Ilustrasi umpan pancing. (Sumber foto: Pexels/Karola G)

‘Rage Bait’ Dinobatkan sebagai Word of the Year 2025 oleh Oxford University Press

02 December 2025   |   17:11 WIB
Image
Nirmala Aninda Manajer Konten Hypeabis.id

Oxford University Press resmi menetapkan rage bait sebagai Oxford Word of the Year 2025. Istilah ini mengalahkan dua kandidat lain—aura farming dan biohack—setelah melalui pemungutan suara selama tiga hari yang melibatkan lebih dari 30.000 partisipan di seluruh dunia.

Para ahli bahasa Oxford kemudian menimbang hasil voting, sentimen publik, serta analisis data leksikal sebelum menjatuhkan pilihan akhir pada satu istilah yang dianggap paling mencerminkan percakapan global sepanjang tahun ini.

Baca juga: Kenali Gejala, Penyebab & Cara Mencegah Brain Rot Akibat Banyak Konsumsi Konten Receh

Secara definisi, rage bait adalah konten daring yang sengaja dibuat untuk memancing kemarahan, baik karena provokatif, menyinggung, menjengkelkan, atau sengaja memecah belah. Tujuannya sederhana: mendorong trafik dan interaksi. Di era ketika engagement lebih sering dihitung daripada nilai diskusi, kemarahan menjadi komoditas yang sangat efektif.

Tahun 2025 dibentuk oleh isu-isu panas, mulai dari gejolak sosial, perdebatan regulasi konten digital, sampai meningkatnya kecemasan publik soal kesehatan mental di internet. Para ahli Oxford menemukan bahwa penggunaan istilah rage bait meroket hingga tiga kali lipat dalam 12 bulan terakhir, menandakan adanya perubahan besar dalam cara kita membicarakan perhatian, etika, dan perilaku daring.

President of Oxford Languages Casper Grathwohl mengatakan, internet yang dulu berfokus memancing rasa ingin tahu demi klik kini telah bergeser menjadi ruang yang membajak emosi dan mempengaruhi cara kita merespons. Menurutnya, fenomena ini terasa seperti perkembangan alami dari perbincangan panjang mengenai apa artinya menjadi manusia di dunia yang digerakkan oleh teknologi dan bagaimana ekstrem budaya daring ikut membentuknya.

“Fakta bahwa istilah rage bait ada dan penggunaannya melonjak begitu drastis menunjukkan bahwa kita makin sadar akan berbagai taktik manipulatif yang bisa menyeret kita di dunia online,” ujar Grathwohl.

Dia menambahkan bahwa jika tahun lalu kata pilihan Oxford, brain rot, menggambarkan kelelahan mental akibat scrolling tanpa henti, maka rage bait menyoroti konten yang sengaja direkayasa untuk memicu kemarahan dan mendulang klik. Ia menilai keduanya menciptakan siklus kuat: kemarahan memicu engagement, algoritma memperkuatnya, dan paparan terus-menerus membuat pengguna kelelahan secara mental.

Bagi Grathwohl, istilah-istilah ini tidak sekadar mendefinisikan tren, tetapi mengungkap bagaimana platform digital perlahan membentuk cara berpikir dan berperilaku kita.


Asal-usul 'Rage Bait'

 

Menariknya, istilah rage bait pertama muncul pada tahun 2002 di platform Usenet. Saat itu, istilah ini digunakan untuk menggambarkan rekasi pengguna yang sengaja dibuat kesal oleh pengguna lain, sebuah konteks yang berbeda namun membawa gagasan dasar: provokasi yang disengaja.

Seiring berkembangnya dunia digital, istilah ini berubah fungsi menjadi bahasa internet slang untuk menyebut unggahan viral—terutama tweet—yang memancing kemarahan massal. Tidak butuh waktu lama hingga istilah ini menjadi kosakata umum di ruang redaksi, komunitas kreator konten, hingga diskusi publik lintas platform.

Rage bait kemudian menjadi strategi eksplisit dalam politik performatif, tren kreator yang mencari sensasi, hingga jurnalisme yang memanfaatkan kontroversi. Ketika algoritma media sosial semakin memberi imbalan pada konten yang provokatif, muncul pula praktik rage farming: upaya sistematis menanam konten penuh kemarahan, sering kali dibubuhi misinformasi atau teori konspirasi, untuk membangun engagement dan kemarahan jangka panjang.

Naiknya rage bait sebagai istilah utama tahun ini menunjukkan betapa fleksibelnya bahasa Inggris: dua kata lama dapat bergabung untuk membentuk konsep baru yang sepenuhnya relevan dengan era digital. Ia menggambarkan dunia tempat perhatian berubah menjadi mata uang, provokasi menjadi strategi, dan internet menjadi ruang di mana kemarahan tidak hanya diekspresikan tetapi diolah, dibentuk, bahkan dikomersialkan.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Buku SCAM Bongkar Praktik Penipuan Digital Hingga Kejahatan Kemanusiaan di Asia Tenggara

BERIKUTNYA

NOD. Kenalkan Ragam Minuman Herbal Indonesia ke Publik Eropa di Swiss Coffee Festival 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga