Tribute to Junk Food adalah karya seni instalasi dari seniman Syakieb Sungkar (Sumber gambar: Hypeabis.id/ Yudi Supriyanto)

Tribute to Junk Food, Ironi di Balik Makanan Cepat Saji

13 October 2025   |   16:27 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Makanan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia lantaran dapat membuat tubuh memiliki tenaga dan gizi. Namun, seiring dengan gaya hidup yang berubah – menjadi serba instan – makanan justru dapat berbalik mengganggu kesehatan, dan berujung kepada kematian.

Di salah satu sudut ruang pameran di Hotel Grand Kemang, karya instalasi dari seniman Syakieb Sungkar menarik perhatian banyak pengunjung. Lewat karya berjudul Tribute to Junk Food, para pengunjung pameran ICAD 2025 akan langsung mengernyitkan keningnya.

Bukan tanpa alasan, dua figur penuh warna ditambah dengan tengkorak yang tertidur di atas kasur membawa kesan jenaka sekaligus horor. Dia akan mengajak siapa saja yang melihat Tribute to Junk Food untuk melintasi hubungan figur-figur tersebut.

Baca Juga: Pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro Diperpanjang hingga 15 Oktober 2025

Syakieb mengungkapkan, patung di bagian kiri dan kanan adalah patung-patung merek junk food internasional yang didekonstruksi. Keduanya diberi nama baru yaitu, W dan FCK. Mereka “tersaji” dengan penampilan gendut dan terkesan meleleh karena banyak cairan lemak dan keju yang keluar dari tubuhnya. Sementara itu, tengkorak yang berada di atas kasur hadir sebagai bagian dalam karya instalasi tersebut sebagai simbol kematian.

Dengan begitu, Tribute to Junk Food merupakan sebuah refleksi atas keprihatinan sang seniman melihat banyak orang Indonesia, terutama pemuda dan anak-anak, yang suka mengonsumsi makanan siap saji atau kerap disebut junk food.

“Junk Food adalah makanan tidak segar, yang bahannya datang berbulan-bulan yang lalu dari luar negeri. Makanan itu diawetkan, frozen, dan baru dipanaskan ketika customer membeli,” ujarnya kepada Hypeabis.id.

Bahan-bahan seperti daging awetan, saus, keju, yang disajikan merupakan bahan kelas dua atau kelas tiga. Namun, terasa enak begitu masuk mulut karena diberi banyak penyedap dan garam. Hal ini menyebabkan orang cepat kenyang, tetapi dalam jangka panjang tidak sehat bagi tubuh.

Meskipun begitu, banyak orang tetap memesannya lantaran harga yang murah, praktis, dan mudah didapat mengingat siapa saja dapat memesannya secara daring. Generasi muda yang kerap membeli pun mengonsumsinya sambil tidur-tiduran.

“Karenanya, dalam karya itu, ada tempat tidur di bagian tengah karya,” katanya.

Di satu sisi, tempat tidur yang hadir dalam karya tersebut merupakan simbol kenikmatan. Di sisi lain, juga ancaman karena orang yang hanya bersantai sambil makan makanan cepat saji dapat memiliki berbagai macam penyakit - yang ujungnya membuat umur tidak panjang.

Syakieb membuat karya Tribute to Junk Food yang hadir dalam ICAD 2025 menjadi karya imersif, sehingga ada keterlibatan antara pengunjung dan karya. Dengan begitu, para pencinta seni dapat berinteraksi dengan menyentuh karya, duduk, atau tidur di samping tengkorak.

Dia pun berharap pesan yang ada dalam karya seni instalasi tersebut lebih terasa karena individu dapat melihat dan menikmati karya. Pada akhirnya, terdapat kesadaran untuk mengurangi makanan cepat saji yang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan.

Tribute to Junk Food adalah karya yang khas dengan sang seniman, yang lebih dahulu dikenal sebagai pebisnis dan kurator lukisan. Lulusan Elektro-Telekomunikasi ITB ini memang sering mengeksplorasi tema surealisme, kritik sosial, dan imaji absurd yang menggambarkan realitas urban.

Tribute to Junk Food merupakan salah satu dari banyak karya seni yang hadir dalam pameran ICAD 2025. Pameran ini menyajikan berbagai macam karya dengan tema yang juga beragam.

Dalam catatan tim kurator, pameran seni tahunan ini mengusung tema Earth Society edisi ke-15, sebagai upaya menciptakan ruang reflektif sekaligus spekulatif yang mempertemukan seniman dan desainer dari dalam dan luar negeri. Langkah ini guna membangun kembali hubungan manusia dengan alam dan komunitas.

Dengan fokus terhadap kondisi Asia Tenggara, ICAD 2025 merefleksikan hilangnya ruang hidup yang layak akibat krisis iklim, eksploitasi lahan, perang, dan genosida. Jadi, pameran ini bukan sekadar kampanye, tetapi pendekatan yang mengeksplorasi hubungan antara manusia dan bumi. 

“Melalui keberlanjutan, kepedulian, dan kolektivitas,” demikian tertulis.

Baca Juga: Daftar Seni Instalasi di ICAD 2025 yang Menarik Perhatian Pengunjung

SEBELUMNYA

Potensi Bisnis Aksesori Handmade, Bisa Tembus Omzet Puluhan Juta Rupiah

BERIKUTNYA

Anemia Masih Jadi Masalah Kesehatan Perempuan Indonesia, Begini Cara Mengatasinya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga