Science Film Festival 2025 Digelar 4-30 November, Angkat Tema Green Jobs
04 November 2025 |
15:00 WIB
Science Film Festival kembali hadir di Indonesia pada 4–30 November 2025. Memasuki edisi ke-16, festival yang diinisiasi oleh Goethe-Institut ini digelar secara hybrid dan menjangkau siswa-siswi dari jenjang SD hingga SMA di 70 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Mengusung tema Green Jobs, festival tahun ini menyoroti pentingnya profesi yang berkontribusi pada pelestarian lingkungan serta pembangunan berkelanjutan. Melalui konsep pekerjaan ramah lingkungan, generasi muda diajak memahami tantangan global sekaligus menemukan peluang karier yang relevan dengan masa depan hijau.
Baca juga: Festival Musikal Indonesia Hadir Lagi November 2025, 12 Pertunjukan Siap Digelar di TIM Cikini
“Dengan menyoroti pentingnya gaya hidup berkelanjutan serta keterampilan yang dibutuhkan untuk menerapkan teknologi ramah lingkungan, Science Film Festival menegaskan peran sentral Green Jobs dalam mengarahkan dunia menuju masa depan yang lebih hijau,” ujar Constanze Michel selaku Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, pada Selasa (4/11/2025) di Gedung Kemendiktisaintek.
Baginya sains dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan. Melalui rangkaian film dari berbagai negara, dia berharap festival ini mampu menginspirasi generasi muda dan masyarakat Indonesia untuk lebih aktif dalam penemuan, eksplorasi, serta berinteraksi dengan dunia sains.
Pada kesempatan yang sama, turut hadir Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyatakan, Green Jobs mencerminkan bagaimana sains dapat menjadi kekuatan yang mampu mengubah arah masa depan, baik di laboratorium, ladang pertanian, pusat riset, maupun ruang kelas.
"Melalui film, sains menemukan bahasa universalnya, bahasa yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu, empati, dan kesadaran. Gambar dan cerita dalam filmnya juga mampu menyentuh emosi dan memberi makna pada pengetahuan,” ujar Stella Christie.
Lebih lanjut, dia berharap Science Film Festival tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga membangkitkan kembali semangat untuk berpikir kritis, menciptakan solusi, dan bertindak bagi kelestarian bumi.
Sepanjang gelaran Science Film Festival 2025 di Indonesia, akan diputar 16 film dari tujuh negara, yakni Jerman, Republik Ceko, Belanda, Uruguay, Afrika Selatan, Argentina, dan Britania Raya. Penayangan film diikuti enam eksperimen sains yang dirancang agar peserta dapat langsung mempraktikkan konsep ilmiah yang terinspirasi dari film yang mereka tonton.
Film-film tersebut akan diputar bergantian secara luring di sekolah-sekolah, universitas, pusat sains, komunitas, serta secara daring via Zoom. Festival ini menjangkau berbagai kota dan kabupaten seperti Arguni, Balige, Bukittinggi, Ende, Gowa, Larantuka, Manokwari, Palangkaraya, Poso, Soe, Tanah Merah Baru, Waingapu, dan masih banyak lagi.
Acara pembukaan Festival Film Sains di Jakarta dihadiri lebih dari 300 pelajar yang menonton film asal Jerman berjudul Nine-and-a-half: Underwater Noise – Why is the Ocean so Loud?, yang mengangkat riset tentang dampak kebisingan terhadap anjing laut.
Setelah menonton film, para siswa mengikuti eksperimen sains berjudul “Antigravitasi”. Dalam percobaan ini, mereka diminta mengambil bola dari dalam air dan mengangkatnya tanpa membuat bola keluar dari botol.
Kegiatan ini membantu siswa memahami bagaimana tekanan fluida bekerja pada kedalaman berbeda, sekaligus mengenalkan konsep tegangan permukaan dengan cara yang menyenangkan.
Selain itu, untuk pertama kalinya, Science Film Festival Indonesia juga menghadirkan penampilan teatrikal Foolish Doom asal Jerman yang bercerita tentang seorang penyihir maha kuasa yang akan menghadapi krisis iklim dan menyelamatkan dunia.
Sejak pertama kali digelar di Thailand pada 2005, Science Film Festival telah menjadi sarana pembelajaran sains yang menarik dan mudah diakses di berbagai wilayah, mulai dari Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika, hingga Amerika Latin dan Timur Tengah.
Di Indonesia, festival ini hadir sejak 2010 dan pada tahun lalu berhasil menarik lebih dari 130.000 peserta. Dengan mengangkat tema Green Jobs tahun ini, festival tersebut diharapkan dapat terus mendorong tumbuhnya generasi muda yang berpikir ilmiah, kreatif, dan memiliki kepedulian terhadap masa depan bumi.
Mengusung tema Green Jobs, festival tahun ini menyoroti pentingnya profesi yang berkontribusi pada pelestarian lingkungan serta pembangunan berkelanjutan. Melalui konsep pekerjaan ramah lingkungan, generasi muda diajak memahami tantangan global sekaligus menemukan peluang karier yang relevan dengan masa depan hijau.
Baca juga: Festival Musikal Indonesia Hadir Lagi November 2025, 12 Pertunjukan Siap Digelar di TIM Cikini
“Dengan menyoroti pentingnya gaya hidup berkelanjutan serta keterampilan yang dibutuhkan untuk menerapkan teknologi ramah lingkungan, Science Film Festival menegaskan peran sentral Green Jobs dalam mengarahkan dunia menuju masa depan yang lebih hijau,” ujar Constanze Michel selaku Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, pada Selasa (4/11/2025) di Gedung Kemendiktisaintek.
Baginya sains dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan. Melalui rangkaian film dari berbagai negara, dia berharap festival ini mampu menginspirasi generasi muda dan masyarakat Indonesia untuk lebih aktif dalam penemuan, eksplorasi, serta berinteraksi dengan dunia sains.
Pada kesempatan yang sama, turut hadir Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyatakan, Green Jobs mencerminkan bagaimana sains dapat menjadi kekuatan yang mampu mengubah arah masa depan, baik di laboratorium, ladang pertanian, pusat riset, maupun ruang kelas.
"Melalui film, sains menemukan bahasa universalnya, bahasa yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu, empati, dan kesadaran. Gambar dan cerita dalam filmnya juga mampu menyentuh emosi dan memberi makna pada pengetahuan,” ujar Stella Christie.
Lebih lanjut, dia berharap Science Film Festival tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga membangkitkan kembali semangat untuk berpikir kritis, menciptakan solusi, dan bertindak bagi kelestarian bumi.
Sepanjang gelaran Science Film Festival 2025 di Indonesia, akan diputar 16 film dari tujuh negara, yakni Jerman, Republik Ceko, Belanda, Uruguay, Afrika Selatan, Argentina, dan Britania Raya. Penayangan film diikuti enam eksperimen sains yang dirancang agar peserta dapat langsung mempraktikkan konsep ilmiah yang terinspirasi dari film yang mereka tonton.
Film-film tersebut akan diputar bergantian secara luring di sekolah-sekolah, universitas, pusat sains, komunitas, serta secara daring via Zoom. Festival ini menjangkau berbagai kota dan kabupaten seperti Arguni, Balige, Bukittinggi, Ende, Gowa, Larantuka, Manokwari, Palangkaraya, Poso, Soe, Tanah Merah Baru, Waingapu, dan masih banyak lagi.
Pembukaan Science Film Festival 2025

Pembukaan Science Film Festival 2025 (Sumber Foto: Hypeabis.id/Kintan Nabila)
Acara pembukaan Festival Film Sains di Jakarta dihadiri lebih dari 300 pelajar yang menonton film asal Jerman berjudul Nine-and-a-half: Underwater Noise – Why is the Ocean so Loud?, yang mengangkat riset tentang dampak kebisingan terhadap anjing laut.
Setelah menonton film, para siswa mengikuti eksperimen sains berjudul “Antigravitasi”. Dalam percobaan ini, mereka diminta mengambil bola dari dalam air dan mengangkatnya tanpa membuat bola keluar dari botol.
Kegiatan ini membantu siswa memahami bagaimana tekanan fluida bekerja pada kedalaman berbeda, sekaligus mengenalkan konsep tegangan permukaan dengan cara yang menyenangkan.
Selain itu, untuk pertama kalinya, Science Film Festival Indonesia juga menghadirkan penampilan teatrikal Foolish Doom asal Jerman yang bercerita tentang seorang penyihir maha kuasa yang akan menghadapi krisis iklim dan menyelamatkan dunia.
Sejak pertama kali digelar di Thailand pada 2005, Science Film Festival telah menjadi sarana pembelajaran sains yang menarik dan mudah diakses di berbagai wilayah, mulai dari Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika, hingga Amerika Latin dan Timur Tengah.
Di Indonesia, festival ini hadir sejak 2010 dan pada tahun lalu berhasil menarik lebih dari 130.000 peserta. Dengan mengangkat tema Green Jobs tahun ini, festival tersebut diharapkan dapat terus mendorong tumbuhnya generasi muda yang berpikir ilmiah, kreatif, dan memiliki kepedulian terhadap masa depan bumi.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.