Produk KaIND. (Sumber foto: KaIND)

Melawan Arus Fast Fashion, KaIND dan TRI Cycle Buktikan Gaya Juga Bisa Berkelanjutan

17 October 2025   |   13:42 WIB
Image
Nursoko Andhika Setiawan Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Di tengah gempuran budaya fast fashion yang serba cepat dan instan, sejumlah brand lokal Indonesia justru melangkah ke arah sebaliknya. Mereka menghadirkan napas baru lewat konsep slow fashion, yang tak hanya memamerkan gaya, tapi juga menonjolkan nilai keberlanjutan, penghargaan terhadap proses, serta pemberdayaan komunitas.

Salah satu yang menarik perhatian adalah KaIND dan TRI Cycle, dua brand lokal yang sama-sama lahir dari kepedulian terhadap bumi dan akar budaya.

Baca juga: Cara Menerapkan Slow Fashion, Lebih Hemat dan Berkelanjutan

Didirikan oleh Melie Indarto, KaIND berawal dari keresahan pribadi melihat tenun dan batik Pasuruan yang kian terpinggirkan. Tahun 2015 menjadi titik awal perjalanannya. Melie membentuk komunitas pengrajin, memberi pelatihan, dan menyatukan nilai tradisi dengan sentuhan modern.
 

Dari perjalanan itu lahirlah KaIND, nama yang memuat makna ganda: “Kain Indonesia” dan “Kind,” simbol kebaikan dan kepedulian terhadap bumi serta manusia di balik setiap helai kainnya.

“Sejak awal, tujuan KaIND sederhana, yaitu mengangkat warisan tekstil, menjaga komunitas pengrajin, sekaligus menghadirkan fesyen yang ramah lingkungan. Kami ingin kain Indonesia bisa dipakai generasi muda tanpa meninggalkan nilai tradisi,” ujar Melie.

Bahan baku yang digunakan KaIND sepenuhnya berasal dari sumber lokal. Mereka bekerja sama dengan petani sutra Eri di Pasuruan, memanfaatkan benang dan serat dari Wonosobo, Tuban, Bali, hingga Riau. Proses pewarnaan pun dilakukan dengan bahan alami agar tidak merusak lingkungan.

Prinsip slow fashion diterapkan melalui produksi dilakukan dalam jumlah terbatas, dengan fokus pada kualitas dan dampak positif bagi masyarakat serta alam.

Dari sisi bisnis, KaIND berhasil membuktikan bahwa keberlanjutan dapat berjalan beriringan dengan keuntungan. Brand ini mampu meraih omzet sekitar Rp150–200 juta per bulan, dengan margin laba bersih mencapai 30%. Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, KaIND menargetkan untuk terus menjaga warisan budaya, memperkuat ekonomi lokal, dan memperluas inovasi produk berbasis serat alam.
 

Sementara itu, semangat yang sama juga diusung oleh TRI Cycle, brand asal Bali yang digagas oleh Annisa Fauziah. Terinspirasi dari filosofi Tri Hita Karana, harmoni antara manusia, alam, dan kehidupan, TRI Cycle fokus pada pengolahan limbah tekstil menjadi produk upcycle yang bernilai.

Mereka mengubah bahan-bahan seperti sprei bekas hotel, deadstock, hingga kain ramah lingkungan seperti Tencel menjadi produk fungsional dan modis.

“Sejak awal, tujuan kami sederhana, yaitu mengajak masyarakat untuk ikut terlibat. Mulai dari mengumpulkan limbah tekstil lewat donasi, memberdayakan penjahit lokal untuk mengubahnya menjadi produk baru, hingga menyebarkan pesan keberlanjutan lewat setiap karya kami,” jelas Annisa.

Salah satu produk ikonik TRI Cycle adalah Bandana Bali Biodiversity Map, yang menampilkan peta kekayaan hayati Bali sebuah simbol bagaimana desain bisa menyampaikan pesan tentang alam. Walau belum memiliki gerai resmi, TRI Cycle telah bekerja sama dengan beberapa consignment store di Bali seperti Green School, Artotel, Sunshine by Me, Five Pillars, Curative, dan Mata Lokal. Mereka juga aktif menjual produk secara daring untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Dari sisi omzet, TRI Cycle masih berada di kisaran jutaan rupiah per bulan dengan margin laba bersih sekitar 20–30%. Tantangan terbesar mereka adalah mengubah persepsi masyarakat yang masih menganggap produk upcycle kurang bernilai. Namun, dengan kreativitas dan konsistensi, TRI Cycle membuktikan bahwa fesyen tidak harus selalu baru untuk tetap menarik dan bermakna.

Hal ini  menunjukkan bahwa brand lokal Indonesia mampu melangkah jauh dengan visi keberlanjutan. Lewat karya dan komitmen mereka, slow fashion bukan lagi sekadar tren, tetapi gerakan nyata menuju industri fesyen yang lebih bertanggung jawab terhadap bumi dan manusia.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
 

SEBELUMNYA

Cek Fakta-fakta Menarik Game Pokémon Legends: Z-A

BERIKUTNYA

Kenalan dengan Nama-Nama yang Disebut Layak Jadi Pelatih Baru Timnas Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga