Menelusuri Jejak Cinta di Wisma Habibie & Ainun
07 November 2025 |
13:04 WIB
1
Like
Like
Like
Di tengah hiruk-pikuk Kuningan, Jakarta Selatan, yang dikepung dengan gedung-gedung tinggi, berdiri sebuah rumah yang menyimpan kisah abadi tentang cinta, dedikasi, dan Indonesia. Wisma Habibie & Ainun (WHA), begitu tempat ini dikenal orang sekarang, dulunya merupakan rumah pribadi sekaligus rumah kepresidenan B.J. Habibie dan sang istri, Hasri Ainun Habibie.
Rumah yang terletak di Jl. Patra Kuningan XIII No.5 itu menjadi saksi bagaimana salah satu kisah cinta paling ikonik di Indonesia itu bertumbuh. Namun, tak sekadar romansa pribadi, rumah ini juga menjadi latar berbagai pemikiran yang menentukan arah bangsa.
Baca juga: Ruang Baca Cucu Intelektual Vol. 2 Hadir untuk Mengenang 6 Tahun Wafatnya B. J. Habibie
Siang itu, tim Bisnis Indonesia disambut oleh Satria Habibie, cucu Junus Effendi Habibie (Adik kandung B.J. Habibie). Dengan senyum ramah, Satria mengantar rombongan media berkeliling rumah yang kini dijaga sebagai ruang ingatan akan sosok Presiden Ketiga RI tersebut.
Ruang pertama yang dituju adalah ruang keluarga. Ini adalah jantung dari Wisma Habibie & Ainun. Di ruangan itu, ada meja kayu besar berdiri kukuh, dihiasi vas kaca berisi bunga, miniatur gajah hitam, dan beberapa buku tebal.
Dinding ruangan ini dipenuhi karya seni. Tiga lukisan berukuran sedang karya Maria Tjui menjadi titik pandang utama. Sapuan warnanya tegas, tetapi di sisi lain juga memancarkan kelembutan. Lukisan-lukisan Maria Tjui lain juga dapat ditemui di banyak sudut rumah ini. Kebanyakan menggambarkan kehidupan Bali yang damai, dengan warna-warna hangat yang menangkap denyut sosial dan budaya Nusantara.
Bagi keluarga, karya Maria Tjui bukan sekadar hiasan, melainkan kenangan akan persahabatan Ibu Ainun dengan sang pelukis, dua perempuan yang sama-sama kuat, lembut, dan tekun berkarya di bidang masing-masing.
"Maria Tjui adalah pelopor dalam dunia seni rupa Indonesia, menjadi salah satu wanita pertama yang diterima di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) setelah menghadapi tantangan diskriminasi gender. Setelah tahu diterima, eyang langsung rajin mengoleksi karya-karyanya," ungkap Satria.
Bahkan, katanya, tepat setelah Ibu Ainun wafat pada 22 Mei 2010, Maria Tjui mempersembahkan sebuah lukisan bunga krisan putih. Bunga ini dikenal sebagai simbol penghormatan untuk mengenang orang tercinta.
Satria bercerita, ruang keluarga ini dahulu memiliki peran ganda. Selain menjadi tempat menerima tamu, ruangan ini juga sering berubah menjadi ruang kerja. Sebab, Habibie adalah sosok yang workaholik.
Setelah pulang dari kantor, dia kerap tetap melanjutkan pekerjaannya di rumah. Terkadang, sampai tak kenal waktu hingga dini hari. . Hanya satu hal yang bisa membuatnya berhenti: suara langkah kaki istrinya, Ainun.
“Eyang itu kalau ditegur satu, dua, tiga kali masih kerja saja. Tapi kalau sudah dengar bunyi suara kaki Eyang Ainun, itu langsung berhenti,” kata Satria sambil tersenyum.
Dari ruang keluarga ini, kisah cinta Habibie dan Ainun terasa hidup kembali—bukan hanya lewat foto atau buku, tetapi lewat suasana yang mereka tinggalkan. Cinta yang tidak berhenti di antara dua insan, melainkan berkembang menjadi cinta terhadap budaya, ilmu, dan Indonesia itu sendiri.
Satria kemudian mengajak kami menuju ruang berikutnya, yakni perpustakaan. Perpustakaan ini menyimpan koleksi 5.000-an buku dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Jerman. Di dalamnya, juga terdapat model miniatur pesawat ikonis N250 dan CN235 karya Habibie.
"Yang menarik dari perpustakaan ini, meski eyang dikenal akan keilmuan teknologinya, tetapi sebagian buku di sini justru bukan teknologi. Sebagian besar berkaitan dengan budaya, sejarah, sosiologi, dan hal-hal kemanusiaan. Eyang memang percaya bahwa teknologi yang baik adalah yang dibangun dari akar cinta, cinta pada Tanah Air dan manusia," imbuhnya.
Untuk mendorong partisipasi publik, Satria menjelaskan beberapa kegiatan terbuka digelar di sini, termasuk yang terbaru ialah konferensi pers Ubud Writers and Readers Festival 2025. Lalu, juga akan ada Ruang Baca Cucu Intelektual adalah program silent reading (membaca hening).
Beberapa sudut lain rumah ini juga dibuka untuk kunjungan, seperti ruang persemayaman, tempat Habibie dan Ainun disemayamkan sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Di sini pengunjung yang mengikuti tur juga akan dipersilakan untuk mengambil foto dan merasakan “kehadiran” Habibie dengan mencium parfum yang merupakan ciri khas dia semasa hidup melalui selembar kain.
Kemudian, tur berlanjut ke Ruang Bhineka Tunggal Ika, Taman Intelektual, dan Ruang Pendopo. Ruangan terakhir dihiasi gebyok yang sangat kental nuansa Jawa. Ini merupakan pilihan desain dari Ainun Habibie yang mencintai ornamen Jawa, kayu, dan kaca.
Ruangan ini sangat bersejarah. Habibie bersama Ginanjar Kartasasmita merumuskan persiapan alih kekuasaan sehari sebelum dia dilantik menjadi presiden ketiga RI di tempat ini. Di ruangan ini pula, lahir benih-benih demokrasi di Indonesia, termasuk undang-undang kebebasan pers dan pertemuan kabinet terakhir Orde Baru.
Rumah yang terletak di Jl. Patra Kuningan XIII No.5 itu menjadi saksi bagaimana salah satu kisah cinta paling ikonik di Indonesia itu bertumbuh. Namun, tak sekadar romansa pribadi, rumah ini juga menjadi latar berbagai pemikiran yang menentukan arah bangsa.
Baca juga: Ruang Baca Cucu Intelektual Vol. 2 Hadir untuk Mengenang 6 Tahun Wafatnya B. J. Habibie
Siang itu, tim Bisnis Indonesia disambut oleh Satria Habibie, cucu Junus Effendi Habibie (Adik kandung B.J. Habibie). Dengan senyum ramah, Satria mengantar rombongan media berkeliling rumah yang kini dijaga sebagai ruang ingatan akan sosok Presiden Ketiga RI tersebut.
Ruang pertama yang dituju adalah ruang keluarga. Ini adalah jantung dari Wisma Habibie & Ainun. Di ruangan itu, ada meja kayu besar berdiri kukuh, dihiasi vas kaca berisi bunga, miniatur gajah hitam, dan beberapa buku tebal.
_crop.jpg)
_crop.jpg)
Wisma Habibie & Ainun (WHA) (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Dinding ruangan ini dipenuhi karya seni. Tiga lukisan berukuran sedang karya Maria Tjui menjadi titik pandang utama. Sapuan warnanya tegas, tetapi di sisi lain juga memancarkan kelembutan. Lukisan-lukisan Maria Tjui lain juga dapat ditemui di banyak sudut rumah ini. Kebanyakan menggambarkan kehidupan Bali yang damai, dengan warna-warna hangat yang menangkap denyut sosial dan budaya Nusantara.
Bagi keluarga, karya Maria Tjui bukan sekadar hiasan, melainkan kenangan akan persahabatan Ibu Ainun dengan sang pelukis, dua perempuan yang sama-sama kuat, lembut, dan tekun berkarya di bidang masing-masing.
"Maria Tjui adalah pelopor dalam dunia seni rupa Indonesia, menjadi salah satu wanita pertama yang diterima di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) setelah menghadapi tantangan diskriminasi gender. Setelah tahu diterima, eyang langsung rajin mengoleksi karya-karyanya," ungkap Satria.
Bahkan, katanya, tepat setelah Ibu Ainun wafat pada 22 Mei 2010, Maria Tjui mempersembahkan sebuah lukisan bunga krisan putih. Bunga ini dikenal sebagai simbol penghormatan untuk mengenang orang tercinta.
Satria bercerita, ruang keluarga ini dahulu memiliki peran ganda. Selain menjadi tempat menerima tamu, ruangan ini juga sering berubah menjadi ruang kerja. Sebab, Habibie adalah sosok yang workaholik.
Setelah pulang dari kantor, dia kerap tetap melanjutkan pekerjaannya di rumah. Terkadang, sampai tak kenal waktu hingga dini hari. . Hanya satu hal yang bisa membuatnya berhenti: suara langkah kaki istrinya, Ainun.
“Eyang itu kalau ditegur satu, dua, tiga kali masih kerja saja. Tapi kalau sudah dengar bunyi suara kaki Eyang Ainun, itu langsung berhenti,” kata Satria sambil tersenyum.
Dari ruang keluarga ini, kisah cinta Habibie dan Ainun terasa hidup kembali—bukan hanya lewat foto atau buku, tetapi lewat suasana yang mereka tinggalkan. Cinta yang tidak berhenti di antara dua insan, melainkan berkembang menjadi cinta terhadap budaya, ilmu, dan Indonesia itu sendiri.
Satria kemudian mengajak kami menuju ruang berikutnya, yakni perpustakaan. Perpustakaan ini menyimpan koleksi 5.000-an buku dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Jerman. Di dalamnya, juga terdapat model miniatur pesawat ikonis N250 dan CN235 karya Habibie.
"Yang menarik dari perpustakaan ini, meski eyang dikenal akan keilmuan teknologinya, tetapi sebagian buku di sini justru bukan teknologi. Sebagian besar berkaitan dengan budaya, sejarah, sosiologi, dan hal-hal kemanusiaan. Eyang memang percaya bahwa teknologi yang baik adalah yang dibangun dari akar cinta, cinta pada Tanah Air dan manusia," imbuhnya.
Untuk mendorong partisipasi publik, Satria menjelaskan beberapa kegiatan terbuka digelar di sini, termasuk yang terbaru ialah konferensi pers Ubud Writers and Readers Festival 2025. Lalu, juga akan ada Ruang Baca Cucu Intelektual adalah program silent reading (membaca hening).
_crop.jpg)
_crop.jpg)
Wisma Habibie & Ainun (WHA) (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Beberapa sudut lain rumah ini juga dibuka untuk kunjungan, seperti ruang persemayaman, tempat Habibie dan Ainun disemayamkan sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Di sini pengunjung yang mengikuti tur juga akan dipersilakan untuk mengambil foto dan merasakan “kehadiran” Habibie dengan mencium parfum yang merupakan ciri khas dia semasa hidup melalui selembar kain.
Kemudian, tur berlanjut ke Ruang Bhineka Tunggal Ika, Taman Intelektual, dan Ruang Pendopo. Ruangan terakhir dihiasi gebyok yang sangat kental nuansa Jawa. Ini merupakan pilihan desain dari Ainun Habibie yang mencintai ornamen Jawa, kayu, dan kaca.
Ruangan ini sangat bersejarah. Habibie bersama Ginanjar Kartasasmita merumuskan persiapan alih kekuasaan sehari sebelum dia dilantik menjadi presiden ketiga RI di tempat ini. Di ruangan ini pula, lahir benih-benih demokrasi di Indonesia, termasuk undang-undang kebebasan pers dan pertemuan kabinet terakhir Orde Baru.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.