Daftar Seni Instalasi di ICAD 2025 yang Menarik Perhatian Pengunjung
12 October 2025 |
14:50 WIB
Pameran Indonesian Contemporary Art & Design 2025 tengah digelar di Hotel Grandkemang, Jakarta. Ajang yang berlangsung hingga 10 November 2025 ini menampilkan beragam karya seni dari para seniman dan desainer. Selain lukisan, karya yang dapat dinikmati secara gratis itu adalah karya instalasi.
Dalam catatan tim kurator, pameran seni tahunan ini mengusung tema Earth Society edisi ke-15, sebagai upaya menciptakan ruang reflektif sekaligus spekulatif yang mempertemukan seniman dan desainer dari dalam dan luar negeri. Langkah ini guna membangun kembali hubungan manusia dengan alam dan komunitas.
Dengan fokus terhadap kondisi Asia Tenggara, ICAD 2025 merefleksikan hilangnya ruang hidup yang layak akibat krisis iklim, eksploitasi lahan, perang, dan genosida. Jadi, pameran ini bukan sekadar kampanye, tetapi pendekatan yang mengeksplorasi hubungan antara manusia dan bumi. “Melalui keberlanjutan, kepedulian, dan kolektivitas,” demikian tertulis.
Baca juga: Resmi Dibuka, ICAD 2025 Hadirkan Dialog Seni & Alam dalam Tema Earth Society
Tim kurator mengungkapkan belajar bersama dengan berbagai macam individu atau kelompok yang kreatif dan juga menghidupkan kembali makna kolektivitas serta melakukan eksplorasi keberlanjutan secara menyeluruh.
Dalam pameran ini, terdapat puluhan seniman yang karyanya hadir. Mereka membuat beragam karya, dari lukisan sampai dengan instalasi. Di antara berbagai karya tersebut, berikut sejumlah instalasi yang tidak boleh dilewatkan oleh Genhype:
Seni instalasi pertama dalam pameran ini berjudul Suluk Manugal karya seniman Harry Suliztiarto. Karya sang seniman menggunakan medium balok, papan kayu, katrol besi, tali, kawat, lonceng kuningan, gabah, dan karung. Ukuran karya secara keseluruhan adalah 205 x 285 x 300 sentimeter.
Karya ini sebagai refleksi laku batin para peladang yang bekerja di tanah kering dan miskin hujan. Manugal bukan sekadar kerja agraris, tetapi perlukaan yang disertai doa dan iman akan ketetapan Tuhan agar benih-benih yang ditanam tumbuh menjadi berkah, sehingga tidak hanya hasil duniawi. Dalam proses manugal, tanah ditusuk dengan kayu runcing. Setelah itu, benih ditabur mengisi lubang-lubang yang tercipta.
Karya seni instalasi lain dalam pemeran ini berjudul Tribute to Junk Food karya seniman Syakieb Sungkar. Dalam instalasi dengan medium resin, kayu, dan kanavas berukuran 600 x 800 sentimeter, dia memvisualisasikan tragedi dengan jenaka.
Dalam karya seninya, Syakieb menampilkan dua sosok parodi bertubuh gemuk tengah meleleh, yang seperti malaikat penjaga seonggok tengkorak manusia terbaring di atas kasur merah berenda. Karya ini merupakan sindiran tajam dari sang seniman terhadap budaya makanan cepat saji dan konsumerisme.
Selubung Kelana dari seniman Aisyah Andamari merupakan karya seni lain yang juga tidak boleh dilewatkan dalam pameran ini. Terbuat dari denim bekas, tekstil daur ulang, dan kain hasil industri, karya seni ini menampilkan persimpangan antara seni, fesyen, dan arsitektur.
Bentuknya yang kerap berevolusi menandakan realitas atas ketidakpastian dari migrasi dan perpindahan, bertransformasi menjadi berbagai variasi selama periode pameran untuk merespons konteks dan skenario yang berbeda sebagai cerminan dari kondisi bumi yang terus berubah.
Hug Me If You Can dari seniman Wisnu Ajitama merupakan karya seni lain yang menarik untuk dilihat. Sang seniman menampilkan representasi bentuk akar pohon yang mendobrak dinding. Kekuatan besar akar sering luput dari sorotan karena letaknya yang tersembunyi. Padahal, peran akar cukup primordial dalam menumbuhkan.
Dengan Hug Me If You Can, Wisnu ingin menghadirkan realitas kehidupan akar rumput lewat penggunaan material-material bekas yang menyimpan cerita, mendekatkannya dengan audiens dalam ruang publik yang berbeda.
Dalam catatan tim kurator, pameran seni tahunan ini mengusung tema Earth Society edisi ke-15, sebagai upaya menciptakan ruang reflektif sekaligus spekulatif yang mempertemukan seniman dan desainer dari dalam dan luar negeri. Langkah ini guna membangun kembali hubungan manusia dengan alam dan komunitas.
Dengan fokus terhadap kondisi Asia Tenggara, ICAD 2025 merefleksikan hilangnya ruang hidup yang layak akibat krisis iklim, eksploitasi lahan, perang, dan genosida. Jadi, pameran ini bukan sekadar kampanye, tetapi pendekatan yang mengeksplorasi hubungan antara manusia dan bumi. “Melalui keberlanjutan, kepedulian, dan kolektivitas,” demikian tertulis.
Baca juga: Resmi Dibuka, ICAD 2025 Hadirkan Dialog Seni & Alam dalam Tema Earth Society
Tim kurator mengungkapkan belajar bersama dengan berbagai macam individu atau kelompok yang kreatif dan juga menghidupkan kembali makna kolektivitas serta melakukan eksplorasi keberlanjutan secara menyeluruh.
Dalam pameran ini, terdapat puluhan seniman yang karyanya hadir. Mereka membuat beragam karya, dari lukisan sampai dengan instalasi. Di antara berbagai karya tersebut, berikut sejumlah instalasi yang tidak boleh dilewatkan oleh Genhype:
1. Suluk Manugal, Harry Suliztiarto
Seni instalasi pertama dalam pameran ini berjudul Suluk Manugal karya seniman Harry Suliztiarto. Karya sang seniman menggunakan medium balok, papan kayu, katrol besi, tali, kawat, lonceng kuningan, gabah, dan karung. Ukuran karya secara keseluruhan adalah 205 x 285 x 300 sentimeter.
Karya berjudul Suluk Manugal dari seniman Harry Suliztiarto (Sumber gambar: Hypeabis.id/ Yudi Supriyanto)
Karya ini sebagai refleksi laku batin para peladang yang bekerja di tanah kering dan miskin hujan. Manugal bukan sekadar kerja agraris, tetapi perlukaan yang disertai doa dan iman akan ketetapan Tuhan agar benih-benih yang ditanam tumbuh menjadi berkah, sehingga tidak hanya hasil duniawi. Dalam proses manugal, tanah ditusuk dengan kayu runcing. Setelah itu, benih ditabur mengisi lubang-lubang yang tercipta.
2. Tribute to Junk Food, Syakieb Sungkar
Karya seni instalasi lain dalam pemeran ini berjudul Tribute to Junk Food karya seniman Syakieb Sungkar. Dalam instalasi dengan medium resin, kayu, dan kanavas berukuran 600 x 800 sentimeter, dia memvisualisasikan tragedi dengan jenaka.Dalam karya seninya, Syakieb menampilkan dua sosok parodi bertubuh gemuk tengah meleleh, yang seperti malaikat penjaga seonggok tengkorak manusia terbaring di atas kasur merah berenda. Karya ini merupakan sindiran tajam dari sang seniman terhadap budaya makanan cepat saji dan konsumerisme.
3. Selubung Kelana, Aisyah Andamari
Selubung Kelana dari seniman Aisyah Andamari merupakan karya seni lain yang juga tidak boleh dilewatkan dalam pameran ini. Terbuat dari denim bekas, tekstil daur ulang, dan kain hasil industri, karya seni ini menampilkan persimpangan antara seni, fesyen, dan arsitektur.
Karya berjudul Selubung Kelana dari seniman Aisyah Andamari (Sumber gambar: Hypeabis.id/ Yudi Supriyanto)
Bentuknya yang kerap berevolusi menandakan realitas atas ketidakpastian dari migrasi dan perpindahan, bertransformasi menjadi berbagai variasi selama periode pameran untuk merespons konteks dan skenario yang berbeda sebagai cerminan dari kondisi bumi yang terus berubah.
4. Hug Me If You Can, Wisnu Ajitama
Hug Me If You Can dari seniman Wisnu Ajitama merupakan karya seni lain yang menarik untuk dilihat. Sang seniman menampilkan representasi bentuk akar pohon yang mendobrak dinding. Kekuatan besar akar sering luput dari sorotan karena letaknya yang tersembunyi. Padahal, peran akar cukup primordial dalam menumbuhkan.Dengan Hug Me If You Can, Wisnu ingin menghadirkan realitas kehidupan akar rumput lewat penggunaan material-material bekas yang menyimpan cerita, mendekatkannya dengan audiens dalam ruang publik yang berbeda.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.