Jangan Asal, Kenali Bahaya Konsumsi Ikan Bermekuri Tinggi
02 October 2025 |
14:30 WIB
Ikan dikenal sebagai sumber protein berkualitas tinggi yang baik untuk kesehatan. Bahkan, ikan juga mengandung omega-3 yang sangat baik untuk menjaga kesehatan jantung dan fungsi otak. Namun, tidak semua jenis ikan aman dikonsumsi dalam jumlah banyak.
Melansir Rhode Island Department of Health, ikan memang baik untuk dimakan. Akan tetapi perlu diingat, sebagian ikan mengandung kadar merkuri dan racun lain yang lebih tinggi. Merkuri dapat menumpuk dalam tubuh makhluk hidup terutama pada ikan berukuran besar yang sering dijadikan santapan manusia.
Kandungan merkuri inilah yang menjadi perhatian utama ketika membicarakan konsumsi ikan. Merkuri sendiri merupakan logam berat berbahaya yang bisa mengganggu perkembangan otak pada tingkat paparan rendah.
Baca juga: Cek 5 Jenis Ikan Tinggi Merkuri yang Harus Dibatasi Konsumsinya
Zat ini juga bersifat toksik bagi orang dewasa jika terakumulasi dalam kadar tinggi. Hampir semua ikan mengandung merkuri, akan tetapi risikonya berbeda-beda tergantung jenis ikan dan seberapa sering dikonsumsi.
Melansir Better Health, merkuri adalah unsur alami yang dapat ditemukan di udara, air, dan makanan. Paparan terbesar manusia terhadap merkuri biasanya berasal dari makanan khususnya ikan.
Saat ikan kecil menyerap merkuri dari laut atau sungai, zat ini berubah menjadi bentuk yang lebih beracun bernama metilmerkuri. Ketika ikan besar memangsa ikan kecil, kandungan merkuri ikut terakumulasi dalam jaringan tubuhnya terutama otot. Cara memasak seperti dipanggang, digoreng, atau direbus tidak mampu mengurangi kadar merkuri pada ikan.
Dampak paling serius dari merkuri dirasakan oleh ibu hamil dan bayi dalam kandungan. Janin sangat rentan terhadap efek merkuri karena zat ini dapat mengganggu perkembangan otak dan sistem saraf. Merkuri dari ikan yang dikonsumsi ibu bisa masuk ke janin melalui plasenta yang berpotensi menyebabkan keterlambatan tumbuh kembang.
Efeknya bisa terlihat saat anak mengalami gangguan berbicara, kesulitan berjalan, atau masalah pada memori dan konsentrasi. Melansir Harvard School of Public Health, paparan merkuri dosis tinggi juga bisa menyebabkan kelelahan, kelemahan otot, pusing, hingga kerusakan organ penting seperti ginjal dan hati.
Sementara itu, paparan rendah tetapi terus-menerus dapat mengganggu fungsi otak secara perlahan. Tidak hanya bayi dan janin, anak-anak serta orang dewasa juga bisa terkena dampaknya.
Meski begitu, sesekali mengonsumsi ikan dengan kadar merkuri tinggi tidak berbahaya. Masalah baru muncul ketika jenis ikan tersebut dimakan terlalu sering sehingga terjadi penumpukan merkuri dalam darah. Meskipun prosesnya berlangsung perlahan, untungnya, tubuh manusia akan berusaha membuang merkuri dari tubuh melalui urin dan feses.
Agar tetap bisa menikmati manfaat ikan tanpa risiko, penting untuk memilih jenis ikan dengan kadar merkuri rendah. Beberapa contoh ikan yang lebih aman antara lain salmon, tuna kaleng, serta kerang-kerangan seperti udang, lobster, dan tiram. Jenis ikan ini juga tetap kaya akan protein, omega-3, dan nutrisi lain yang mendukung kesehatan tubuh dengan risiko merkuri yang jauh lebih kecil.
Melansir Rhode Island Department of Health, ikan memang baik untuk dimakan. Akan tetapi perlu diingat, sebagian ikan mengandung kadar merkuri dan racun lain yang lebih tinggi. Merkuri dapat menumpuk dalam tubuh makhluk hidup terutama pada ikan berukuran besar yang sering dijadikan santapan manusia.
Kandungan merkuri inilah yang menjadi perhatian utama ketika membicarakan konsumsi ikan. Merkuri sendiri merupakan logam berat berbahaya yang bisa mengganggu perkembangan otak pada tingkat paparan rendah.
Baca juga: Cek 5 Jenis Ikan Tinggi Merkuri yang Harus Dibatasi Konsumsinya
Zat ini juga bersifat toksik bagi orang dewasa jika terakumulasi dalam kadar tinggi. Hampir semua ikan mengandung merkuri, akan tetapi risikonya berbeda-beda tergantung jenis ikan dan seberapa sering dikonsumsi.
Melansir Better Health, merkuri adalah unsur alami yang dapat ditemukan di udara, air, dan makanan. Paparan terbesar manusia terhadap merkuri biasanya berasal dari makanan khususnya ikan.
Saat ikan kecil menyerap merkuri dari laut atau sungai, zat ini berubah menjadi bentuk yang lebih beracun bernama metilmerkuri. Ketika ikan besar memangsa ikan kecil, kandungan merkuri ikut terakumulasi dalam jaringan tubuhnya terutama otot. Cara memasak seperti dipanggang, digoreng, atau direbus tidak mampu mengurangi kadar merkuri pada ikan.
Ibu Hamil & Bayi Paling Berisiko

Ilustrasi ikan bermerkuri (Sumber gambar: Unsplash)
Dampak paling serius dari merkuri dirasakan oleh ibu hamil dan bayi dalam kandungan. Janin sangat rentan terhadap efek merkuri karena zat ini dapat mengganggu perkembangan otak dan sistem saraf. Merkuri dari ikan yang dikonsumsi ibu bisa masuk ke janin melalui plasenta yang berpotensi menyebabkan keterlambatan tumbuh kembang.
Efeknya bisa terlihat saat anak mengalami gangguan berbicara, kesulitan berjalan, atau masalah pada memori dan konsentrasi. Melansir Harvard School of Public Health, paparan merkuri dosis tinggi juga bisa menyebabkan kelelahan, kelemahan otot, pusing, hingga kerusakan organ penting seperti ginjal dan hati.
Sementara itu, paparan rendah tetapi terus-menerus dapat mengganggu fungsi otak secara perlahan. Tidak hanya bayi dan janin, anak-anak serta orang dewasa juga bisa terkena dampaknya.
Meski begitu, sesekali mengonsumsi ikan dengan kadar merkuri tinggi tidak berbahaya. Masalah baru muncul ketika jenis ikan tersebut dimakan terlalu sering sehingga terjadi penumpukan merkuri dalam darah. Meskipun prosesnya berlangsung perlahan, untungnya, tubuh manusia akan berusaha membuang merkuri dari tubuh melalui urin dan feses.
Agar tetap bisa menikmati manfaat ikan tanpa risiko, penting untuk memilih jenis ikan dengan kadar merkuri rendah. Beberapa contoh ikan yang lebih aman antara lain salmon, tuna kaleng, serta kerang-kerangan seperti udang, lobster, dan tiram. Jenis ikan ini juga tetap kaya akan protein, omega-3, dan nutrisi lain yang mendukung kesehatan tubuh dengan risiko merkuri yang jauh lebih kecil.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.