Senarai karya seni dalam pameran seni rupa MTN Lab: Residensi Jakarta – Rules of the Game, di Galeri Nasional Indonesia. (sumber gambar: Hypebis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

MTN Lab & Gelombang Baru Seni Kontemporer Indonesia di Galeri Nasional

12 December 2025   |   16:02 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Lukisan akrilik di atas kanvas itu menyergap mata pengunjung begitu memasuki Gedung B Galeri Nasional, Jakarta. Berlatar dinding putih, karya berjudul Dunia Soenassa (2025) itu, bertenger mencolok, laiknya sebuah portal yang terbuka ke masa silam.

Berdimensi 3x2 meter, karya ini menampilkan figur-figur biru yang mengambang, menari, dan merenung di atas hamparan merah menyala. Sebuah gerak keseharian dari sosok-sosok anonim, yang entah sedang memainkan musik atau melakukan ritual.

Baca juga: Museum Kebangkitan Nasional Disulap Jadi Laboratorium Teater Lewat BUDAmFEST 2025

Dunia Soenassa merupakan salah satu karya paling memikat dalam pameran MTN Lab: Residensi Jakarta – Rules of the Game, di Galeri Nasional Indonesia. Karya ini dibuat oleh Riyan Kelana, berdasarkan riset singkat sang seniman terhadap Emiria Soenassa.

Emiria adalah salah satu pelukis perempuan awal Indonesia dan figur penting sejarah seni rupa Indonesia. Seniman asal Padang ini tertarik pada cara Soenassa dalam menolak eksotisasi tubuh pribumi, serta bagaimana dia menampilkan gestur keseharian tanpa dramatisasi.

“Saya mencoba mengklasifikasikan ulang gestur-gestur tubuh yang dilukis Soenassa, lalu mengolahnya menjadi gestur baru versi saya sendiri. Dalam karya ini saya membatasi tiga warna, yakni biru, putih, dan pink,” katanya.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Callmebuzz (@riyan_kelana16)


Berlangsung hingga 15 Desember 2025, pameran ini merupakan hasil akhir dari residensi intensif yang melibatkan 40 seniman dan kurator dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka sebelumnya mengikuti program di bawah platform KRITIK! Lab Kuratorial & Seni Kontemporer.

Difasilitasi Forum Lenteng, program ini memberikan pembelajaran mendalam melalui kuliah umum, kelas intensif, kunjungan studio, praktik kolaboratif, serta diskusi kritik yang memetakan ulang lanskap seni kontemporer Indonesia dalam konteks global dan Global South.

MTN Lab merupakan ruang penciptaan dan pengembangan karya yang dirancang melalui residensi, inkubasi, dan masterclass. Di sana para peserta dibekali dengan materi mendalam melalui kuliah umum, kelas intensif, kunjungan studio, praktik kolaboratif, hingga diskusi kritik.

Sejumlah pengajar dan fasilitator terlibat, antara lain Martin Suryajaya, Hafiz Rancajale, Otty Widasari, dan Sigit D. Pratama, yang membahas topik-topik seperti epistemologi seni kontemporer, media art, artistic research, jejaring Global South, manajemen pameran, dan pendekatan ruang.

Arkian, setelah dua minggu menjalani residensi, para seniman memamerkan karya mereka di Gedung B dan D, Galeri Nasional Indonesia. Karya yang dipamerkan juga beragam, mulai dari lukisan, instalasi, kolase, video art, hingga karya inovatif yang menggabungkan tradisi dan kontemporer.

Salah satu yang menarik adalah lukisan bertajuk Menimbun Mayat (2025). Karya Amanda Firman Syarif, ini mengungkai kecintaan sang seniman pada botani dengan metode visual kolonial, khususnya gaya litografi Belanda dalam menggambar spesimen tumbuhan yang galib dilakukan pada masa Hindia Belanda.

Menariknya, dalam lukisan bermedium indigo dan tanah di atas kanvas ini, sang seniman justru merusak, mematahkan, dan menekuk spesimen yang ia lukis, sebagai kritik terhadap cara pengetahuan Barat mengobjektifikasi flora. Momentum ini juga dikaitkan dengan pembalakan hutan pada masa Orba.

Raymizard Alifian Firmansyah, salah satu kurator, mengatakan karya ini merupakan kritik tentang siklus kuasa. Momen tersebut dimulai pada masa kolonialisme, di mana para peneliti mengobjektifikasi flora sebagai pengetahuan, lalu dilanjutkan Orde Baru yang mengobjektifikasi alam melalui eksploitasi ekonomi.

“Jadi karya ini bukan hanya sejarah botani kolonial, tapi kontinuitas kekerasan terhadap alam di Indonesia. Terlebih Amanda juga menyisipkan lanskap Kalimantan Timur yang gundul, imbas proyek besar Orde Baru tahun 1970-an,” katanya.
 

Karya

Karya bertajuk Menimbun Mayat (2025) dari Amanda Firman Syarif, dalam pameran seni rupa MTN Lab: Residensi Jakarta – Rules of the Game, di Galeri Nasional Indonesia. (sumber gambar: Hypebis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Ada pula karya bertajuk Orang-orang Tuak (2025) karya Wilda Yanti Salam. Menggunakan lima lembar medium foto berdimensi 29,7 x 42 sentimeter (cm), Wilda,yang sebelumnya meneliti tradisi menyadap dan meminum tuak di Sulawesi dan wilayah Timur, membuat semacam pseudo-history, di mana sejarah besar dilihat dari perspektif orang kecil.

Salah satu cerita yang dikembangkan berkaitan dengan Speelman, pemimpin VOC, yang “terkencing-kencing karena mabuk tuak” sehingga perjanjian Bungaya batal. Ada pula cerita tentang para penyadap nira yang tidak jadi ditangkap untuk dijadikan budak karena mereka membutuhkan hasil sadapan tersebut untuk dibuat tuak demi menghangatkan tubuh.

Artistic Director sekaligus fasilitator Hafiz Rancajale mengatakan, lewat residensi dan pameran ini para talenta seniman muda memang dibekali bagaimana cara membaca pengetahuan, estetika, dan sejarah visual Indonesia sebagai bagian dari dunia selatan.

Tajuk Rules of the Game juga dipilih sebagai bentuk kebutuhan menciptakan aturan dalam dunia seni Indonesia, bukan hanya mengikuti model Barat. Bagi Hafiz, residensi juga tidak boleh berhenti di ruang kelas, melainkan pada presentasi karya yang bertanggung jawab di hadapan publik.

“Global South bukan perlawanan terhadap Barat, tetapi pemulihan sejarah kita sendiri, dari candi, ikonografi Nusantara, hingga jejak Konferensi Asia-Afrika yang terhapus Orde Baru,” katanya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Sinopsis Film The Housemaid, Kisah Teror Domestik Adaptasi Novel Freida McFadden

BERIKUTNYA

Kolaborasi Australia–Indonesia Mewujudkan Ruang Digital Aman & Inklusif bagi Kelompok Rentan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga