Menjelang Akhir Tahun, Sektor MICE Jadi Motor Pemulihan Bisnis Perhotelan
24 November 2025 |
10:00 WIB
Industri Meeting, Incentive, Convention & Exhibition (MICE) menunjukkan pemulihan menjelang akhir tahun. Kegiatan korporasi, pemerintahan, hingga komunitas kembali memenuhi ruang-ruang pertemuan, mendorong hunian dan perputaran bisnis perhotelan naik signifikan setelah sempat melemah akibat kebijakan efisiensi anggaran.
Momentum optimistis ini turut dirasakan Mercure Bandung City Center. General Manager Mercure Bandung City Center, Velda Fidelia Nathaniel Kalalo, menyebut kinerja hotelya pada beberapa bulan terakhir bergerak agresif dengan rata-rata okupansi mencapai 90% per bulan. Okupansi ini salah satunya didorong oleh MICE.
Baca juga: Industri MICE Menguat Sepanjang 2025, Permintaan Korporasi Dorong Pemulihan
“Kalau secara komposisi, 70% (revenue) kita memang coming by MICE, 30% coming by FIT (free independent traveler),” ujarnya saat berbincang dengan Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.
Dia menyebut, permintaan semakin tinggi menjelang akhir tahun, didukung dengan kegiatan rapat dari pemerintahan dan korporasi. Tentu kegiatan ini juga berdampak terhadap tingkat keterisian kamar hotel.
Velda berharap tren positif ini mengalir hingga tahun depan, walaupun dia mengakui dinamika anggaran pemerintah bisa berubah sewaktu-waktu. “Semoga berdampak juga ke tahun depan. Tapi ya, kita maksimalkan yang bisa dilakukan sekarang,” katanya.
Kendati performa kuat dalam beberapa bulan terakhir, tahun 2025 tidak sepenuhnya mulus. Efisiensi anggaran pada awal tahun membuat sejumlah agenda tertunda. Velda mengakui bahwa praktik efisiensi pasti berdampak ke industri hotel.
“Kalau dibilang tidak terdampak, tidak juga. Januari dan Februari kami masih survive karena tabungan last year. Masuk Ramadan kami slow down. April juga tidak terlalu bagus,” jelasnya.
Perubahan mulai terasa setelah pergantian Menteri Keuangan yang kini dijabat Purbaya Yudhi Sadewa. Anggaran pemerintah kembali mengalir ke berbagai instansi dan agenda resmi. “Jalan dibuka, kucuran dibuka. Kenceng. Klien-klien yang sudah nabung relasi dengan kita langsung kembali,” ungkapnya.
Relasi yang dibangun tim sales secara intens, dengan pendekatan personal, fleksibel, dan terus menjaga kontak, menjadi faktor penting yang mempercepat rebound-nya bisnis hotel. Selain itu, lokasi hotel yang strategis di pusat kota dan dikelilingi kuliner halal, turut membuat Mercure Bandung City Center menjadi pilihan yang tepat untuk membuat kegiatan MICE.
Mercure Bandung City Center tidak dipungkiri kini menjadi salah satu hotel bisnis di kawasan Lengkong yang paling aktif menampung agenda MICE. Hotel ini memiliki satu ballroom utama, dua mini ballroom (Indraprasta dan Anjani), serta total 14 meeting room termasuk multi-function room dengan partisi fleksibel. Kapasitas terbesar ruang event dapat menampung hingga 750 peserta dalam format teater.
Lonjakan permintaan bahkan membuat tim kerap terjun langsung mendukung berbagai acara di luar area hotel. “Mau outside catering apa pun kita ambil. Dari TNI misalnya, mereka jemput pakai mobil dinas. Rasanya kayak mau outing, padahal cuma ke ruang kelas,” tutur Venda sembari tertawa.
Venda juga bersyukur memiliki tim yang selalu sigap. Suasana hotel yang selalu hidup justru menjadi energi bagi para pegawai yang kerap disebutnya sebagai “Serdadu Ranger”, sebuah gaya koordinasi yang membuat seluruh staf siap bergerak cepat ketika permintaan memuncak.
Sementara itu, di tengah persaingan fasilitas hotel yang semakin homogen, Velda menegaskan bahwa faktor pembeda kinerja Mercure bukan pada gedung atau interior, melainkan layanan personal (service excellent). Dia menyebut banyak klien menjadi pelanggan berulang karena merasakan kehangatan sejak melewati gerbang hotel.
“Selain greeting, di kamar kita juga bikin personalized things. Tidak monoton. Ada surprise yang tamu tidak sangka. Itu jadi mystery box kita,” katanya.
Di sisi lain, Mercure Garut City Center, hotel berjejaring internasional pertama yang hadir di pusat kota Garut kini mulai mencuri perhatian pasar MICE. General Manager Mercure Garut City Center Winaryo Wasdi mengatakan sektor MICE masih menunjukkan prospek yang kuat meskipun dinamika anggaran pemerintah dan kebijakan belanja tahun ini menuntut pelaku industri untuk lebih adaptif.
Menurutnya permintaan ruang meeting, konferensi, hingga kegiatan institusi tetap stabil dan menghadirkan peluang signifikan, terutama menjelang akhir tahun. “MICE itu cukup potensial,” sebut Winaryo saat berbincang dengan Hypeabis.id.
Oleh karena itu, sebagai brand internasional pertama yang hadir di pusat kota Garut, Mercure Garut menghadirkan dua ballroom berkapasitas 400 dan 300 orang, plus empat meeting room berkapasitas sekitar 50 orang.
Mercure Garut yang bernaung di jaringan perhotelan Accor ini juga membawa diferensiasi kualitas layanan. Winaryo menegaskan bahwa kehadiran hotel ini bukan sekadar menambah suplai ruang pertemuan, tetapi juga memberikan alternatif layanan yang lebih terstandarisasi.
“Kami ingin memberikan opsi yang lebih baik dari kompetitor, sesuai dengan standar internasional kami, baik dari kualitas layanan, fasilitas, hingga detail desain,” jelasnya.
Respons tamu pun cukup positif. Banyak penyelenggara acara yang terkesan dengan desain interior ballroom, kelengkapan fasilitas meeting, serta akses yang sangat strategis.
Hotel ini juga terhubung langsung dengan pusat perbelanjaan dan waterpark, memungkinkan tamu menggabungkan agenda bisnis dengan leisure atau family time. “Lokasi menjadi salah satu keunggulan kami. Target kami sederhana, menjadi venue MICE pilihan utama di Garut, tempat dimana tamu bisa bekerja sekaligus menikmati pengalaman berlibur,” tutur Winaryo.
Winaryo menyebutkan bahwa pasar MICE Mercure Garut masih didominasi oleh kegiatan pemerintah daerah. Namun, minat dari sektor korporasi terus meningkat dan menjadi fokus yang ingin diperkuat. “Ke depan, kami ingin komposisinya lebih balance antara government dan corporate,” tambahnya.
Diketahui, International Congress and Conventions Association (ICCA) menempatkan Indonesia di peringkat ke-37 dunia, peringkat ke-10 di Asia Pasifik, dan peringkat ke-4 di ASEAN untuk MICE. Posisi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar, tapi masih perlu terus meningkatkan daya saing.
Industri event pun menjadi salah satu mesin utama penggerak utama perekonomian nasional. Penyelenggaraan event dapat mendorong penciptaan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan UMKM, menggerakkan ekonomi daerah, serta memperkuat citra dan daya saing Wonderful Indonesia di kancah dunia.
Sepanjang 2025, event yang mendapat dukungan Kementerian Pariwisata berhasil memberikan dampak dengan menghadirkan 10,8 juta pengunjung, melibatkan 95.000 pekerja event, melibatkan 14.800 UMKM, dan menghasilkan perputaran ekonomi sebesar Rp11,82 triliun.
“Bayangkan, jika seluruh event di Tanah Air kita hitung, betapa luar biasanya potensi dan skala industri event Indonesia. Inilah peluang besar yang harus kita kelola dan manfaatkan seoptimal mungkin," sebut Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Geliat Industri MICE Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan UMKM Nasional
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Momentum optimistis ini turut dirasakan Mercure Bandung City Center. General Manager Mercure Bandung City Center, Velda Fidelia Nathaniel Kalalo, menyebut kinerja hotelya pada beberapa bulan terakhir bergerak agresif dengan rata-rata okupansi mencapai 90% per bulan. Okupansi ini salah satunya didorong oleh MICE.
Baca juga: Industri MICE Menguat Sepanjang 2025, Permintaan Korporasi Dorong Pemulihan
“Kalau secara komposisi, 70% (revenue) kita memang coming by MICE, 30% coming by FIT (free independent traveler),” ujarnya saat berbincang dengan Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.
Dia menyebut, permintaan semakin tinggi menjelang akhir tahun, didukung dengan kegiatan rapat dari pemerintahan dan korporasi. Tentu kegiatan ini juga berdampak terhadap tingkat keterisian kamar hotel.
Velda berharap tren positif ini mengalir hingga tahun depan, walaupun dia mengakui dinamika anggaran pemerintah bisa berubah sewaktu-waktu. “Semoga berdampak juga ke tahun depan. Tapi ya, kita maksimalkan yang bisa dilakukan sekarang,” katanya.
Kendati performa kuat dalam beberapa bulan terakhir, tahun 2025 tidak sepenuhnya mulus. Efisiensi anggaran pada awal tahun membuat sejumlah agenda tertunda. Velda mengakui bahwa praktik efisiensi pasti berdampak ke industri hotel.
“Kalau dibilang tidak terdampak, tidak juga. Januari dan Februari kami masih survive karena tabungan last year. Masuk Ramadan kami slow down. April juga tidak terlalu bagus,” jelasnya.
Perubahan mulai terasa setelah pergantian Menteri Keuangan yang kini dijabat Purbaya Yudhi Sadewa. Anggaran pemerintah kembali mengalir ke berbagai instansi dan agenda resmi. “Jalan dibuka, kucuran dibuka. Kenceng. Klien-klien yang sudah nabung relasi dengan kita langsung kembali,” ungkapnya.
Relasi yang dibangun tim sales secara intens, dengan pendekatan personal, fleksibel, dan terus menjaga kontak, menjadi faktor penting yang mempercepat rebound-nya bisnis hotel. Selain itu, lokasi hotel yang strategis di pusat kota dan dikelilingi kuliner halal, turut membuat Mercure Bandung City Center menjadi pilihan yang tepat untuk membuat kegiatan MICE.
Mercure Bandung City Center tidak dipungkiri kini menjadi salah satu hotel bisnis di kawasan Lengkong yang paling aktif menampung agenda MICE. Hotel ini memiliki satu ballroom utama, dua mini ballroom (Indraprasta dan Anjani), serta total 14 meeting room termasuk multi-function room dengan partisi fleksibel. Kapasitas terbesar ruang event dapat menampung hingga 750 peserta dalam format teater.
Lonjakan permintaan bahkan membuat tim kerap terjun langsung mendukung berbagai acara di luar area hotel. “Mau outside catering apa pun kita ambil. Dari TNI misalnya, mereka jemput pakai mobil dinas. Rasanya kayak mau outing, padahal cuma ke ruang kelas,” tutur Venda sembari tertawa.
Venda juga bersyukur memiliki tim yang selalu sigap. Suasana hotel yang selalu hidup justru menjadi energi bagi para pegawai yang kerap disebutnya sebagai “Serdadu Ranger”, sebuah gaya koordinasi yang membuat seluruh staf siap bergerak cepat ketika permintaan memuncak.
Sementara itu, di tengah persaingan fasilitas hotel yang semakin homogen, Velda menegaskan bahwa faktor pembeda kinerja Mercure bukan pada gedung atau interior, melainkan layanan personal (service excellent). Dia menyebut banyak klien menjadi pelanggan berulang karena merasakan kehangatan sejak melewati gerbang hotel.
“Selain greeting, di kamar kita juga bikin personalized things. Tidak monoton. Ada surprise yang tamu tidak sangka. Itu jadi mystery box kita,” katanya.
Di sisi lain, Mercure Garut City Center, hotel berjejaring internasional pertama yang hadir di pusat kota Garut kini mulai mencuri perhatian pasar MICE. General Manager Mercure Garut City Center Winaryo Wasdi mengatakan sektor MICE masih menunjukkan prospek yang kuat meskipun dinamika anggaran pemerintah dan kebijakan belanja tahun ini menuntut pelaku industri untuk lebih adaptif.
Menurutnya permintaan ruang meeting, konferensi, hingga kegiatan institusi tetap stabil dan menghadirkan peluang signifikan, terutama menjelang akhir tahun. “MICE itu cukup potensial,” sebut Winaryo saat berbincang dengan Hypeabis.id.
Oleh karena itu, sebagai brand internasional pertama yang hadir di pusat kota Garut, Mercure Garut menghadirkan dua ballroom berkapasitas 400 dan 300 orang, plus empat meeting room berkapasitas sekitar 50 orang.
Mercure Garut yang bernaung di jaringan perhotelan Accor ini juga membawa diferensiasi kualitas layanan. Winaryo menegaskan bahwa kehadiran hotel ini bukan sekadar menambah suplai ruang pertemuan, tetapi juga memberikan alternatif layanan yang lebih terstandarisasi.
“Kami ingin memberikan opsi yang lebih baik dari kompetitor, sesuai dengan standar internasional kami, baik dari kualitas layanan, fasilitas, hingga detail desain,” jelasnya.
Respons tamu pun cukup positif. Banyak penyelenggara acara yang terkesan dengan desain interior ballroom, kelengkapan fasilitas meeting, serta akses yang sangat strategis.
Hotel ini juga terhubung langsung dengan pusat perbelanjaan dan waterpark, memungkinkan tamu menggabungkan agenda bisnis dengan leisure atau family time. “Lokasi menjadi salah satu keunggulan kami. Target kami sederhana, menjadi venue MICE pilihan utama di Garut, tempat dimana tamu bisa bekerja sekaligus menikmati pengalaman berlibur,” tutur Winaryo.
Winaryo menyebutkan bahwa pasar MICE Mercure Garut masih didominasi oleh kegiatan pemerintah daerah. Namun, minat dari sektor korporasi terus meningkat dan menjadi fokus yang ingin diperkuat. “Ke depan, kami ingin komposisinya lebih balance antara government dan corporate,” tambahnya.
Diketahui, International Congress and Conventions Association (ICCA) menempatkan Indonesia di peringkat ke-37 dunia, peringkat ke-10 di Asia Pasifik, dan peringkat ke-4 di ASEAN untuk MICE. Posisi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar, tapi masih perlu terus meningkatkan daya saing.
Industri event pun menjadi salah satu mesin utama penggerak utama perekonomian nasional. Penyelenggaraan event dapat mendorong penciptaan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan UMKM, menggerakkan ekonomi daerah, serta memperkuat citra dan daya saing Wonderful Indonesia di kancah dunia.
Sepanjang 2025, event yang mendapat dukungan Kementerian Pariwisata berhasil memberikan dampak dengan menghadirkan 10,8 juta pengunjung, melibatkan 95.000 pekerja event, melibatkan 14.800 UMKM, dan menghasilkan perputaran ekonomi sebesar Rp11,82 triliun.
“Bayangkan, jika seluruh event di Tanah Air kita hitung, betapa luar biasanya potensi dan skala industri event Indonesia. Inilah peluang besar yang harus kita kelola dan manfaatkan seoptimal mungkin," sebut Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Geliat Industri MICE Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan UMKM Nasional
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.