itu, terkadang muncul stereotip budaya, misalnya anggapan bahwa seni Indonesia harus selalu berjiwa lokal atau mencerminkan keindonesiaan.
Sebagai solusi, Aminudin mengusulkan cara pandang transnasional. Artinya, penulisan sejarah seni rupa tidak hanya dilihat dari sudut pandang nasional, tapi juga dari jaringan hubungan lintas negara dan budaya. Ini bagaimana seniman Indonesia belajar, berinteraksi, dan berpengaruh dengan dunia luar.
Pendekatan ini membantu kita memahami bahwa seni rupa modern Indonesia adalah hasil dari pertemuan banyak budaya, bukan sesuatu yang lahir sendiri dalam batas nasional.
Meski demikian, bukan berarti Aminudin menolak pendekatan nasionalis. Pendekatan tersebut tentu sangat penting untuk membentuk identitas bangsa. Namun, dia menyarankan agar pendekatan nasionalis dan transnasional digabungkan.
Dengan begitu, sejarah seni rupa Indonesia akan lebih utuh, terbuka, dan inklusif, tidak hanya menceritakan “pahlawan seni nasional”, tapi juga melihat bagaimana seni Indonesia menjadi bagian dari dunia.
Baca Juga: Ruang Rupa Hadirkan Pameran Seni Rayakan 25 Tahun Berkarya di Synchronize Fest 2025
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.