Ilustrasi orang menatap layar perangkat digital (Sumber Foto: Freepik)

Mengenal Gejala Digital Fatigue Akibat Terlalu Lama Menatap Layar Gadget

21 October 2025   |   10:39 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Di era modern yang serba terkoneksi, manusia menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar gadget dan perangkat elektronik lainnya untuk bekerja, belajar, hingga mencari hiburan. Tanpa disadari, kebiasaan ini memunculkan fenomena baru, yakni digital fatigue atau kelelahan digital.

Dogital fatigue digambarkan sebagai kondisi kelelahan mental dan fisik akibat paparan berlebihan terhadap perangkat digital. Kondisi ini bukan sekadar rasa jenuh biasa, tetapi bentuk kelelahan menyeluruh yang muncul ketika seseorang terlalu lama menggunakan gawai tanpa jeda yang cukup.

Studi yang diterbitkan oleh National Library of Medicine (PMC) menunjukkan bahwa kelelahan digital dapat memicu gangguan konsentrasi, stres berkepanjangan, serta penurunan kualitas tidur akibat paparan cahaya biru dari layar.

Baca Juga: Studi Enuma: Aplikasi Digital Tingkatkan Nilai Matematika Siswa hingga 2,23 Poin

Selain itu, banyak pekerja yang mengaku sulit mematikan pikirannya meski sudah meninggalkan meja kerja, karena notifikasi dan komunikasi daring terus membayangi bahkan di sela-sela waktu pribadi. Dengan kata lain, tubuh dan pikiran manusia dipaksa untuk tetap siaga dalam arus informasi yang tidak pernah berhenti.

Tidak hanya pekerja kantoran yang terdampak. Mahasiswa dan pelajar yang harus mengikuti kelas daring juga menunjukkan gejala serupa. Mereka yang terbiasa belajar atau bersosialisasi lewat layar cenderung merasa lelah secara emosional, kehilangan fokus, bahkan mengalami penurunan motivasi belajar.

Dari segi fisik, kelelahan digital sering kali muncul dalam bentuk sakit kepala, mata tegang, pandangan kabur, dan nyeri leher. Namun yang lebih mengkhawatirkan, banyak orang tidak menyadari bahwa gangguan suasana hati, kecemasan, hingga rasa cemas tanpa sebab juga bisa berakar dari kebiasaan digital yang berlebihan.

Kita mungkin berpikir sedang beristirahat saat scrolling media sosial, padahal otak tetap bekerja keras menyerap informasi, membandingkan diri, dan memproses rangsangan visual yang tiada henti.

Para ahli menilai, pandemi COVID-19 mempercepat tren ini. Lonjakan aktivitas daring selama masa karantina membuat batas antara pekerjaan, hiburan, dan kehidupan pribadi semakin kabur. Akibatnya, banyak orang merasa seolah tidak pernah benar-benar offline. Data dari beberapa survei global juga memperlihatkan bahwa durasi penggunaan layar harian meningkat tajam, bahkan mencapai lebih dari 10 jam per hari di beberapa kelompok usia produktif.

Adapun di Indonesia sendiri, durasi screen time masyarakat menunjukkan tren yang meningkat. Pada 2022, rata-ratanya mencapai 5,7 jam per hari, kemudian pada 2023-2025 menunjukkan angka yang lebih tinggi, sekitar 7,5 jam atau lebih per hari berdasarkan data dari Statista dan Kemenko PMK. Angka ini dipengaruhi oleh kemudahan akses smartphone dan internet, serta popularitas media sosial. 
 

Gejala digital fatigue

Gejala Fisik
  • Mata lelah, kering, atau terasa perih
  • Sakit kepala setelah lama menatap layar.
  • Leher, bahu, atau punggung terasa tegang akibat postur tubuh saat menggunakan gawai.
  • Pandangan kabur atau berbayang setelah bekerja di depan layar dalam waktu lama.
  • Gangguan tidur karena paparan cahaya biru dari layar.
  • Rasa lelah secara fisik meski tidak melakukan aktivitas berat.

Gejala Mental dan Emosional
  • Sulit berkonsentrasi atau mempertahankan fokus.
  • Mudah terdistraksi oleh notifikasi dan informasi digital.
  • Perasaan jenuh, bosan, atau apatis terhadap aktivitas online.
  • Kelelahan mental yang tidak membaik meski sudah beristirahat singkat.
  • Muncul rasa cemas, stres, atau “burnout” akibat terlalu banyak berinteraksi dengan layar.
  • Mood mudah berubah, sering merasa mudah marah atau gelisah.
  • Penurunan motivasi untuk bekerja, belajar, atau bersosialisasi secara virtual.

Jika gejala-gejala ini berlangsung terus-menerus, para ahli menyarankan untuk melakukan digital detox, yaitu mengambil waktu istirahat penuh dari perangkat elektronik.

Menurut Harvard Health Publishing, membatasi waktu layar dapat menurunkan stres dan meningkatkan kualitas tidur. Disarankan untuk menetapkan jam tanpa gawai, misalnya satu jam sebelum tidur atau saat makan, agar tubuh dan pikiran bisa benar-benar beristirahat.

Lakukan kegiatan yang menstimulasi indera nyata, seperti membaca buku cetak, memasak, berolahraga, atau berinteraksi langsung dengan orang lain. Aktivitas ini membantu otak beristirahat dan memperbaiki keseimbangan sensorik setelah terlalu lama terpapar dunia digital.

Lalu, hindari paparan layar sebelum tidur. Disarankan untuk menjauh dari layar setidaknya 30-60 menit sebelum tidur, menggunakan fitur night mode, atau mengenakan kacamata pelindung cahaya biru bila perlu.

Untuk mengurangi ketegangan mata akibat layar, American Optometric Association menyarankan aturan 20-20-20. Setiap 20 menit, lihat objek sejauh 20 kaki atau sekitar 6 meter selama 20 detik. Kebiasaan kecil ini membantu merilekskan otot mata dan mengurangi risiko mata lelah, kering, dan perih.

Baca Juga: Mengasuh Anak pada Era Digital Butuh Cara Berbeda, Begini Kata Psikolog

SEBELUMNYA

Hearts2Hearts Kembali dengan Mini Album “FOCUS”, Tampilkan Sisi Lebih Tajam dan Dewasa

BERIKUTNYA

Synchronize Fest 2026 Buka Loyalty Ticket Dukung Penanaman Mangrove, Cek Cara Belinya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga