Pola asuh anak (Sumber gambar: Unsplash/ Mieke Campbell)

Fatherless dan Dampaknya pada Perkembangan Mental Anak

06 November 2025   |   16:10 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Peran ayah sering kali hilang dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Padahal, kehilangan peran ayah selama masa pertumbuhan dapat berdampak pada sikap dan psikologis buah hati hingga mereka dewasa. Ketidakhadiran ayah dalam pola asuh kerap disebut fatherless. 

Kondisi ini terjadi ketika anak tumbuh tanpa kehadiran figur ayah. Berdasarkan data BPS bertajuk Profil Anak Usia Dini 2024, mayoritas anak-anak di Indonesia memang masih tinggal bersama ayah dan ibu kandung mereka.

Baca juga: Crab Mentality: Saat Sikap Iri dan Menjatuhkan Orang Lain Menghambat Kemajuan Bersama

Meski mayoritas anak-anak tinggal bersama kedua orang tua, data menunjukkan bahwa masih terdapat sekitar 7,10 persen anak di perkotaan yang berada di bawah pengasuhan orang tua tunggal. Angka ini sedikit lebih tinggi di pedesaan, yakni mencapai 7,96 persen.

Di sisi lain, meskipun sebagian besar anak usia dini tinggal dengan ayah dan ibu kandung, belum tentu juga dalam menjalani aktivitas keseharian anak tersebut selalu didampingi oleh orang tuanya.

Psikolog Anak dan Keluarga dari Universitas Indonesia, Rose Mini, menyebut bahwa fenomena fatherless di Indonesia tergolong cukup tinggi. Dia menyebut berdasarkan data BPS, sekitar 20,1 persen anak-anak tumbuh tanpa kehadiran ayah.

Rose menjelaskan bahwa kondisi fatherless dapat muncul karena berbagai alasan. Ada anak-anak yang kehilangan ayah karena sudah meninggal, tetapi ada pula yang ayahnya masih hidup namun dia lebih banyak sibuk bekerja di kantor daripada di rumah. Beberapa anak juga tinggal bersama kakek dan nenek akibat perceraian orang tua atau kondisi tertentu.

Namun, kondisi ini menunjukkan bahwa banyak anak yang tidak mendapatkan stimulasi atau kelekatan dengan ayah.

"Di Indonesia, rata-rata anak memang lebih lekat dengan orang tua wanita atau ibu. Sebab, secara antropologi, asosiasi ayah pencari nafkah, ibu mengasuh anak masih begitu kuat. Jadi, seolah-olah pengasuhan jadi kewajiban ibu semata. Padahal, tidak seharusnya begitu karena mestinya berimbang," ungkapnya.

Selain itu, di Indonesia juga masih terdapat kecenderungan bahwa karena ayah pencari nafkah, dia merasa lebih dominan. Akibatnya, tanggung jawab pengasuhan sering kali menjadi beban perempuan, sementara ayah lebih banyak mengambil peran pengarah dalam berbagai keputusan rumah tangga.

Menurut Rose, pola asuh fatherless dapat menimbulkan dampak psikologis jangka panjang bagi anak. Anak-anak mungkin mengalami kesulitan dalam membangun rasa percaya diri akibat ketidakhadiran ayah dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika ayah jarang hadir atau tidak terlibat dalam interaksi rutin.

Dampak tersebut juga berpotensi memengaruhi hubungan interpersonal anak dengan teman sebaya maupun lingkungannya. Selain itu, anak dapat mengalami penurunan kepercayaan diri, munculnya kecemasan, serta berkurangnya keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri, yang pada akhirnya berdampak pada prestasi akademis maupun perkembangan sosial.

Meski demikian, pengaruh ini sangat bergantung pada kondisi individu dan pola pengasuhan di rumah. Beberapa anak dapat berkembang secara optimal apabila orang tua atau pengasuh lain mampu memberikan stimulasi yang memadai, sehingga kekurangan kehadiran ayah dapat teratasi dan pertumbuhan anak tetap terjaga. "Ya, tidak semua anak fatherless jadi bermasalah," imbuhnya.

Baca juga: Dampak Kebanyakan Scrolling Media Sosial Bagi Kesehatan Mental, Begini Kata Dokter

Selain itu, yang perlu diperhatikan ialah orang tua sering kali menjadi figur teladan pertama bagi anak. Apabila anak laki-laki kehilangan figur ayah, mereka cenderung mencari sosok pengganti, seperti kakek, paman, atau bahkan orang di luar lingkungan rumah.

Sementara itu, dampak bagi anak perempuan berbeda, karena umumnya masih memiliki kesempatan untuk mencontoh figur ibu dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, kondisi ini bersifat dinamis dan dapat berbeda-beda pada setiap anak. Namun, pola asuh yang ideal, katanya, tetaplah yang mengutamakan peran ayah dan ibu secara bersamaan.

SEBELUMNYA

Zohran Mamdani, Wajah Baru Politik Kiri yang Mengguncang New York City

BERIKUTNYA

Begini Teknik Jalan Kaki yang Bermanfaat Untuk Kesehatan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga