Dari kiri: Direktur BUDAmFEST 2025, Wulan Pusposari; Direktur Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan RI, Irini Dewi Wanti; dan Direktur LTC Ari Sumitro, saat pembukaan BUDAmFEST 2025 di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Senin (8/12/25). (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Museum Kebangkitan Nasional Disulap Jadi Laboratorium Teater Lewat BUDAmFEST 2025

09 December 2025   |   15:29 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, kembali hidup sebagai ruang kreatif lewat Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST) 2025. Berlangsung 8–11 Desember 2025, museum ini bakal menjadi arena eksplorasi gagasan seni pertunjukan Indonesia dan dunia.

Mengusung etos laboratorium ide, BUDAmFEST 2025 hadir sebagai festival yang memusatkan perhatian pada pendalaman metode penciptaan teater. Format ini menjadi pembeda dari festival teater umumnya yang fokus pada presentasi karya jadi alih-alih proses penciptaan.

Baca juga: Alih Wahana Karya Sastra Ramaikan Festival Shikisai 2025 di Blok M Space Jakarta

Festival ini merupakan bagian dari MTN Lab Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya. Program tersebut digagas untuk memberikan pendampingan artistik bagi para pelaku seni serta mendorong mereka berkolaborasi dan mementaskan karya dalam skala nasional dan internasional.

Irini Dewi Wanti, Direktur Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, menegaskan peran Kementerian Kebudayaan RI dalam ekosistem ini. Dia menyebut kementerian memposisikan diri sebagai fasilitator aktif dalam memajukan potensi talenta seni di Indonesia.

Menurut Irini, pendekatan tersebut diharapkan membuka akses yang lebih setara bagi para seniman dari berbagai wilayah. Dia menilai pentingnya menghadirkan peluang lintas platform agar pelaku seni daerah dapat berkembang secara optimal, termasuk berkolaborasi dan berjejaring.

“Dengan cara ini, kami berharap para seniman daerah dapat berkembang lebih optimal, memiliki akses yang lebih besar ke berbagai platform, serta berperan dalam memperkaya dinamika seni pertunjukan nasional,” katanya saat pembukaan BUDAmFEST di Museum Kebangkitan Nasional, Senin (8/12/25).
 
 

 
Selaras, Direktur BUDAmFEST 2025, Wulan Pusposari, melihat festival ini sebagai ruang belajar yang terus bergerak. Baginya, BUDAmFEST bukan sekadar ajang tampil, melainkan proses merawat penciptaan lintas generasi dalam membangun ekosistem kreatif.

Wulan menjelaskan, festival ini lahir dari praktik kreatif DAPUR LTC yang telah berkembang sejak 2005.
Melalui program seperti Bongkar Muat, Napak Tilas, Silang Teks, Jalin Karya, hingga Napak Tilas Kolektif, LTC merumuskan instrumen penciptaan yang digunakan para senimannya.

“BUDAmFEST adalah ruang belajar bersama yang menolak selesai. Di sini, para seniman menguji ide, memperluas jejaring, dan menciptakan pendekatan baru dalam penciptaan karya,” katanya.


Dibuka dengan Naskah Klasik

Tahun ini, program karya BUDAmFEST 2025 akan menampilkan ragam pendekatan yang lahir dari tiga kelas penciptaan, yakni Kelas Silang Teks, Bongkar Muat, dan Napak Tilas. Dalam Kelas Silang Teks, karya kolaborasi Indonesia–Korea berjudul Dream akan menjadi pembuka pertunjukan.

Dream merupakan pertunjukan yang diadaptasi dari A Midsummer Night’s Dream karya William Shakespeare oleh Lee Seon-yeon, Rosida Erowati, dan Hyoung Taek-limb. Pertunjukan tersebut menampilkan aktor lintas disiplin yang membawa latar estetik beragam, terutama dari tradisi Indonesia dan Korea.

Keragaman eksplorasi tubuh juga kuat dalam program Bongkar Muat. Melalui Liar Lear, adaptasi Iskandar GB dan Ari Pahala Hutabarat terhadap King Lear, penonton diajak menyimak fragmen visual yang menggugah. Sementara Malam Tanpa Akhir menafsir ulang Sotoba Komachi dengan bahasa panggung puitik.

Program Un-Loading juga menghadirkan Distrik Terakhir karya Riky Arief Rahman. Karya ini mengolah ulang Endgame karya Samuel Beckett dalam eksperimen ruang dan stilisasi akting. Pendekatan tersebut menghadirkan nuansa baru dalam membaca ulang kanon teater dunia.

Kelas Napak Tilas juga mempersembahkan Malin Kundang Lirih dan Egol Ngger. Kedua karya ini menyoroti pertemuan antara tradisi dan estetika kontemporer melalui tubuh, ritus, dan ingatan kolektif. Pendekatan tersebut memperlihatkan cara baru dalam membaca ulang narasi budaya.

Kolaborasi meluas dengan hadirnya seniman dari luar LTC. Mimi Nuryanti dari Lanjong Art Festival bekerja bersama Ngaos Art untuk menghadirkan Made in China. Selain itu, Jamaludin Latif juga menampilkan karya Buku Kredit yang ditulis Panca Lintang Dyah Paramitha.

Untuk menandai dua dekade perjalanan LTC, festival ini juga meluncurkan buku Yang Berlalu. Buku tersebut berisi kumpulan naskah dan catatan proses LTC dari 2005 hingga 2019. Dokumentasi ini memperlihatkan bagaimana instrumen penciptaan LTC terbentuk dan diwariskan.

Seluruh rangkaian BUDAmFEST dapat disaksikan secara gratis. Genhype hanya perlu membeli tiket masuk Museum Kebangkitan Nasional (Rp 5.000/orang). Informasi lengkap mengenai jadwal dan detail acara dapat dilihat di laman Instagram @labteaterciputat.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Kebiasaan Makan yang Ungkap Karakter Seseorang

BERIKUTNYA

Drama Cinta & Sihir ‘Dream’ Hangatkan BUDAmFEST 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga