Jakarta Doodle Fest 2025 Soroti Tren Seni dalam Dunia Home Decor
09 October 2025 |
22:24 WIB
Jakarta Doodle Fest (JDF) 2025 kembali hadir sebagai ajang selebrasi seni visual yang dinanti para pecinta doodle art. Festival tahunan yang kini memasuki edisi ke-3 tersebut akan berlangsung selama empat hari penuh, dari 9 Oktober–12 Oktober 2025 di THP, Senayan City, Jakarta.
Mengusung tema “Welcome Home, Doodlers!”, JDF tahun ini menghadirkan semangat baru dengan menyoroti hubungan antara karya seni dan ruang personal, khususnya dalam ranah dekorasi rumah (home decor).
Baca juga: Masuk Musim Semi, Cek 5 Festival Bunga Liar Terindah di Australia Barat
Cofounder JDF, Christine Laifa, menjelaskan bahwa tema tersebut lahir dari kebutuhan untuk memperluas kreativitas para seniman yang terlibat di ajang ini. Selain itu, Christine juga menyebut tema ini dipilih setelah timnya melakukan analisis mendalam terhadap pergerakan tren di pasar global maupun konten kreatif di media sosial.
Dari hasil pengamatan tersebut, muncul satu pola menarik, yakni meningkatnya minat masyarakat terhadap produk home decor bernuansa seni. Oleh karena itu, festival mencoba membaca tren tersebut
"Tren ini sedang naik banget di global. Kemudian, di TikTok juga kan banyak orang mulai memajang karya kecil, seperti toys atau dekorasi unik lain di rumah, yang fungsinya untuk memperindah ruangan," ungkapnya.
Menurutnya, tren ini menunjukkan adanya fenomena menarik terkait pergeseran nilai estetika di kalangan generasi muda. Rumah kini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang ekspresi diri melalui sentuhan artistik.
Doodle art, dengan gaya visual yang spontan dan penuh karakter, menjadi medium ideal untuk menghadirkan cita rasa 'seni' ala anak muda sekarang di ruang-ruang pribadinya. “Home is where your art is,” tegasnya.
Christine lantas mencontohkan bagaimana elemen-elemen kecil seperti sarung bantal bermotif, poster, gelas, atau pot dekoratif dapat menjadi bagian dari identitas rumah yang hidup dan dinamis. Hal menariknya, katanya, produk-produk tersebut juga menjadi ruang bermain bagi para seniman doodle.
Oleh karena itu, tahun ini festivalnya pun mencoba menyoroti tren tersebut. Jika diperhatikan, katanya, tahun ini ada banyak produk-produk home decor yang telah dikemas sedemikian rupa oleh para seniman doodle sehingga menjadi lebih menarik. Aneka produk tersebut pun, katanya, tak hanya menjadi karya yang dinikmati secara visual. Namun, secara khusus juga punya fungsi tertentu.
Melalui JDF 2025, dirinya ingin mendorong para seniman untuk tidak hanya memamerkan karya mereka, tetapi juga memahami arah industri kreatif yang terus berkembang. Dengan semangat kolaboratif dan pendekatan yang lebih aplikatif, JDF ingin menunjukkan bahwa seni bisa hadir di mana saja, bahkan di sudut kecil rumah yang kita tinggali setiap hari.
Christine mengatakan tahun ini JDF menghadirkan lebih dari 50 seniman serta kolektif, baik dalam maupun luar negeri. Beberapa seniman dan studio yang turut berpartisipasi antara lain Bumbu Kentang, Naela Ali, Punopals, Tabi by Marchella FP, Emte, Kathrin Honesta, Arya Mularama, Asobi, Gumbo World, Rool Rama, Sugarshock Syndicate by Shane Tiara, Joyful Odissey, Hompimpah, Zenascopia, Pikiran Gambar, Binatang Approach, hingga Pomiechi.
Di dalam area festival, pengunjung akan disuguhi beragam produk doodle art yang dapat dilihat maupun dibeli, mulai dari gantungan kunci, stiker, kain, hingga berbagai aksesori dekorasi rumah yang dipamerkan di area Design Market.
Tahun ini juga menjadi momen spesial karena LittleDoodle turut ambil bagian untuk pertama kalinya di JDF 2025, dengan menghadirkan zona khusus yang ramah bagi anak dan keluarga.
Hal menarik lain dari JDF 2025 adalah kembalinya konser musikal yang menjadi bagian istimewa dari rangkaian acara. Pertunjukan ini akan kembali menghadirkan kolaborasi antara visual art dan performing arts. Christine berharap hal ini akan menciptakan ruang pertemuan unik yang menyatukan dua bentuk ekspresi kreatif dalam satu panggung.
Tahun ini, musikal tersebut akan mengambil inspirasi dari karya seniman Sherchle yang dikenal dengan gaya visualnya yang khas dan penuh cerita. “Judulnya adalah Musikal Absurd: Hidup Segan, but I'm Not Done yang ceritanya terinspirasi dari doodle-doodle karya Sherchle. Karya Sherchle itu kan unik ya, dia banyak menggambarkan slice of life. Nah, dari situ kemudian kita develop menjadi sebuah cerita,” ungkapnya.
Dalam proses produksinya, tim JDF berkolaborasi dengan Indonesia Kaya dan Jakarta Art House untuk mewujudkan musikal tersebut. Pertunjukan ini nantinya juga akan dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya pada November nanti. Harapannya, pentas ini akan menghadirkan pengalaman seni lintas medium yang memperkaya makna dan daya tarik festival bagi para pengunjung.
JDF edisi ketiga dapat mulai dikunjungi mulai 9 Oktober–12 Oktober 2025 di THP, Senayan City, Jakarta. Bagi pengunjung yang ingin menikmati keseruan Jakarta Doodle Fest 2025, festival ini dibuka pada pukul 12.00 hingga 21.00 WIB di hari kerja dan pukul 10.00 hingga 21.00 WIB pada akhir pekan. Tiket masuk dibanderol seharga Rp25.000 untuk satu hari, sementara tiket terusan empat hari dapat diperoleh dengan harga Rp80.000.
Baca juga: Jakarta Film Week Umumkan Claresta Taufan sebagai Festival Ambassador 2025 di BIFF
Mengusung tema “Welcome Home, Doodlers!”, JDF tahun ini menghadirkan semangat baru dengan menyoroti hubungan antara karya seni dan ruang personal, khususnya dalam ranah dekorasi rumah (home decor).
Baca juga: Masuk Musim Semi, Cek 5 Festival Bunga Liar Terindah di Australia Barat
Cofounder JDF, Christine Laifa, menjelaskan bahwa tema tersebut lahir dari kebutuhan untuk memperluas kreativitas para seniman yang terlibat di ajang ini. Selain itu, Christine juga menyebut tema ini dipilih setelah timnya melakukan analisis mendalam terhadap pergerakan tren di pasar global maupun konten kreatif di media sosial.
Dari hasil pengamatan tersebut, muncul satu pola menarik, yakni meningkatnya minat masyarakat terhadap produk home decor bernuansa seni. Oleh karena itu, festival mencoba membaca tren tersebut
"Tren ini sedang naik banget di global. Kemudian, di TikTok juga kan banyak orang mulai memajang karya kecil, seperti toys atau dekorasi unik lain di rumah, yang fungsinya untuk memperindah ruangan," ungkapnya.

Co-founder of Jakarta Doodle Fest and TFR News Christine Laifa (dari kanan), Head of Marketing & Branding Bank Saqu Willy Apriando, Collaborator & Participating Artist of Jakarta Doodle Fest Sherchle, Host of Sketchy Business Nadya Noor, dan Collaborator & Founder of Arbiaro Leo Pradana berbincang usai konferensi pers Jakarta Doodle Fest (JDF) 2025 di Jakarta, Kamis (9/10/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)
Menurutnya, tren ini menunjukkan adanya fenomena menarik terkait pergeseran nilai estetika di kalangan generasi muda. Rumah kini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang ekspresi diri melalui sentuhan artistik.
Doodle art, dengan gaya visual yang spontan dan penuh karakter, menjadi medium ideal untuk menghadirkan cita rasa 'seni' ala anak muda sekarang di ruang-ruang pribadinya. “Home is where your art is,” tegasnya.
Christine lantas mencontohkan bagaimana elemen-elemen kecil seperti sarung bantal bermotif, poster, gelas, atau pot dekoratif dapat menjadi bagian dari identitas rumah yang hidup dan dinamis. Hal menariknya, katanya, produk-produk tersebut juga menjadi ruang bermain bagi para seniman doodle.
Oleh karena itu, tahun ini festivalnya pun mencoba menyoroti tren tersebut. Jika diperhatikan, katanya, tahun ini ada banyak produk-produk home decor yang telah dikemas sedemikian rupa oleh para seniman doodle sehingga menjadi lebih menarik. Aneka produk tersebut pun, katanya, tak hanya menjadi karya yang dinikmati secara visual. Namun, secara khusus juga punya fungsi tertentu.
Melalui JDF 2025, dirinya ingin mendorong para seniman untuk tidak hanya memamerkan karya mereka, tetapi juga memahami arah industri kreatif yang terus berkembang. Dengan semangat kolaboratif dan pendekatan yang lebih aplikatif, JDF ingin menunjukkan bahwa seni bisa hadir di mana saja, bahkan di sudut kecil rumah yang kita tinggali setiap hari.
Christine mengatakan tahun ini JDF menghadirkan lebih dari 50 seniman serta kolektif, baik dalam maupun luar negeri. Beberapa seniman dan studio yang turut berpartisipasi antara lain Bumbu Kentang, Naela Ali, Punopals, Tabi by Marchella FP, Emte, Kathrin Honesta, Arya Mularama, Asobi, Gumbo World, Rool Rama, Sugarshock Syndicate by Shane Tiara, Joyful Odissey, Hompimpah, Zenascopia, Pikiran Gambar, Binatang Approach, hingga Pomiechi.
Di dalam area festival, pengunjung akan disuguhi beragam produk doodle art yang dapat dilihat maupun dibeli, mulai dari gantungan kunci, stiker, kain, hingga berbagai aksesori dekorasi rumah yang dipamerkan di area Design Market.
Tahun ini juga menjadi momen spesial karena LittleDoodle turut ambil bagian untuk pertama kalinya di JDF 2025, dengan menghadirkan zona khusus yang ramah bagi anak dan keluarga.
Hal menarik lain dari JDF 2025 adalah kembalinya konser musikal yang menjadi bagian istimewa dari rangkaian acara. Pertunjukan ini akan kembali menghadirkan kolaborasi antara visual art dan performing arts. Christine berharap hal ini akan menciptakan ruang pertemuan unik yang menyatukan dua bentuk ekspresi kreatif dalam satu panggung.

Pengunjung melihat produk di Jakarta Doodle Fest (JDF) 2025 di Jakarta, Kamis (9/10/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)
Tahun ini, musikal tersebut akan mengambil inspirasi dari karya seniman Sherchle yang dikenal dengan gaya visualnya yang khas dan penuh cerita. “Judulnya adalah Musikal Absurd: Hidup Segan, but I'm Not Done yang ceritanya terinspirasi dari doodle-doodle karya Sherchle. Karya Sherchle itu kan unik ya, dia banyak menggambarkan slice of life. Nah, dari situ kemudian kita develop menjadi sebuah cerita,” ungkapnya.
Dalam proses produksinya, tim JDF berkolaborasi dengan Indonesia Kaya dan Jakarta Art House untuk mewujudkan musikal tersebut. Pertunjukan ini nantinya juga akan dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya pada November nanti. Harapannya, pentas ini akan menghadirkan pengalaman seni lintas medium yang memperkaya makna dan daya tarik festival bagi para pengunjung.
JDF edisi ketiga dapat mulai dikunjungi mulai 9 Oktober–12 Oktober 2025 di THP, Senayan City, Jakarta. Bagi pengunjung yang ingin menikmati keseruan Jakarta Doodle Fest 2025, festival ini dibuka pada pukul 12.00 hingga 21.00 WIB di hari kerja dan pukul 10.00 hingga 21.00 WIB pada akhir pekan. Tiket masuk dibanderol seharga Rp25.000 untuk satu hari, sementara tiket terusan empat hari dapat diperoleh dengan harga Rp80.000.
Baca juga: Jakarta Film Week Umumkan Claresta Taufan sebagai Festival Ambassador 2025 di BIFF
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.