BGN Resmi Memulai Kampanye “Makan Bergizi Hak Anak Indonesia”
18 November 2025 |
14:59 WIB
Badan Gizi Nasional (BGN) selaku penyelenggara Program Makan Bergizi untuk Anak Sekolah (MBG) resmi meluncurkan kampanye nasional bertajuk Makan Bergizi Hak Anak Indonesia pada Senin, 17 November 2025, di Jakarta. Kampanye ini dirancang untuk memperkuat edukasi publik mengenai pentingnya pemenuhan gizi bagi anak sekolah.
Selain itu, kampanye ini jugasekaligus menegaskan bahwa akses terhadap makanan bergizi adalah hak dasar setiap anak, bukan bentuk bantuan. Kepala BGN, Dr. Ir. Dadan Hindayana, menuturkan bahwa kampanye tersebut merupakan ajakan untuk bergerak bersama. “Kampanye ini adalah gerakan kolektif yang melibatkan pemerintah, orang tua, guru, dan komunitas agar tidak ada anak Indonesia yang tertinggal dalam pemenuhan hak gizinya,” katanya dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (18/11/2025).
Baca juga: BGN Perketat Standar, Setiap Dapur MBG Kini Harus Dipimpin Dua Chef Bersertifikat
Dadan menekankan bahwa pemenuhan gizi adalah investasi paling esensial bagi masa depan bangsa. “Asupan yang benar bukan hanya membuat anak sehat secara fisik, tetapi juga memperkuat kapasitas intelektual dan ketahanan mental mereka. Itu fondasi penting untuk membentuk generasi yang tangguh,” ujarnya.
Narasi kampanye diperkuat dua pesan utama: Anak kenyang, anak siap belajar dan Gizi bukan bantuan, ini hak. Kedua pesan ini menegaskan keterkaitan antara gizi yang cukup dengan kemampuan belajar anak, sekaligus menekankan landasan etis bahwa makanan bergizi adalah hak seluruh anak Indonesia.
“Kecukupan gizi membantu anak berkonsentrasi, memahami pelajaran, dan menyerap informasi dengan lebih efektif. Sementara penegasan bahwa gizi adalah hak menuntut tanggung jawab bersama untuk memenuhinya tanpa terkecuali,” tambah Dadan.
Kampanye ini juga menyoroti dampak ekonomi Program MBG yang mampu menggerakkan petani dan UMKM lokal melalui rantai pasok baru yang menyerap produk pangan lokal secara berkelanjutan. “MBG menjadi katalis ekonomi dengan manfaat ganda, yaitu memastikan anak memperoleh asupan sehat sekaligus memberdayakan petani dan UMKM untuk memperkuat ekonomi desa,” ujarnya.
Lebih jauh, dia menegaskan bahwa Program MBG adalah bagian dari strategi pemerintah membangun SDM unggul melalui revolusi gizi sekolah yang inklusif dan berkelanjutan. Program ini bahkan mendapat apresiasi dari UNICEF dan WFP sebagai salah satu inisiatif pemberian makan terbesar di dunia.
Sejak mulai berjalan pada Januari 2025, MBG telah menyasar jutaan anak sekolah di seluruh Indonesia guna mendukung tumbuh kembang mereka serta mempersiapkan generasi yang siap menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Dalam acara peluncuran, dua siswa penerima manfaat MBG — Kasim dari Raja Ampat dan Almira dari Garut — turut menyampaikan pengalaman mereka mengenai perubahan positif yang dirasakan setelah mendapatkan makanan bergizi rutin di sekolah.
Kampanye Makan Bergizi Hak Anak Indonesia akan digulirkan melalui konten kreatif, kisah lapangan, serta analisis publik mengenai implementasi Program MBG. Upaya ini diharapkan meningkatkan literasi gizi, memperkuat persepsi positif masyarakat, dan menjaga narasi publik tetap objektif, non-politis, serta konstruktif.
Baca juga: Kemenkes Bakal Sokong Ahli Gizi Untuk MBG Melalui Puskesmas untuk Sementara Waktu
Selain itu, kampanye ini jugasekaligus menegaskan bahwa akses terhadap makanan bergizi adalah hak dasar setiap anak, bukan bentuk bantuan. Kepala BGN, Dr. Ir. Dadan Hindayana, menuturkan bahwa kampanye tersebut merupakan ajakan untuk bergerak bersama. “Kampanye ini adalah gerakan kolektif yang melibatkan pemerintah, orang tua, guru, dan komunitas agar tidak ada anak Indonesia yang tertinggal dalam pemenuhan hak gizinya,” katanya dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (18/11/2025).
Baca juga: BGN Perketat Standar, Setiap Dapur MBG Kini Harus Dipimpin Dua Chef Bersertifikat
Dadan menekankan bahwa pemenuhan gizi adalah investasi paling esensial bagi masa depan bangsa. “Asupan yang benar bukan hanya membuat anak sehat secara fisik, tetapi juga memperkuat kapasitas intelektual dan ketahanan mental mereka. Itu fondasi penting untuk membentuk generasi yang tangguh,” ujarnya.
Narasi kampanye diperkuat dua pesan utama: Anak kenyang, anak siap belajar dan Gizi bukan bantuan, ini hak. Kedua pesan ini menegaskan keterkaitan antara gizi yang cukup dengan kemampuan belajar anak, sekaligus menekankan landasan etis bahwa makanan bergizi adalah hak seluruh anak Indonesia.
“Kecukupan gizi membantu anak berkonsentrasi, memahami pelajaran, dan menyerap informasi dengan lebih efektif. Sementara penegasan bahwa gizi adalah hak menuntut tanggung jawab bersama untuk memenuhinya tanpa terkecuali,” tambah Dadan.
Kampanye ini juga menyoroti dampak ekonomi Program MBG yang mampu menggerakkan petani dan UMKM lokal melalui rantai pasok baru yang menyerap produk pangan lokal secara berkelanjutan. “MBG menjadi katalis ekonomi dengan manfaat ganda, yaitu memastikan anak memperoleh asupan sehat sekaligus memberdayakan petani dan UMKM untuk memperkuat ekonomi desa,” ujarnya.
Lebih jauh, dia menegaskan bahwa Program MBG adalah bagian dari strategi pemerintah membangun SDM unggul melalui revolusi gizi sekolah yang inklusif dan berkelanjutan. Program ini bahkan mendapat apresiasi dari UNICEF dan WFP sebagai salah satu inisiatif pemberian makan terbesar di dunia.
Sejak mulai berjalan pada Januari 2025, MBG telah menyasar jutaan anak sekolah di seluruh Indonesia guna mendukung tumbuh kembang mereka serta mempersiapkan generasi yang siap menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Dalam acara peluncuran, dua siswa penerima manfaat MBG — Kasim dari Raja Ampat dan Almira dari Garut — turut menyampaikan pengalaman mereka mengenai perubahan positif yang dirasakan setelah mendapatkan makanan bergizi rutin di sekolah.
Kampanye Makan Bergizi Hak Anak Indonesia akan digulirkan melalui konten kreatif, kisah lapangan, serta analisis publik mengenai implementasi Program MBG. Upaya ini diharapkan meningkatkan literasi gizi, memperkuat persepsi positif masyarakat, dan menjaga narasi publik tetap objektif, non-politis, serta konstruktif.
Baca juga: Kemenkes Bakal Sokong Ahli Gizi Untuk MBG Melalui Puskesmas untuk Sementara Waktu
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.