Dari Hutan Depok, Lomba Sihir Menyulap Sore Jadi Panggung Magis
09 November 2025 |
18:36 WIB
Sore menggelayut saat grup band Lomba Sihir menggebrak panggung Pertamina Stage, Jazz Goes to Campus (JGTC) 2025 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Band asal Jakarta itu tampil meriah dengan latar hutan Depok yang rimbun, pada Minggu, (9/11/2025).
Tampil dalam formasi besar, sang vokalis Natasha Udu membuka aksi dengan penampilan trengginas. Sambil melompat ke sana kemari, suaranya merasuk ke telinga para penonton yang mulai memenuhi venue. Lagu Hati dan Paru-Paru serta Selamanya menjadi pembuka yang langsung membetot perhatian.
Baca juga: Bilal Indrajaya Hangatkan Sore Jazz Goes to Campus 2025
“Halo Jazz Goes to Campus, apa kabar kalian semua? Karena hari masih panjang, mari kita siapkan energi kita. Ini pertama kalinya kita main di JGTC. Karena ini momen spesial, bagaimana kalau kita foto bareng dulu?” teriaknya sebelum menyanyikan Nirrrlaba.
Vokal Natasha yang cukup keras membuat lagu itu terasa lebih dekat dan jujur. Improvisasinya yang subtil juga memperkuat kesan rock yang elegan. Tak hanya menyanyi, sang vokalis juga lihai menciptakan keintiman dengan penonton.
Didukung permainan band yang solid dan tata suara yang jernih, penampilan Lomba Sihir terasa begitu matang dan menyentuh. Natasha kemudian melanjutkan setlist-nya dengan lagu-lagu seperti Sofa, Andai Saja, dan Ribuan Memori, yang seluruhnya dibalut dalam aransemen alternatif.
Di sela penampilan, penyanyi asal Jakarta itu juga menyapa penonton dengan gaya khasnya yang santai. Tak hanya itu, mereka juga menyampaikan dukungan terhadap perjuangan masyarakat Palestina dengan menghadirkan tulisan “Free Palestine” di latar panggung.
Berbeda dari konser sebelumnya, atmosfer yang dibangun kali ini terasa lebih semarak. Diiringi lima musisi lengkap minus Baskara, Lomba Sihir tampil dengan instrumen seperti drum, bass, dan kibor yang menghasilkan sound menggelegar. Sesekali, suara serak sang vokalis justru terdengar berkarakter.
Berdurasi sekitar 40 menit, Lomba Sihir menutup penampilannya dengan tembang Semua Orang Pernah Sakit Hati dan Ujung Dunia. Kedua lagu tersebut menjadi pilihan yang pas untuk menyegel penampilan yang intimate namun tetap enerjik.
Lomba Sihir adalah band pop alternatif yang digawangi oleh Natasha Udu (vokal), Rayhan Noor (gitar, vokal), Wisnu Ikhsantama (bas, vokal), Enrico Octaviano (drum), Tristan Juliano (kibor, vokal), dan Baskara Putra alias Hindia (vokal, synthesizer).
Sejak Desember 2022, Wisnu Ikhsantama hengkang dari grup karena kesibukannya dengan proyek musik lain. Mereka dikenal lewat lagu-lagu hit seperti Selamanya, Ribuan Memori, Semua Orang Pernah Sakit Hati, Mungkin Takut Perubahan, Jalan Tikus, dan Nirrrlaba.
Sebelum menjadi grup mandiri, keenam personel tersebut merupakan pengiring Hindia di panggung sejak 2019. Mereka juga terlibat dalam proses rekaman album Hindia bertajuk Menari dengan Bayangan. Seiring waktu, mereka memutuskan membentuk grup musik bernama Lomba Sihir.
Lomba Sihir resmi debut sebagai grup pada Februari 2021 dengan merilis single Hati dan Paru-Paru, dilanjutkan dengan album panjang perdana Selamat Datang di Ujung Dunia pada 22 Maret 2021.
Album itu mendapat respons positif dari penikmat musik. Bahkan, menempati posisi ke-9 dalam daftar The 25 Best Asian Albums of 2021 versi NME Asia, bersanding dengan karya musisi besar seperti IU (Lilac) dan TXT (The Chaos Chapter: Freeze). Berkat album tersebut, Lomba Sihir juga memperoleh nominasi Best Band From Asia di BandLab NME Awards 2022.
Terbaru, Lomba Sihir merilis album studio kedua bertajuk Obrolan Jam 3 Pagi pada Mei 2025. Seperti judulnya, album tersebut merupakan buah refleksi dan pertanyaan-pertanyaan kehidupan dari para personelnya—terutama pada jam-jam rawan di malam hari, saat ruang kosong haus akan makna.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Tampil dalam formasi besar, sang vokalis Natasha Udu membuka aksi dengan penampilan trengginas. Sambil melompat ke sana kemari, suaranya merasuk ke telinga para penonton yang mulai memenuhi venue. Lagu Hati dan Paru-Paru serta Selamanya menjadi pembuka yang langsung membetot perhatian.
Baca juga: Bilal Indrajaya Hangatkan Sore Jazz Goes to Campus 2025
“Halo Jazz Goes to Campus, apa kabar kalian semua? Karena hari masih panjang, mari kita siapkan energi kita. Ini pertama kalinya kita main di JGTC. Karena ini momen spesial, bagaimana kalau kita foto bareng dulu?” teriaknya sebelum menyanyikan Nirrrlaba.
Vokal Natasha yang cukup keras membuat lagu itu terasa lebih dekat dan jujur. Improvisasinya yang subtil juga memperkuat kesan rock yang elegan. Tak hanya menyanyi, sang vokalis juga lihai menciptakan keintiman dengan penonton.
Didukung permainan band yang solid dan tata suara yang jernih, penampilan Lomba Sihir terasa begitu matang dan menyentuh. Natasha kemudian melanjutkan setlist-nya dengan lagu-lagu seperti Sofa, Andai Saja, dan Ribuan Memori, yang seluruhnya dibalut dalam aransemen alternatif.
Di sela penampilan, penyanyi asal Jakarta itu juga menyapa penonton dengan gaya khasnya yang santai. Tak hanya itu, mereka juga menyampaikan dukungan terhadap perjuangan masyarakat Palestina dengan menghadirkan tulisan “Free Palestine” di latar panggung.
Berbeda dari konser sebelumnya, atmosfer yang dibangun kali ini terasa lebih semarak. Diiringi lima musisi lengkap minus Baskara, Lomba Sihir tampil dengan instrumen seperti drum, bass, dan kibor yang menghasilkan sound menggelegar. Sesekali, suara serak sang vokalis justru terdengar berkarakter.

Grup band Lomba Sihir saat tampil di Jazz Goes to Campus (JGTC) 2025, Minggu, (9/11/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)
Berdurasi sekitar 40 menit, Lomba Sihir menutup penampilannya dengan tembang Semua Orang Pernah Sakit Hati dan Ujung Dunia. Kedua lagu tersebut menjadi pilihan yang pas untuk menyegel penampilan yang intimate namun tetap enerjik.
Lomba Sihir adalah band pop alternatif yang digawangi oleh Natasha Udu (vokal), Rayhan Noor (gitar, vokal), Wisnu Ikhsantama (bas, vokal), Enrico Octaviano (drum), Tristan Juliano (kibor, vokal), dan Baskara Putra alias Hindia (vokal, synthesizer).
Sejak Desember 2022, Wisnu Ikhsantama hengkang dari grup karena kesibukannya dengan proyek musik lain. Mereka dikenal lewat lagu-lagu hit seperti Selamanya, Ribuan Memori, Semua Orang Pernah Sakit Hati, Mungkin Takut Perubahan, Jalan Tikus, dan Nirrrlaba.
Sebelum menjadi grup mandiri, keenam personel tersebut merupakan pengiring Hindia di panggung sejak 2019. Mereka juga terlibat dalam proses rekaman album Hindia bertajuk Menari dengan Bayangan. Seiring waktu, mereka memutuskan membentuk grup musik bernama Lomba Sihir.
Lomba Sihir resmi debut sebagai grup pada Februari 2021 dengan merilis single Hati dan Paru-Paru, dilanjutkan dengan album panjang perdana Selamat Datang di Ujung Dunia pada 22 Maret 2021.
Album itu mendapat respons positif dari penikmat musik. Bahkan, menempati posisi ke-9 dalam daftar The 25 Best Asian Albums of 2021 versi NME Asia, bersanding dengan karya musisi besar seperti IU (Lilac) dan TXT (The Chaos Chapter: Freeze). Berkat album tersebut, Lomba Sihir juga memperoleh nominasi Best Band From Asia di BandLab NME Awards 2022.
Terbaru, Lomba Sihir merilis album studio kedua bertajuk Obrolan Jam 3 Pagi pada Mei 2025. Seperti judulnya, album tersebut merupakan buah refleksi dan pertanyaan-pertanyaan kehidupan dari para personelnya—terutama pada jam-jam rawan di malam hari, saat ruang kosong haus akan makna.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.